SLIDER

PUTI CENIZA SAPPHIRA (CHICA): LIFELONG LEARNER, PUSTAKALANA’S FOUNDER


Beberapa waktu lalu Irna sempat mewawancarai Puti Ceniza Sapphira atau biasa dipanggil Chica dan memintanya bercerita tentang bagaimana kesehariannya dan kisah dibalik hadirnya Pustaka Kelana, sebuah perpustakaan di Bandung yang dikhususkan untuk anak-anak.

Chicha lahir dan besar di Jakarta, namun kuliah dan tinggal di Bandung selama 4.5 tahun. Ketika lulus kuliah dengan gelar sarjana sains, Chica merasa tidak menemukan passionnya di bidang keilmuan yang Ia geluti, yakni Oseanografi. Ini yang menyebabkan Ia kembali ke Jakarta untuk bekerja sebagai marketing researcher sembari melanjutkan S2 di bidang Manajemen Komunikasi. Dari pengalaman bekerja juga, Chica menyadari bahwa Ia tidak cocok tinggal di Jakarta dengan segala hiruk pikuknya, dan tidak cocok jadi pekerja kantoran.

Beberapa bulan sebelum menikah, Chicha memutuskan untuk resign, menikah, pindah ke Bandung, dan menjadi Ibu rumah tangga. Keputusan ini adalah permintaan suaminya sebagai “syarat” menjadi istrinya. Namun, suami Chicha selalu menekankan, walaupun di rumah, Chicha tetap dapat (dan harus) mengaktualisasi diri sebagai seorang pribadi ~ meski peran sebagai Ibu dan istri adalah yang utama. Di tahun 2010-2015, Chicha sekeluarga sempat merantau ke New Bedford, AS, tapi sejak Juli 2015 hingga kini, Ia kembali tinggal di Bandung.

Bagaimana keseharian mengatur waktu antara menjadi ibu dan berkarya menjalankan Pustakalana?
Mengatur waktu agar dapat menyelaraskan peran sebagai diri dan Ibu menurut saya adalah hal yang paling tricky. Karena dalam tiap perkembangan anak, otomatis ada ritme yang berubah. Kalau tidak diselaraskan, akan ada satu hal yang terbengkalai dan akhirnya bikin emosi jiwa. Menemukan keseimbangan ini butuh proses, dan dalam kasus saya, saya akan menyesuaikan dengan ritme Azka dan Khalif. Karena sejak awal saya dan suami tidak menggunakan ART dan nanny, maka semua urusan rumah tangga dipegang sendiri oleh kami. Walau bisa dibilang 90% anak dan rumah adalah tugas utama saya -  namun kalau udah gak ke-handle banget, seminggu sekali bisa dipastikan panggil jasa bebersih online, demi kewarasan jiwa dan raga…! Haha.
Tiap harinya saya memiliki waktu “free time” selama tiga jam, yakni ketika Azka dan Khalif sekolah dari jam 08.00 - 10.45. Khalif masih TK B dan Azka kelas 3 SD. Jadi pagi hari setelah bangun tidur dengan waktu hening sekejap (stretching, sholat, bikin kopi), saya menyiapkan makan pagi, bekal, mengantar anak-anak, dan setelah itu saya bisa ada waktu luang. Biasanya sih either ke Pustakalana, meeting atau me time; ke pasar, belanja, bersepeda, ikutan workshop, olahraga, dll. Saya tidak “berkewajiban” ke Pustakalana setiap hari, karena sudah ada manager harian/librarian yang bertugas tiap harinya. Namun, 2x seminggu saya alokasikan untuk ke Pustakalana untuk kegiatan-kegiatannya dan meeting.
Sejak Juli 2018, suami saya pindah kantor menjadi home office, alias ruang kantornya yaa di rumah. Karena inilah saya jadi lebih leluasa untuk meninggalkan Azka dan Khalif di siang - sore hari kalau diperlukan karena ada beberapa kegiatan yang memang dilakukan hanya bisa dari siang ke sore.  Saya bersyukur karena suami saya sangat bisa diandalkan untuk main, masak, dan child-handling.   
Di waktu-waktu tertentu, setelah anak-anak tidur, jika diperlukan maka saya akan bekerja di depan komputer 1-2 jam.  

Apa yang memotivasi dan menginspirasi pertama kali untuk membuat Pustakalana dan apa yang mau dicapai?
Pengalaman merantau 5 tahun di Amerika membuka mata saya bahwasanya literasi anak usia dini ini sangat penting sekali, dan keberadaan perpustakaan yang nyaman dan ramah anak, berada di tengah kota, dengan buku-buku berkualitas, serta program yang aktif itu amatlah menunjang persepsi anak akan buku dan mengembangkan minat membaca sedari dini. Kecintaan terhadap buku dan kegiatan reading for pleasure ini lah yang turut menentukan dan membentuk pribadi seseorang sebagai a lifelong learner. Singkatnya, membaca adalah sebuah keterampilan yang perlu ditanamkan dari dini.
Kadang orang jadi salah kaprah, akan mengkaitkan dengan KEMAMPUAN MEMBACA sedari dini artinya anak belajar membaca, padahal bukan itu; KETERAMPILAN MEMBACA dan kemampuan membaca adalah dua hal yang berbeda. Semua orang dapat membaca pada akhirnya, namun perihal memahami konteks bahan bacaan is a whole different story.  
"There are many little ways to enlarge your child's world. Love of books is the best of all." - Jackie Kennedy.
Motivasi awal hanya agar anak-anak saya tidak kehilangan kebiasaan untuk mengunjungi perpustakaan secara rutin serta mendapat akses ke buku-buku anak berkualitas. Namun kemudian bigger picture-nya ingin agar keberadaan Pustakalana sebagai perpustakaan komunitas yang ramah anak dan keluarga dapat menjadi inspirasi bagi perpustakaan komunitas atau taman bacaan anak lainnya di pelosok negeri untuk dapat menjalankan hal serupa, sesuai dengan kebutuhan komunitas/ “segmen” yang dituju.
Ada banyak cara menjadikan seorang anak sebagai pembelajar sejati, kecintaan terhadap membaca dan buku adalah salah satunya.
Menurut Chicha, bagaimana sih tips menumbuhkan minat baca di rumah, untuk anak termasuk orang tuanya?
  1. Start from early
Sedari Ibu mengandung di usia kehamilan 4 bulan, janin sudah mulai bisa mendengar. Jadi Ibu selain membaca buku dalam hati, bisa melakukan read aloud atau membaca nyaring. Baca buku apa saja dan cerita apa saja.
  1. Jadikan buku dan pengalaman membaca menyenangkan dan dinantikan.
Ada sebuah quotes dari Emilie Buchwald — 'Children are made readers on the laps of their parents.' Bahwasanya 15 menit dalam sehari adalah waktu minimum yang dianjurkan bagi orangtua dan caregivers lain untuk dapat membaca nyaring ke anak. Special time for reading aloud for your children is a must! Kalau masih bayi/ toddlers, lakukan dengan cara bernyanyi lagu-lagu yang berima. Lagu tradisional Indonesia, nursery rhymes, dll.
  1. Ada buku di mana-mana
Dengan adanya rak buku di kamar, di ruang tengah, di ruang kerja, buku jadi dapat mudah ditemui dan dilihat oleh anak. Keberadaan pojok khusus untuk membaca (reading nook) juga akan membantu mereka merasa nyaman ketika membaca. Kalau memungkinkan di mobil pun ada keranjang buku.
  1. Keterampilan literasi anak usia dini itu melingkupi: bercerita, bermain, bernyanyi, membaca, dan menulis.
Jadi lakukan kelima hal tersebut saat ber-quality time dengan anak. Banyak sekali book-based activities yang bisa dilakukan. Saya sangat senang melakukan kegiatan bermain yang berdasarkan dari buku; art and crafts, play pretend, scavenger hunt, sensory play, science experiments, dll.
  1. Alokasikan waktu seminggu atau dua minggu sekali mengunjungi perpustakaan.
  2. Jadilah role model.
Orang tuanya juga harus rajin membaca yaa. Sisihkan 1 hari membaca, misal 1 chapter atau targetkan 1 bulan selesaikan berapa buku. Kalau orang tua membaca menggunakan gadget atau e-book, maka anak perlu diberi pemahaman bahwasanya orang tua sedang membaca dan bukan “main hape”.  
Adakah saran untuk memilih buku yang baik untuk anak dan  syarat tertentu yang membuat buku tersebut bisa dikategorikan sebagai buku yang baik untuk anak?
  1. Pilih buku dengan format yang sesuai usia anak.
Yang saya perhatikan dari mayoritas ortu di Indonesia khususnya, mereka lebih menaruh perhatian pada activity book seperti buku-buku berhitung dan calistung princess/Disney, buku-buku dengan muatan keagamaan yang terkadang belum pas untuk diberikan pada anak di usia-usia awal (Kisah Nabi gitu nggak papa, tapi pilihlah format yang pas. Misal format boardbooks untuk anak batita dan bukan buku yang tebal dan banyak kata-kata “rumit”).
Pada umumnya untuk usia dini 1- 8 tahun, pilihlah buku-buku cerita bergambar atau picture books yang berkualitas baik secara ilustrasi dan secara konten/ teks. Teks yang minim jangan merasa rugi! Karena di picture book sudah diatur banyaknya kata per halaman, dan ilustrasi pada picture book yang bagus mengasah visual literacy mereka untuk dapat “membaca gambar”.
  1. Memilih buku yang baik untuk anak harus dilandasi dengan dua hal: yakni kesesuaian buku tersebut dengan tahap perkembangan anak dan topik atau tema buku.
Buku-buku itu dibuat ada jenjangnya, misalnya kalau menurut Oxford Owl:
    • Introduction to reading (1-2 tahun): concept books - dengan 1 kata per buku, buku dengan warna kontras, bentuk geometri, banyak nyanyian (nursery rhymes).
    • Early reader (3-4 tahun) -  senang mendengarkan cerita, mulai mengenal huruf dan dapat membaca beberapa kata sederhana.
    • Growing reader (4-5 tahun) -  senang mendengarkan cerita lebih panjang dan mengasah kemampuan membaca mereka.  
    • Gaining confidence (5-6 tahun) - mulai dapat membaca sendiri buku dengan teks sederhana.  
    • Becoming independent (6-7 tahun) - dapat membaca sendiri dengan vocabulary yang lebih luas
    • Independent reader (7-8 tahun) -  dapat membaca sendiri buku berchapter.
Setiap jenjang ini ada kriteria bukunya; komposisi antara teks/ jumlah kata dan ilustrasi serta topiknya.
Ohya, usia di sini sebagai usia pada umumnya aja ya, jangan dijadikan beban semisal anaknya usia 7 tahun tapi masih tahap di “confidence”, ya tidak apa-apa. Karena kemampuan tiap anak akan berbeda. Topiknya menyesuaikan dengan topik yang diminati anak atau yang diperlukan anak.
Buku adalah jendela bagi anak dan sekaligus cermin bagi mereka. Mereka harus dapat relate dengan topik dari buku, dan sebagai jendela untuk dapat terpapar hal-hal/ konsep baru.
Kalau hunting buku biasanya di mana?
Untuk hunting buku dan bacaan berkualitas, ada aplikasi bernama LET’S READ yang dapat diakses secara gratis. Saya juga sering hunting buku di BBW, lalu rajin-rajin ke toko buku aja, semakin bacain banyak buku untuk anak jadi tau mana buku anak yang berkualitas dan yang kurang. Saya juga update pengetahuan mengenai buku anak di luar negeri melalui readbrightly.com.
Mau dong rekomendasi Chicha soal perpustakaan anak di Jakarta dan Bandung yang menyediakan buku-buku berkualitas?
Di Jakarta:
  • Perpustakaan DKI Cikini/ Taman Ismail Marzuki  - buat saya, picture book di sana cukup oke untuk “standar” perpustakaan kota.
  • Rimba Baca
  • Perpustakaan Nasional yang menyenangkan sekali suasananya.
Di Bandung:

  • Pustakalana (tentunya hehe) Jl. Taman Cibeunying Selatan
  • Dispusip (Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah) Jl.Seram
  • Perpustakaan Gasibu
  • Library in the Box Bagusrangin
  • Goethe Bandung - Jl. Riau
  • Elmuloka - Gagas Ceria Jl. Malabar Kineruku (bukan perpustakaan anak tapi ada buku-buku anak) - Jl. Hegarmanah
  • Dispusipda Provinsi Jabar - Jl. Soekarno Hatta.

MONICA CHRISTA: LADYBOSS & PASSIONATE COOK


Monica Christa adalah seorang Mama dari Argya (2 tahun), dan Business Director dari BLP Beauty, and a passionate cook! Yuk ngobrol seputar kesehariannya..

Hi Christa! Boleh ceritakan perjalanan karir kamu mulai dari kuliah sampai akhirnya memutuskan bergabung dengan BLP bersama kakak kamu?
Saya kuliah di Prasetiya Mulya dan mengambil jurusan Marketing Communication. Sejak lulus sempat kerja 1 tahun, sebelum akhirnya resign karena hamil. Setelah Argya umur 6 bulan, saya mencoba untuk berbisnis makanan camilan, waktu itu bisnis saya sudah lumayan berkembang, supply ke beberapa kafe dan dijual di Kem Chicks juga. Sampai akhirnya di bulan Juni 2016, Kakak saya memulai BLP Beauty. Tidak disangka, BLP berkembang dengan sangat pesat, antusiasme pasar begitu besar hingga website BLP sempat crash beberapa kali dan Lipcoat habis dalam waktu singkat. Waktu itu BLP Team baru berisi 4 orang, akhirnya di bulan Agustus 2016, Kakak saya mengajak saya untuk bersama-sama mengembangkan BLP Beauty sebagai Business Director. Sejak saat itu saya fokus membesarkan brand BLP Beauty bersama BLP Team.

Menurut kamu, apa sih suka dukanya jadi entrepreneur?
Sebagai seorang entrepreneur,  kita memiliki waktu bekerja yang lebih flexible, kita bisa atur waktu cuti dan mobile working kalau misalnya anak perlu ke dokter, ada acara di sekolah dll. Tapi di sisi lain, kami memiliki jam kerja 24 jam, sering tengah malam whatsapp masih rame karena ada yang perlu didiskusikan. Kadang weekend juga harus lembur karena banyak hal yang masih harus dikerjakan sendiri.
Menjalankan bisnis itu rasanya mirip (walaupun tentu gak sama)  dengan membesarkan anak sih, terharu melihat perkembangannya dari cuma ruangan sepetak sampai sekarang sudah bisa pindah ke ruko 3 lantai. Kalau lagi ada masalah, ya stres nya kayak lagi menghadapi anak tantrum gitu deh :D

Apakah 3 value / sifat terpenting yang diperlukan untuk seorang Ibu yang ingin memulai bisnis sendiri, beserta alasannya?
  1. Management Skill, membagi waktu serta perhatian antara pekerjaan dan rumah itu gak mudah, perlu pintar-pintar atur waktu dan bikin skala prioritas. Cari strategi yang paling nyaman untuk diri sendiri, misalnya karena saya paling gak bisa tidur malam, jadi saya harus bangun subuh untuk bisa menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal atau beberes rumah atau sekedar me time.  Selain itu saya selalu membuat jadwal menu makanan selama seminggu kedepan, karena saya cuma punya waktu belanja di weekend. Waktu Argya belum sekolah, saya juga membuatkan jadwal sensory play setiap hari dan menyiapkan bahan-bahan sebelum berangkat ke kantor.
  2. Flexibility, Hidup wanita bekerja itu jauh dari kata sempurna. Jangan dibawa stres kalau ada kondisi di kantor atau di rumah gak sempurna seperti yang kita inginkan. Be flexible, if plan A didn’t work, there are 25 more letters.
  3. Endurance, baik dari segi fisik maupun mental. Kita harus bertahan, juggling setiap hari antara kerjaan dan rumah. Perlu kondisi fisik yang fit yang mental yang stabil, karena yang paling berat itu kalau kita sudah sakit. Beban tanggung jawabnya bukan hanya dengan orang rumah, tapi juga urusan kantor.

Setuju sama poin-poin tersebut! Dengan segala kesibukan kamu, jadi penasaran gimana caranya kamu membagi waktu. Boleh ceritakan A Day in the Life of Monica Christa?
Pk 05.00, Bangun, biasanya untuk me-time, beberes atau kerja kalau ada yang perlu dikerjakan.
Pk 07.00 Menyiapkan sarapan/bekal untuk anak & suami
Pk 07.30 Sarapan bersama sambil main/ngobrol
Pk 08.30 Mandi & Dandan (Kalau pagi, Argya mandi sama Ayahnya)
Pk 09.00 Menyiapkan Argya berangkat sekolah (masuk siang)
Pk 09.15 Berangkat ke kantor naik KRL/naik mobil bareng suami.
Pk 10.00-Pk 17.00 Sampe di kantor, lalu 70% nya kerja, sisanya buat bercanda :D
PK 17.15 Pulang (most likely selalu teng-go, kecuali kalau banyak deadline & meeting)
Pk 18.15 Sampai di rumah, lalu main
PK 19.00 Masak untuk makan malam, lalu mandi
Pk 19.30 Makan malam saya & suami (Argya sudah makan Pk 18.00)
Pk 20.00 Naik ke kamar untuk cuci-cuci, sikat gigi, baca buku & ngobrol
Pk 21.00 Kelonin Argya (biasanya sih saya ikut tidur juga).


Ini jadwal kalau lagi slow, kalau lagi banyak event atau launching product sih nggak sesantai ini.

Untuk Christa, apa sih hal yang paling menyenangkan dari menjadi seorang Ibu?
Rasa dibutuhkan dan dicintai yang luar biasa besar dari anak. Teriakan gembiranya  Argya setiap saya pulang kantor itu, gak tergantikan :)

What do you think are the most challenging part of being a mother?
Melatih kesabaran, karena saya orangnya gak sabaran. Kadang saya suka “kelepasan marah” kalau lagi banyak pikiran dan Argya rewel/tantrum. Di saat seperti itu saya paling merasa gagal jadi Ibu yang baik. Cara menangani nya biasanya saya menjauh dulu, begitu sudah tenang baru kami SALING meminta maaf dan saya tanya kenapa Argya nangis dan kasih penjelasan kenapa Ibu marah.

Bagaimana cara Christa meluangkan me time ditengah kesibukannya?
Wah penting banget! Kalau sehari-hari, paling sempetnya cuma browsing social media atau nonton Netflix subuh-subuh sebelum pada bangun. Tapi karena di kantor BLP suasana kerjanya juga menyenangkan, jadi terasa kayak me time juga setiap hari. Selain itu yang gak kalah penting adalah quality time sama suami. Kami rutin “kencan” minimal 2 minggu sekali dan liburan berdua setahun sekali sejak Argya disapih.


Kami perhatikan, kamu rajin sekali memasak untuk keluarga. Darimana kamu mendapatkan tenaga dan inspirasi untuk rajin memasak di rumah despite your busy schedule?
Buat saya masak itu hobi dan hiburan, jadi biasanya kalau lagi banyak pikiran malah makin rajin masak hahahhaahah. Inspirasi paling besar adalah Ibu saya. Beliau pinter sekali masak, dan buat saya kalau saya berhasil re-create masakan Ibu itu kepuasannya jadi double, apalagi kalau suami dan anak makannya lahap, capeknya jadi gak kerasa!


Boleh share bagaimana cara kamu mengatur menu makanan di rumah? Lalu adakah tips&trick dalam memilih menu yang efesien dan cepat untuk ibu bekerja?
Tips yang bisa saya kasih antara lain:
  1. Untuk sarapan, pilih menu yang paling simple dan cepat.
  2. Dalam 1 minggu, bikin variasi makanan yang bahan dasar utamanya sama, jadi belanja lebih hemat dan cepat.
  3. Apabila hanya bisa belanja 1 minggu sekali, gunakan bahan-bahan yang gampang rusak di awal minggu, misalnya sayur bayam, kangkung, toge, dll. Biasanya kalau sudah hari kamis/jumat, menu nya sekitar sop-sop an yang bahannya gak menggunakan sayur hijau.
  4. Setelah belanja, bagi bahan-bahan mentah (terutama daging, ayam & seafood) sesuai porsi sekali makan ke dalam container, supaya lebih awet dan kualitasnya terjaga.
  5. Masak beberapa stock makanan yang bisa disimpan di kulkas pada waktu weekend, jadi saat weekdays proses memasaknya lebih cepat. Misal, bikin stock ayam ungkep, empal, tahu/tempe bacem, kaldu, nugget, dll.  
  6. Follow instagram para ibu-ibu yang suka share masakan dan resep untuk inspirasi.
  7. Kalau badan & pikiran sudah capek banget, gak usah dipaksakan masak. Go FOOD to the rescue!


Last but not least, apakah value Christa dalam menjalani keseharian sebagai ibu yang produktif?

Sebagai Ibu bekerja, guilty feeling adalah perasaan yang tidak bisa dihindari setiap harinya. Tapi yang harus diingat, walaupun tidak bersama anak 24 jam sehari, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menggantikan posisi Ibu di hati anak-anak. Dengan melihat Ibunya produktif, anak juga belajar mengenai kerja keras dan kemandirian. Yang terpenting adalah bagaimana kita memaksimalkan waktu yang kita punya untuk bonding dengan keluarga.

FIRST (Freedom, Independence, Responsibility, Structure, & Teamwork) By Kinderhaven Montessori Preschool



Kali ini saya mau share suatu campaign yang bermanfaat banget untuk kita sebagai orang tua. Dulu saat anak 1 saya terapkan ini semua dan jujur perjalanan parenting saya itu lumayan smooth dan tanpa drama. Memang pas dapat anak kedua dengan tempramen yang jauh berbeda plus, jadwal dan segala keteraturan yang dibuat di awal berantakan, karena bayi masih belum jelas rutinitasnya. Dengan ketidakteraturan tersebut, pekerjaan keteteran, anak juga cenderung lebih cranky, saya lebih cape dan sebagainya. Sehingga untuk membangkitkan semangat saya mulai rajin lagi ikut kelas-kelas parenting serta membaca berbagai macam artikel seputar anak. 
Ada beberapa hal yang saya temukan mirip, dan saat menemukan campaign dari Kinderhaven Montessori Preschool ini menggambarkan sebagian besar value yang harus kita terapkan pada anak usia dini. FIRST itu terdiri dari Freedom, Independence, Responsibility, Structure, and Teamwork. Sebuah framework sekolah, yang sejalan dengan cara mendidik kami di rumah, dan yang mustinya ada di setiap rumah juga tentunya. Berikut aku akan jelaskan dengan detail sedikit mengenai Kinderhaven Preschool serta aplikasi campaign ini di rumah ya.

Kinderhaven Preschool sendiri merupakan preschool berbasis Montessori, jadi untuk yang paham Montessori pasti gak asing ya sama framework mereka. Aku sendiri pernah ikut beberapa kelas how to apply Montessori at home dan sangat tertarik karena memang cara mengajarkannya tidak mendikte, namun menerapkan tanggung jawab, kemandirian dan semuanya dalam kehidupan sehari-hari. “Montessori is an education of independence, preparing not just for school but for life!”.

Sadar gak sih saat kita punya anak, biasanya anak pertama itu kita suka over protective? Gak boleh pegang ini itu, gak boleh manjat, gak boleh minum pakai gelas kaca pakai gelas plastik aja, dsb. tanpa disadari, larangan larangan kita itu menghambat tumbuh kembang serta proses belajar anak lho. Anak itu baiknya diberikan kebebasan, alias Freedom itu tadi. Kebebaasan untuk eksplorasi, kebebebasan untuk mencoba hal baru, diberikan kepercayaan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. 

Dalam metode Montessori, biasanya anak usia 2 tahun sudah diberi kepercayaan untuk memakai sendok, gelas, piring kaca atau keramik layaknya orang dewasa. Gak pakai yang plastik karena kita takut anaknya menjatuhkan. Percaya deh kalau diajarkan dengan seksama tentu, anak jadi merasa bertanggung jawab dan lebih hati-hati. Seringkali freedom memang berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

Metode Montessori juga memakai rak-rak terbuka yang mudah dijangkau oleh anak. Ini memberikan kebebasan untuk anak pada hari itu ia sedang ingin belajar apa. Misalkan pada hari itu ia tertarik dengan balok-balok, atau practical life skill menuang. Anak yang diberikan kebebasan untuk memilih, mempunyai konsentrasi dan fokus yang lebih baik, karena memang itu sensitive periodnya alias otaknya sedang sangat tertarik mempelajari hal tersebut.

Dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan tentu anak juga lebih mandiri. Anak bisa menyiapkan makanannya sendiri, makan sendiri menggunakan sendok karena fine motor skillnya yang baik. Membersihkan dan mengembalikan semua ke tempatnya. Memakai baju sendiri, sepatu sendiri, semua itu diajarkan di kelas Montessori. Semua rak dan tempat penyimpanannya rendah dan terbuka tadi, sehingga anak sudah tau dimana letak barang-barangnya berada. 

Banyak orang yang memasukan anaknya ke sekolah Montessori pasti bertanya’tanya, “Lho kok malah diajarin tuang menuang, sendok menyendok? Itu mah di rumah aja”. Ya selain di rumah memang harus dilatih, tapi aktivitas practical life skill seperti ini menyiapkan anak untuk menulis lho kedepannya. Anak yang tidak memiliki fine motor skill yang baik, akan mengalami kesulitan menulis kedepannya. Jadi kegiatan yang kelihatannya sepele ini sangat amat penting diterapkan terutama untuk usia dini. 

Selain itu structure penting sekali diterapkan. Misalkan pagi hari adalah waktunya bermain bebas dikelas, namun saat jam menunjukan pukul 10, waktunya beres-beres dan siap-siap makan. Mau di sekolah maupun rumah, structure itu penting sekali dimasukan kedalam keseharian anak. Anak yang mengenal structure akan lebih dapat mengendalikan emosi karena sudah ada ekspektasi akan kegiatan sehari-harinya. 

Contohnya Dio anakku yang pertama. Dulunya mudah sekali tantrum, terutama karena saya bekerja dari rumah, jadi perhatiannya suka terpecah-pecah. Namun setelah itu saya memiliki jadwal untuk saya, serta jadwal untuk Dio juga. Di jadwal Dio tersebut bentuknya gambar, sehingga ia tau kapan waktunya ia bermain bersama saya, kapan waktunya ia bermain sendiri namun saya kerja disebelahnya, dsb. Sejak ada jadwal tersebut, tantrumnya berkurang, dan sayapun bisa bekerja dengan lebih tenang. Struktur ini penting sekali untuk dimiliki di rumah maupun sekolah.

Nah teamwork gak kalah penting nih. Satu kalimat yang selalu diulang-ulang hampir di semua kelas parenting adalah “Kolaborasi Bukan Kompetisi”. Anak diajarkan sedari dini untuk berkolaborasi dengan sesama, bukanlah untuk saing-saingan. Kita hanya boleh berkompetisi dengan diri sendiri sebenarnya. Mentalitas ini perlu sekali dimiliki oleh orang dewasa juga sebenarnya. Sekarang orang dewasa banyak kita lihat orang saling menjatuhkan, licik, tidak jujur, dsb banyak muncul karena sifat sirik ataupun kompetitif yang berlebihan. Padahal kita dapat menjadi orang yang lebih baik apabila kita bekerjasama, ataupun kesuksesan orang memotivasi kita menjadi orang yang lebih baik, tanpa menjatuhkan orang lain. 

Framework FIRST (Freedom, Independence, Responsibility, Structure, & Teamwork) ini sangat sejalan dengan cara kami sekeluarga mendidik dirumah, dan menjadi reminder untuk terus menyediakan lingkungan kondusif di rumah untuk anak-anak kami. Sehingga senang sekali berikut serta di campaign ini. Yuk ikutan share campaign ini atau pengalaman kamu bersama anak, yang sejalan dengan framework ini menggunakan hashtag #FIRSTbyKH dan jangan lupa untuk tag @kinderhaven_id Semoga bermanfaat!

·
OLDER
© Productive Mamas Blog