SLIDER

ONE-DAY-TRIP KE DUSUN BAMBU, LEMBANG


Rasanya sudah cukup lama saya (Irna) tidak memberikan Place Recommendation. Beberapa bulan kemarin memang kami sekeluarga cukup sibuk, lalu disambung dengan kondisi kehamilan saya yang kurang baik. Saya mengalami placenta previa sehingga harus bedrest total di rumah sakit selama 3 hari dan dilanjutkan di rumah sampai hampir 2 minggu. Anak-anak pun bolak balik sakit flu dan batuk karena saling tular menular. Disaat kondisi semuanya sudah membaik, kami memutuskan untuk berjalan-jalan lagi untuk melepas penat. Kali ini kami melakukan one-day-trip ke Dusun Bambu, Lembang. Sudah lama sekali saya ingin mengunjungi tempat ini karena membaca review yang bagus dan foto-foto yang menarik dari internet. Ternyata memang tempatnya sungguh memuaskan karena banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan untuk seluruh keluarga.

Seperti biasa kami memilih hari kerja untuk menghindari macet dan padatnya pengunjung. Kami berangkat sehabis sarapan sekitar pukul 9 pagi. Tetapi ternyata toll JORR sampai Bekasi cukup padat jadi kita baru sampai Bandung sekitar jam 12.30. Dengan dibantu waze, kami mencari jalan ke Dusun Bambu yang ternyata jaraknya cukup jauh dari tol Pasteur. Akhirnya kami sampai kira-kira jam 1.30 siang. Ketika sampai perut sudah sangat lapar dan anak-anak pun sudah agak cranky karena bosan di jalan. Tetapi begitu melihat tempatnya yang bagus dan udara yang segar mereka langsung semangat. Apalagi ketika menaiki shuttle car warna-warni yang membawa kita dari pintu masuk sampai ke area restaurant. Area Dusun Bambu ini memang sangat luas, jadi mereka menyediakan shuttle car untuk menuju ke beberapa area yang terpisah.  Kami memilih untuk makan di food court karena tertarik dengan berbagai macam kuliner khas Bandung yang ditawarkan. Anak-anak makin semangat ketika melewati area Playground dan Rabbit Labyrinth yang ternyata letaknya tepat bersebelahan dengan food court.

Rabbit Labyrinth adalah area bermain bersama kelinci. Tiket masuknya adalah Rp 35,000 per-anak dan boleh didampingi oleh satu pendamping, sudah termasuk seikat kecil kangkung dan potongan wortel untuk kelinci. Ketika memasuki area tersebut kita seperti berada di dunia Alice in Wonderland, dengan labyrinth pendek dan rumah-rumah kecil untuk kelinci. Ada juga beberapa set meja dan kursi berwana-warni untuk duduk-duduk. Beberapa kelinci dilepas bebas berlarian, tetapi ada juga yang masih di dalam kandangnya. Kita juga bisa melihat area kandang terpisah untuk kelinci-kelinci yang baru lahir dan berumur dibawah 1 bulan. Kelinci-kelinci di sana semua sangat bersih dan terawat dengan sangat baik. Anak-anak pun bisa berfoto sambil memangku kelinci.

Setelah puas bermain bersama kelinci, anak-anak langsung minta masuk ke playground yang terletak di sebelahnya. Tiket masuknya beda lagi, harganya Rp 50,000 per-anak dan anak dibawah 3 tahun boleh didampingi 1 orang pendamping. Area playground outdoor ini cukup aman karena menggunakan rumput sintetis yang empuk, permainan-permainannya pun sangat bersih dan aman. Ada beberapa penjaga yang rajin mengontrol dan juga menjaga di pintu masuk, jadi sebenarnya kita bisa meninggalkan anak bermain dengan aman sambil kita pantau dari area food court. Tiketnya pun bisa dipakai berkali-kali pada hari itu. Jadi kalau mau break makan dulu bisa masuk lagi. Playground di sini cukup luas dan terdapat banyak permainan dari sepeda-sepeda keci, perosotan, rumah pohon, sampai trampoline. Keona sangat senang karena ada banyak permainan outbond mini yang menantang, dan Kelana tidak henti-hentinya naik ke rumah pohon dan main perosotan. Sayangnya Kai saat itu masih demam jadi agak lemas, dia cuma mau gendongan aja sama saya sambil sesekali naik ayunan. Anak-anak sangat betah bermain di dalam tidak terasa mereka bermain sampai 2 jam lebih. Akhirnya terpaksa kami minta untuk selesai karena hari sudah mulai sore.

Dari playground kami kembali menaiki shuttle car untuk menuju ke area permainan ATV, panahan, dan shooting range. Area ini terletak lebih tinggi ke atas, dan di perjalanan kami melewati paddy fields, camping area, dan beberapa area lainnya yang masih dalam pembangunan. Anak-anak sempat mencoba ATV bersama papanya, dan saya pun sempat mencoba panahan dan menembak. Tetapi karena dua permainan itu cukup berbahaya dan bukan untuk anak-anak jadi mereka harus di awasi dengan ketat di area tersebut. Untungnya mereka sudah cukup lelah bermain di playground jadi tidak sulit untuk diminta duduk manis sambil makan.


Selesai bermain kami memutuskan untuk pulang karena sudah mulai gelap, dingin dan agak gerimis. Dengan kembali diantar oleh shuttle car kami menuju area keluar untuk menuju ke mobil. Sebelum pulang ke Jakarta kami mampir sebentar di Bandung untuk makan malam. Seperti biasa kami mengunjungi tempat favorite kami yaitu Miss Bee Providore yang pernah dibahas juga oleh Nesya sebelumnya. Lalu kami pulang ke Jakarta malam itu juga. Kami memang tidak ada rencana menginap karena besok Kakak harus sekolah dan papanya pun harus mulai kerja lagi. Karena perut sudah kenyang dan sudah puas bermain, anak-anak pun sukses tidur sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta. Kunjungan ke Dusun Bambu sangat menyenangkan dan langsung menjadi salah satu tempat liburan favorite kami. Sangat recommended sebagai one-stop family recreational place.

Lokasi dan Alamat:
Dusun Bambu
Jl. Kolonel Masturi KM 11, Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat
Jam Buka: 08.00 – 21.00
Harga Tiket:
  •       Tiket masuk : Rp 15,000/orang (gratis untuk anak dibawah 3 tahun)
  •       Parkir mobil : Rp 10,000
  •       Playground : Rp 50,000/anak (1 anak 1 pendamping)
  •       Rabbit Labyrinth : Rp 35,000/anak (1 anak 1 pendamping)

AGENDAJKT X PM AMAZING RACE PLAYDATE


Pada hari Sabtu, 10 September yang lalu, Productive Mamas mengadakan playdate bekerjasama dengan AgendaJKT dalam sebuah acara urban market bertajuk “Bohemian Summer Fest”. 

Dengan mengangkat tagline “Be fit, be fabulous” acara ini bertujuan mengampanyekan kesehatan dengan mendukung aksi hidup sehat para generasi muda. Selain bazar, di acara ini juga terdapat berbagai kegiatan seru seperti beauty class, 3K bohemian summer run, zumba, cooking demo, kids sport day dan playdate for kids and parents yang diselenggarakan oleh Productive Mamas.
Amazing race merupakan tema yang dipilih untuk #PlaydatewithPM kali ini. Terinspirasi dari sebuah games show di televisi berjudul sama, kami membuat konsep permainan untuk anak-anak usia 3 – 5 tahun dalam tiga jenis kegiatan yang berbeda melalui tiga pit stop yang harus dikunjungi anak-anak dengan didampingi orangtuanya. 

Dimulai pada jam 15.00 WIB, peserta yang sudah datang dipersilakan untuk melakukan registrasi ulang dan menikmati jus segar dan sehat dari @dillinthebox . Setelah melakukan registrasi, sambil menunggu peserta lain datang, anak-anak dan para orang tua diajak bermain sensory play dengan colorful waterbeads yang sudah disiapkan tim PM. Kemudian, setelah 80% peserta hadir, Irna mewakili tim PM memberikan penjelasan mengenai tata cara permainan dan pembagian kelompok sebelum mulai bermain.

Pit stop pertama adalah tracing and threading atau meronce. Tim PM menyiapkan sejumlah pipe cleaners, pasta yang sudah diwarnai dengan pewarna makanan dan manik-manik kayu untuk dironce menjadi tiga pipe cleaner berwarna sama dan satu pipe cleaner berisi manik-manik kayu dan pasta yang dironce dengan kreasi bebas untuk dibawa pulang. 

Melalui kegiatan meronce ini, anak-anak belajar sorting colors, melatih konsentrasi memasukkan pasta dan manik kayu ke pipe cleaners serta melatih motorik halus juga kesabaran dan konsistensi.
Pit stop kedua adalah water play. Tim PM menyiapkan sejumlah botol air mineral 600 ml, gelas plastik, gayung mini, sendok serta tiga container besar yang telah diisi air dan sudah diberikan pewarna makanan merah, hijau dan kuning. 

Tugas anak-anak pada pit stop ini adalah membawa air dalam wadah yang dipilih (boleh gelas plastik, gayung mini atau sendok) dan berjalan menuju orangtuanya yang sudah menanti di ujung pit stop untuk sama-sama mengisi botol 600 ml hingga penuh. Anak-anak akan bolak balik mengambil air untuk mengisi botol dan di sinilah letak serunya permainan ini. 

Lewat permainan ini, anak-anak belajar untuk berhati-hati dalam membawa air, kalau tumpah, artinya waktu yang Ia butuhkan untuk mengisi botol hingga penuh menjadi semakin lama karena Ia harus lebih banyak lagi bolak-balik mengambil air. Pemilihan wadah untuk mengisi air juga mempengaruhi waktu berapa lama botolnya bisa penuh. Pencampuran warna juga menjadi satu hal pembelajaran dalam permainan ini. Beberapa anak memilih mengisi air dari container yang berbeda, ketika awalnya merah dan kemudian dicampur kuning, maka warna airnya menjadi oranye.

Setelah menyelesaikan tugas di dua pit stop sebelumnya, pit stop yang terakhir adalah cardboard race. Pada pit stop ini, anak-anak dibantu kedua orang tuanya mendapatkan tugas untuk membuat mobil-mobilan dari kardus dan menghiasnya dengan kertas krep. Setelah selesai dihias, anak-anak akan berlomba balap mobil dari garis start hingga finish pada area balapan yang telah disiapkan tim PM. 

Menyaksikan bagaimana ayah, ibu dan anaknya bekerjasama dalam membuat mobil-mobilan dari kardus dan menghiasnya, merupakan pemandangan yang berharga.  Melalui permainan ini, anak-anak belajar bekerja sama dengan orang tua, belajar bersabar dan berkompromi dalam melakukan pekerjaan hingga tuntas serta mempererat komunikasi dan kedekatan antara orangtua dan anak. Playdate PM kali ini ditutup dengan sesi balap mobil yang luar biasa seru dan anak-anak terlihat sangat senang dan menikmati. Sebelum akhirnya berpisah, seluruh peserta berfoto bersama dan tim PM membagikan goodie bags berisi paket tempat makan dan minum dari @tupperwareid, voucher dari @superdryid serta granola sehat dan lezat dari @leapforjoy.id.

 
PM TEAM: Nisa, Mala, Ayu, Nesya, Irna
Terima kasih banyak kepada AgendaJKT, seluruh peserta dan sponsor yang sudah mendukung acara ini, keseruannya bisa dilihat di foto-foto diatas ya. Enjoy and see you at our next #playdatewithPM. Jangan lupa untuk follow @productivemamas.event untuk update event-event selanjutnya! 

(Photo by: @anisasirman and article by: @dyahayuamallia)

YUK KURANGI KARBO DALAM KONSUMSI SEHARI-HARI!


Minggu lalu, saya menghadiri event Cut The Carb Campaign oleh SOYJOY. Banyak informasi menarik yang diberikan oleh Nutritionist yang bermanfaat, mengenai tipe karbohidrat, mengapa baiknya konsumsi karbo dikurangi, dan mendengarkan perubahan hidup Ringgo Agus Rahman sejak Bjorka hadir dalam hidupnya.

Saat pertama kali datang ke acara tersebut, kami diberikan secarik kertas yang bertuliskan "Perubahan apa yang anda rasakan setelah berkeluarga?". Wah itu pertanyaan yang jawabannya gak akan ada akhirnya ya? Haha.. Untuk saya semua-muanya berubah. Tentu kita tak lagi hidup sendiri, harus memiliki prioritas untuk orang lain terutama untuk suami dan  anak, waktu untuk bergaul bersama teman juga menjadi prioritas paling bawah, pemilihan tempat saat berpergian pastinya berubah, dan yang paling signifikan untuk keluarga kami adalah pemilihan makanan yang berubah total. 


Untuk keluarga saya sebenarnya sudah cukup lama mengurangi karbohidrat. Suami saya memang pencinta olahraga dan saya juga selalu menyediakan makanan yang sehat seimbang di rumah. Suami hampir tidak makan karbo setiap di rumah, dan kalau diluar rumahpun hanya sekali-sekali saja. Untuk saya dan Dio kami tetap makan karbo tapi megurangi porsinya, dan mengimbangi dengan lebih banyak protein, buah, serta sayuran. Untuk cemilan juga biasanya kami senang makan kacang-kacangan serta buah-buahan. Hal seperti ini memang berubah total saat kami mulai berkeluarga. Terutama saat Dio menginjak usia 6 bulan dan sudah mulai makan. Kami ingin anak kami makan sehat yang bergizi tapi kalau kaminya tidak ikut berubah bagaimana caranya? Anak itukan melakukan bukan apa yang kita perintahkan, melainkan apa yang diberikan contoh, dan apa yang dia lihat terjadi disekitarnya sehari-hari. Sejak saat itu kami memang berniat untuk menjadi lebih baik di segala hal, agar memberikan contoh yang baik untuk Dio. Memang awalnya sulit ya untuk kami, karenakan dari kecil culture di Indonesia memang karbohidrat itu paling banyak biar cepat kenyang, namun lama-lama karena terbiasa dan diimbangi dengan lauk lain yang lebih banyak sih tetap kenyang kok dan bisa dijalankan dengan baik. 

Sama halnya yang terjadi dengan Ringgo Agus Rahman dan Sabai Deiter yang ingin mulai berkomitmen untuk hidup sehat demi anaknya. Melalui Pesan Bjorka You Tube Channel, Ringgo yang tadinya kurang peduli kesehatan, mulai memikirkan ingin hidup lebih sehat untuk anaknya. Ia ingin berkomitmen untuk mengurangi karbohidrat dengan bantuan SOYJOY 2 jam sebelum makan. Perjalanan ini akan di rangkup dalam 6 episode Pesan Bjorka. Jangan lupa ditonton perjalanan serunya. Yuk cek video pertama yang berjudul "Semua Demi Bjorka".

Nah banyak yang bertanya kenapa mengurangi karbohidrat? Padahal makanan Indonesia merupakan makanan yang bisa dibilang mayoritas isinya karbohidrat. Untuk sebagian besar orang konsep ini terasa asing.

Nutritionist bernama Seala menjelaskan bahwa karbohidrat seperti nasi memiliki kadar Glycemic Index (GI) yang tinggi. Glycemic Index merupakan skala atau angka yang diberikan pada makanan tertentu berdasarkan kecepatan makanan dalam meningkatkan kadar gula darah. Untuk kacang kedelai dan kacang-kacangan lainnya memiliki GI yang rendah, serta kaya akan serat dan protein, sehingga dicerna perlahan oleh tubuh sehingga dapat mengontrol nafsu makan. Sedari itu dianjurkan untuk dikonsumsi 2 jam sebelum makan agar kenyangnya tahan lama. SOYJOY juga berbahan soy yang non-GMO (non-Genetically Modified Organism), dan gluten free. 

 
Ini porsi nasiku hari ini, biasanya dengan tempe dan tahu tapi kebetulan hari ini sedang habis. Kalau masih lapar tinggal tambah tempenya atau ayam satu lagi :)

Mama ada yang sudah mulai mengurangi karbohidrat dalam makanan sehari-harinya? Yuk kita mulai cut the carb bersama-sama!

KEHAMILAN KE-4, GENTLE BIRTH, HOME BIRTH, DAN PERSIAPAN WATER BIRTH (36 WEEKS)

  • 13 September 2016


Hi Mamas! Sudah lama sekali saya (Irna) ingin menulis blogpost tentang pregnancy update ini, tapi dikarenakan kesibukan (mengurus anak) dan niat yang kurang kuat, jadinya tak kunjung terlaksana. So, as some of you might have known, saat ini saya sedang hamil anak ke 4. Usia kehamilan saya sudah memasuki 36 minggu, jadi kurang lebih 1 bulan lagi saya akan punya bayi baru..yeay! Memasuki trisemester terakhir kehamilan membuat saya jadi agak flashback ke tahun 2015 dimana saya berhasil melahirkan Kai secara alami melalui water birth dirumah. Sungguh suatu pengalaman yang sangat indah dan masih terasa ajaib.  “Kenapa sih kok milih lahiran dirumah? Emangnya ga ribet? Trus kalo ada apa-apa gimana? Nanti mau water birth dirumah lagi?” Haha sampai saat ini masih banyak banget yang bertanya, termasuk keluarga dan teman-teman dekat. Mudah-mudahan blogpost ini bisa sedikit memberikan gambaran dan berguna bagi semua yang membaca yaa..

Sebelumnya saya ingin sedikit bercerita tentang kehamilan-kehamilan saya yang sebelumnya. Alhamdulillah perjalanan kehamilan saya selalu mudah dan tanpa drama. Sedikit mual-mual di awal trisemester tetapi tidak terlalu berat. Saya masih bisa berkegiatan dengan sangat aktif dan berjalan-jalan jauh kesana kemari. Pada saat kehamilan pertama saat saya masih kerja full-time, sampai usia kehamilan 9 bulan saya masih naik ojek, naik turun tangga dikantor, dan sesekali naik busway. Saat kehamilan kedua saya sudah resign dan mulai mengurus anak dan rumah tanpa nanny dan ART, begitu pula saat kehamilan ketiga (walaupun akhirnya sekarang sudah ada bantuan nyuci dan nyetrika..fyuh). Proses kelahiran 3 anak pertama pun terbilang mudah. Jarak dari kontraksi ke kelahiran biasanya hanya sekitar 2-3 jam dan tidak terlalu sakit. Saya pun selalu terburu-buru ke RS dan sampai RS sudah bukaan lengkap jadi malah bikin panik dokter dan suster karena prosesnya terlalu cepat. Alhamdulillah.

Perjalanan Mencari Obgyn, dan Bidan/Doula

Berdasarkan pengalaman yang sangat menyenangkan di 2 kehamilan yang pertama, saat hamil anak ketiga saya mulai berfikir untuk melakukan proses lahiran yang lebih natural lagi. Saat itu saya mulai mencari tahu tentang home birth, gentle birth, dan water birth. Yang saya cari pertama kali adalah dokter yang mendukung home birth. Ternyata tidak mudah ya. Beberapa dokter memang mendukung kelahiran normal tetapi begitu dengar saya mau melahirkan dirumah, selalu ada semacam warning dari mereka kalau mereka tidak bertanggung jawab. Ya memang benar sih, kalau lahiran dirumah saya lah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas segala resiko, but a supportive encouragement would be nice. Akhirnya saya bertemu dokter Achmad Mediana. Sebelumnya sudah banyak mendengar review bagus tentang beliau, tetapi karena beliau selalu antri dan cukup sering keluar kota, jadi saya belum pernah dapat kesempatan untuk berkonsultasi. Saat cek pertama, saya langsung menyampaikan niatan saya untuk home birth. Dan saya masih ingat jelas yang beliau katakan “Melahirkan itu waktunya ditentukan oleh Allah bu, jadi bisa dimana saja dengan cara apa saja. Yang terpenting kehamilannya sehat, dan ibunya aman dan nyaman”. Wah saya rasanya bahagia sekali. Bahkan saat itu dia pun langsung merekomendasikan emergency contact (special Ambulance) yang bisa dipanggil kerumah incase dibutuhkan saat saya melahirkan.

Yang saya lakukan selanjutnya adalah mencari bidan sekaligus doula yang bisa membantu proses kelahiran saya. Sebelumnya saya mau sedikit menjelaskan, apa sih doula? Basically, doula adalah pendamping persalinan yang akan menjadi teman ibu hamil dari saat prenatal, saat persalinan, sampai post natal, untuk memberikan dukungan dari sisi informasi, emosional dan juga fisik. Ia yang nantinya akan membantu untuk menenangkan para calon ibu dengan memberian afirmasi positif sampai pemijatan di titik-titik tertentu untuk melancarkan proses persalinan. Tidak semua bidan adalah doula, dan begitu pula sebaliknya. Ternyata tidak mudah mencari bidan sekaligus doula di Jakarta. Beberapa nama besar yang saya temukan adalah Ibu Robin Lim dari yayasan Bumi Sehat, Bali dan Bidan Yesie dari yayasan Bidan Kita di Klaten. Saya terus mencari, dari forum, blog, dan berbagai sumber di internet. Akhirnya saya menemukan mbak Hanita dari website Gentle Birth Indonesia. Saya langsung berkenalan via email dan bertanya apakah beliau bersedia membantu saya. Tetapi ternyata belum jodoh karena beliau saat itu sedang ikut suaminya dinas dan tinggal sementara di US. Lalu dia merekomendasikan bidan Erie Marjoko di Depok dan Bidan Yulie di Bekasi. Saya menghubungi keduanya dan singkat kata saya berjodoh dengan Bidan Yulie. Kami langsung membuat janji untuk bertemu dan ngobrol lebih lanjut di kliniknya di Tambun. Saat itu saya sudah hamil 7 bulan. Di pertemuan pertama ia langsung mengajak saya ikut yoga, hypnobirthing dan lalu ngobrol tentang banyak hal. Saya langsung cocok, seperti bertemu dengan teman lama yang sudah sangat saya kenal. Dan pada saat perjalanan pulang, saya langsung bilang sama suami saya, “OK, aku siap mau water birth dirumah

Kunjungan ke Bumi Sehat Bali dan Prenatal Visit

Saat itu saya masih haus informasi dan ingin tau lebih banyak soal gentle birth, home birth dan water birth. Ketika kebetulan suami saya ada kerjaan di Bali, saya pun memaksa ikut karena ingin sekali berkunjung langsung ke Yayasan Bumi Sehat Bali sebagai salah satu initiator Gentle Birth di Indonesia.  Kami pun berangkat sekeluarga, sekalian liburan, pada saat usia kehamilan saya sudah 32 weeks. Saya mendapatkan cukup banyak informasi dari Bumi Sehat Bali setelah mengobrol dengan beberapa bidan dan doula yang praktek disana, tetapi sayangnya tidak sempat bertemu dengan Ibu Robin karena beliau sedang di luar negeri. Kliniknya cukup sederhana, tetapi sangat homey, dan berada di lingkungan yang sangat indah dan tenang. Para pendamping persalinan disana pun sangat ramah, penuh cinta, enak diajak ngobrol dan tidak pelit informasi, sehingga saya merasa sangat nyaman.  Saya benar-benar seperti ter-recharge dan merasa sangat optimis bahwa kelahiran saya kali ini pasti akan sangat berbeda (in a good way!).

Sepulangnya dari Bali saya kembali janjian dengan Bidan Yulie untuk bertemu. Tetapi karena waktu itu kehamilan saya sudah 34 weeks, dia memutuskan untuk langsung melakukan prenatal visit ke rumah kami. Bidan Yulie datang bersama asistennya dan langsung minta ijin untuk berkeliling rumah kami untuk melihat rencana area melahirkan, akses ke sumber air, dll. Karena kamar saya tidak terlalu luas, jadi kami memutuskan untuk meletakkan birth pool di ruang tengah, dan meletakkan sofa bed serta baby crib di dekat ruangan tersebut. Pada saat prenatal visit itupun dia mengajarkan saya dan suami tentang teknik pernapasan, massage acupressure, hypnobirthing, rebozo dan lain lain. Kami bahkan melakukan simulasi melahirkan di kolam, bagaimana posisi-posisi yang nyaman, dan bagaimana menangkap bayi saat melahirkan nanti. Tidak lupa, dia pun memberikan check list perlengkapan yang harus dipersiapkan serta meminjamkan alat pendengar detak jantung bayi dan membekali kami dengan CD hypnobirthing dan yoga untuk di praktekan dirumah.

Setelah prenatal visit tersebut, saya dan suami jadi makin tidak sabar menanti kelahiran bayi. Kami pun semangat mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan, termasuk kolam untuk melahirkan. Sebenarnya bidan Yulie juga menyediakan kolam, tetapi untuk jaga-jaga incase dia belum tiba saat saya sudah bukaan, kami memutuskan untuk menyediakan kolam sendiri. Kami membeli inflatable pool yang ukurannya sudah ditentukan. Sebenarnya kami sempat mencari birth pool khusus untuk water birth, tetapi ternyata di Indonesia masih susah, kalaupun ada, harganya sangat mahal bisa 5-7 juta. Selain mempersiapkan perlengkapan, saya juga mempersiapkan kondisi fisik dan mental dengan melakukan yoga ringan 20 menit setiap hari, dan hypnobirthing setiap sebelum tidur. Tidak lupa, kami pun mulai memberi pengertian kepada anak-anak bahwa nanti adik bayi akan lahir dirumah, di kolam renang, jadi nanti kakak dan abang harus baik dan bantu papa rawat mama dan adik bayi ya. Alhamdulillah mereka sangat pengertian dan tidak kalah excited untuk menanti kelahiran adiknya.

Gentle Birth Strategic

Di kehamilan ke-4 ini, saya sangat beruntung saya bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan bidan Yesie Aprilia dari Bidan Kita, dan mengikuti sharing session tentang Gentle Birth StrategicWalaupun berkali-kali mempraktekkan gentle birth dan bahkan pernah melakukan water birth, tetapi baru kali ini saya benar-benar mengikuti kelas yang khusus membahas tentang teorinya. Sebenarnya apa sih gentle birth itu, apa bedanya dengan proses melahirkan yang normalnya dilakukan, dan kenapa kita sebaiknya memahami soal gentle birth?  

Basically gentle birth adalah sebuah proses pemberdayaan dari kehamilan sampai kelahiran sehingga bisa merubah sakit menjadi nikmat. Jadi gentle birth bukan hanya berlaku bagi para ibu yang melahirkan dengan bidan dan doula, tetapi juga penting untuk diketahui jika kita melahirkan di rumah sakit dengan dokter, secara normal maupun operasi sectio. Menerapkan gentle birth terbukti akan menekan angka kematian ibu dan bayi, juga meminimalisasi trauma pada saat proses melahirkan, sehingga menghadirkan ibu dan bayi yang lebih bahagia dan penuh cinta. 

Beberapa kunci sukses gentle birth adalah:
  • Knowledge. Knowledge is power, kita sebagai ibu harus terus rajin belajar dari berbagai sumber dan mencari informasi yang berhubungan dengan kehamilan antara lain tentang labor process, common case and intervention, serta birth plan. Beberapa website yang bisa dijadikan acuan adalah www.bidankita.com, www.gentlebirthindonesia.comwww.lamaze.orgwww.childbirthconnection.orgwww.spiningbabies.com
  • Awareness. Harus aware dan bisa menyesuaikan dengan perubahan fisik dan psikologis selama kehamilan
  • Healing Birth Trauma, melalui meditasi. 
  • Breath, terutama belly breathing 
  • Relax Mind, dengan mempelajari hypnobirthing bersama suami
  • Body Balance, dengan melakukan yoga
  • Mobility and Gravity
  • Gentle Birth Provider and Support, termasuk suami, keluarga, dan teman-teman terdekat. 

Tidak terasa, sudah 1.5 tahun sejak pengalaman water birth/home birth pertama saya and it’s still feel amazing! Sempat terjadi sedikit kekhawatiran ketika saya mengalami placenta previa dan sempat di opname karena pendarahan cukup banyak di usia kehamilan 4 bulan. Tetapi setelah konsultasi dengan bidan Yulie, serta dibantu yoga dan meditasi, Alhamdulillah posisi placenta kembali normal saat memasuki bulan ke-6. Saat ini saya kembali sedang mempersiapkan fisik dan mental untuk sekali lagi melakukan gentle birth. Saya rutin melakukan yoga dirumah, latihan nafas, menjaga nutrisi yang masuk ke tubuh, dan juga menjaga aktifitas dengan tetap aktif bergerak tapi tidak terlalu lelah. Saya juga rutin melakukan hypnobirthing dan meditasi dengan mendengarkan rekaman audio affirmasi positif, berkomunikasi dengan janin, dan tentunya berdoa. So let's do it all over again!

I believed I could so I did. Would you?


Bidan Yesie sharing tentang Gentle Birth Strategic 
 Bersama Bidan Yulie dan Bidan Yesie

AYODYA RESORT BALI


Seperti yang saya sudah mention di pregnancy update, bahwa bulan lalu kami sekeluarga baru saja kembali dari liburan ke Bali. Tujuan utamanya sih sebenarnya menemani suami saya mengikuti Triathlon. Namun diperpanjang dan sekalian saja deh liburan. Kebetulan saat itu usia kandungan saya baru 10 minggu dan lagi mual setengah mati. Not a very pleasant way to have a holiday. Tapi kayanya seenek-eneknya di Bali tetap lebih enak dari pada di Jakarta..haha. Menurut saya ada dua tipe liburan, yang pertama adalah liburan santai ke tempat yang sudah kita sering datangi, bisa bangun siang, tidak terlalu banyak itinerary, santai menikmati fasilitas hotel, fokus bermain dengan anak. Yang kedua adalah liburan ke tempat baru yang jarang didatangi, dengan itinerary yang padat, dan constantly on the move. Saya rasa liburan dalam negri jatuh ke dalam kategori nomer satu, dan luar negri di kategori nomer dua. Bali tentunya merupakan salah satu destinasi yang sering kami datangi, sejak Dio usia kurang dari setahun, hampir setiap tahun kami ke Bali. Jadi menurut saya, karena banyak waktu dipakai untuk bersantai dan bermain dengan anak, penting sekali memilih hotel dengan fasilitas yang lengkap dan suasana yang nyaman untuk keluarga. Beberapa teman sempat bertanya-tanya saat melihat foto instagram, nginap dimana, kelihatannya enak, dsb. Jadi disini saya ingin share pengalaman liburan kami sekeluarga di Ayodya Resort Bali.

Ayodya ini salah satu hotel terbesar yang pernah kami tempati di Bali. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari kamar, kolam renang, restaurant, panggung untuk pentas tari tradisional, danau, gym, kids club, dan pantai langsung di hotelnya. Kami menempati kamar Grande dengan Garden View yang dekat dengan kolam renang. Design hotelnya memang jadul sekali dari luar karena memang salah satu bangunan pertama yang di bangun di Nusa Dua, yang dulunya merupakan Bali Hilton International. Walaupun design bagian luarnya old fashion, namun bangunannya kokoh, area hotel juga bersih dan terawat. Kamarnya nyaman dan cukup besar untuk kami bertiga.

Di hari pertama kami ingin bersantai-santai dahulu, namun Dio sudah gak sabar ingin main pasir. Sehingga kami langsung menuju pantainya. Kalau disuruh memilih fasilitas favorit saya memilih pantai, karena pantainya luas dan pasirnya bersih sekali. Kami dapat memesan berbagai makanan juga sambil bersantai. Ombaknya sedang, sehingga Dio main tidak terlalu dekat dengan air. Setiap bermain pasir, ia bisa lama sekali sampai lupa waktu. Karena kami check in di hotel juga sudah agak sore, saya harus membujuk-bujuk Dio untuk udahan agar tidak masuk angin.

Keesokan harinya, suami sudah ga sabar ingin berenang, karena kolamnya ada 4, ada kolam anak, infinity pool, private pool, dan kolam yang besar sekali sampai 80 meter. Baru sekali dari ujung ke ujung aja sudah ngos-ngosan dan kecapean saya. Kalau suami senang sekali bolak balik berkali-kali, karena serasa berenang di laut tanpa ombaknya saja. Dio juga senang bermain di kolamnya, sayangnya saya lupa membawakan pelampung. Namun walaupun begitu, kami bisa menyewa pelampung dengan membayar Rp 50.000 untuk 2 jam. Kalau untuk suami saya, fasilitas favorit dari hotel ini tentunya kolam renangnya. 

Di 2 hari pertama kami gak mengunjungi kids club karena benar-benar menikmati cuaca di Bali yang cerah. Sayang rasanya menyia-nyiakan cuaca yang cerah dengan banyak di dalam ruangan. Namun sempat berpikir sayang juga, masa gak lihat kids club sama sekali? Akhirnya saat suami mau berenang, dan saya masih sangat mual, saya membawa Dio untuk bersantai-santai di kids club-nya yang bernama Camp Ananda. Bagian indoor terdiri dari 3 ruangan, yaitu ruang utama yang berisi meja kursi serta berbagai macam mainan, ruang kedua adalah ruang menonton tv, dan ruang ketiga merupakan ruang video games. Saat masuk, Dio menghindari ruang utama yang dipenuhi anak perempuan sedang main boneka dan kepang-kepangan. Ia langsung menuju ke ruang TV yang sangat sepi, hanya ada 1 kakak yang sedang bersantai. Kakak itu berusaha mengajak Dio bicara dalam bahasa inggris, tapi Dio kelihatannya malu, sehingga akhirnya saya deh yang mengobrol-ngobrol. Gak kerasa, sudah hampir sejam dan babanya sudah selesai berenang. Kami keluar tanpa sempat bermain di outdoor playground yang dilengkapi dengan perosotan dan ayunan.

Breakfast di hotel ini cukup banyak variasi, ada berbagai macam buah, roti-rotian, telur, sosis, kentang, juga makanan Indonesia seperti bubur dan nasi goreng. Untuk restaurant-nya kami belum sempat coba, karena dari sini ada free shuttle ke Bali Collection dimana ada beberapa toko dan banyak sekali resto bermacam-macam, jadi setiap jam makan kami menaiki shuttle kesitu.


Overall kami puas dengan pelayanan dan fasilitas di Ayodya Resort. Jadi yang mencari hotel di Bali dengan fasilitas lengkap dan bisa santai bersama keluarga di area Nusa Dua, bisa menjadi pilihan nih.  

·
OLDER
© Productive Mamas