SLIDER

MENGENALKAN ANAK PADA MUSIK


Saya bukanlah merupakan expert di dalam bidang edukasi, namun yang saya mau share disini based on experience saya ya. Jadi dulu saya selalu menganggap, "Ah Dio gak ada interest di musik, orang bapak ibunya juga gak ada yang bisa musik kok. Kita gak ada turunan pemusik". Namun yang saya baru sadar akhir-akhir ini, bukannya masalah ada turunan atau enggak sih (walaupun most of the time itu merupakan faktor penting juga), namun di rumah memang exposure pada musik minim sekali. Seperti tadinya saya gak pernah beli alat musik sama sekali, jarang juga mendengarkan lagu anak-anak semenjak toddler. Waktu bayi sih lumayan sering, tapi sekarang kita banyak aktivitas lain jadinya saya 'melupakan' musik tersebut. Disini mau sharing juga agar mama bisa cek-cek juga nih di rumah masing-masing, apakah anaknya yang gak suka bidang tertentu, atau memang kita yang kurang kasih exposure ke bidang tersebut?

Pantes saya juga baru sadar, dulukan Dio saat bayi senang sekali menari-nari kalau mendengar musik apa saja, sekarang kok jarang ya? Kok gak tertarik kayanya dengan film anak yang ada menyanyi dan menari? Saya baru mulai ngeh karena di sekolah ada tema "Musik" dan saya cuman punya 1 alat musik di rumah.. Dari situ coba melihat-lihat lagi, mungkin bukan anaknya yang gak suka ya? Saya yang tidak banyak memperkenalkan kepada dia dari dulu.

Nah untuk meningkatkan keingin tahuannya akan musik, saya memiliki beberapa cara yang cukup straightforward, namun kadang kita suka lupa terapkan:

1.Sering menyalakan lagu anak-anak! 
Nah ini paling sering saya lupakan, karena seringkali saya kerja atau beraktivitas mendengarkan lagu-lagu saya yang mainstream, yang sebenernya gak bagus sih kalau diperdengarkan sama anak usia absorbent mind seperti Dio, karena kata-katanya kurang berkualitas. Jadi banyak-banyaklah mendengarkan lagu anak sambil menyanyi bersama, menari, tepuk tangan dan membuat suasana menjadi menyenangkan. 

Menonton film musical sesekali juga meningkatkan minatnya pada musik lho ternyata. Seperti lately Dio sedang senang sekali nonton film seperti Sing atau Trolls karena banyak lagu-lagu yang ia sukai (ternyata emang sukanya yang mainstream juga kaya ibunya..haha).

2. Sediakan dan letakan alat musik di tempat yang terjangkau anak.
Awalnya saya mengajak Dio untuk memilih sendiri alat musik yang ada di ELC.  Ia memilih Fun Key Guitar, karena persis dengan milik kakak sepupunya. Walaupun gitar ini gak ada senarnya, tapi banyak pilihan lagu bermacam-macam yang membuat Dio antusias banget bergaya ala pemusik dan menari-nari setiap ada lagu yang terputar. Dilengkapi sama mic Sing a Star yang juga didapat dari ELC.

Untuk  Carry Along Keyboard ia dibelikan oleh eyangnya, karena sering kali pura-pura bergaya ala pianist menggunakan guling setiap mendengar lagu. Ia selalu antusias juga setiap saya main lagu Marry Had A Little Lamb di keyboard tersebut minta diulang-ulang sambil bernyanyi. Ya, saya dulu pernah les piano saat SD, tapi yang nempel cuman 1 lagu itu aja, sisanya gak ingat sama sekali.

Terakhir saya membeli Saxophone, karena ada tugas membawa alat musik tiup dari sekolah. Dari situ baru 'ngeh' juga oiya ya, baiknya kita mengenalkan alat musik dengan fungsi yang berbeda. 

Untuk cara mendisplay agar anak tertarik, tentunya dengan meletakan di kamar di tempat terjangkau, namun tidak tiga-tiganya karena jadi tidak fokus. Saya letakan satu saja untuk dirubah-rubah setelah seminggu atau dua minggu sekali. 



3. Memperkenalkan jenis dan namanya!
Ide ini saya dapatkan dari sekolah anak saya yang setiap minggu mengenalkan alat musik berdasarkan cara pemakaiannya. Jadi hari pertama bawa alat musik tiup,  petik,  pukul, perkusi dan seterusnya. Lama kelamaan Dio menunjukan interest dan menjadi lumayan hafal dengan nama-namanya.

Mengenalkan dengan musik bukan semata-mata menginginkan anak saya berkarir sebagai musician (altho kalau dia memang berbakat disitu pasti saya dukung). Cuman lebih kepada mengembangkan pengetahuannya, memberikan kesempatan untuk eksplorasi, membantu perkembangan otaknya, dan melatih fine motor skill juga. 

Ada mama yang mau sharing bagaimana musik berperan dalam hidup anak? atau cara lain mengenalkan musik kepada anak? Feel free to share it in the comment section below!

CARA MEMBUAT PASPOR ANAK

  • 22 April 2017


Minggu lalu saya berhasil membuat passport bayi usia 1 bulan di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Warung Buncit tanpa bantuan calo, maupun suami. Surprisingly sangat amat mudah caranya, selama dokumennya lengkap. Padahal awalnya sempat parno dan ragu pas suami bilang "Gampang kok sekarang, gak kaya dulu lagi". Seingat saya dulupun dengan calo tetap harus bolak balik beberapa kali sampai selesai dan antriannya kurang jelas bentuknya. Tapi ternyata caranya mudah banget! Makanya disini saya ingin berbagi cara membuat passport anak dengan mama semua. 

Pertama-tama cek jam buka untuk Imigrasi yang ingin di datangi. Untuk Imigrasi Jakarta Selatan yang ada di Buncit ini buka jam 7.00 untuk hari Senin, Rabu, Kamis, dan jam 6.00 untuk Selasa dan Jumat. Nah apabila membawa anak, kita bisa menunggu sambil duduk di dalam dan diberi nomor antrian di awal. Sehingga datang sekitar 10 menit sebelum jam buka sudah cukup. Apabila tidak membawa anak ataupun orang tua, baiknya datang paling tidak 1 jam sebelum buka untuk mengantri. 

Penting untuk membawa dokumen yang lengkap dan sesuai kriteria. Karena pemeriksaan sangat ketat, kalau belum lengkap nanti akan disuruh mengantri dari awal lagi, jadi jangan sampai salah. File yang dibutuhkan untuk membuat paspor anak adalah:
  • Akte lahir (ini wajib dan gak bisa digantikan oleh apapun, karena aku sudah coba pakai surat lahir anak ataupun KK juga gak diterima)
  • Kartu Keluarga yang sudah ada nama anak
  • KTP ayah dan ibu
  • Buku Nikah Orang Tua
  • Formulir untuk diberi materai dan tanda tangan kedua orang tua (dibeli di koperasi imigrasi)

Semua file diatas (Akte, KK, KTP, Buku Nikah) HARUS di fotocopy, dengan catatan sebagai berikut:
  • Ukuran asli di kertas A4 dan JANGAN digunting.
  • Kedua KTP orang tua di fotocopy di 1 lembar kertas
  • Bisa di fotocopy di imigrasi tapi membuang-buang waktu. Lebih baik sih langsung di fotocopy semua sebelum datang, jadi tinggal isi dan beli formulir saja di koperasi.

Waktu itu saya datang hari Selasa pas-pasan jam 6 kurang 5 menit. Buru-buru naik keatas untungnya masih dapat kuota yang didahulukan. Semua file sudah lengkap, dan gak sampai setengah jam sudah dipanggil kedalam. Lalu bayar sebesar Rp 350.000 via bank BNI atau Mandiri. Sekitar jam 7 sudah masuk mobil lagi! Tau gak yang lama ngapain? Sekitar 30 menit di dalam tempat foto karena Danu tidur dan gak mau melek. Susah sekali nyuruh buka mata bayi umur 1 bulan..haha. 

Paspor anak tersebut bisa diambil dalam 5 hari kerja di counter lantai 2, antara pukul 1 sampai 4 sore. Tunjukan tanda terima yang diberikan oleh petugas imigrasi, lalu akan dapat nomer urut dan tinggal duduk manis saja. Saya pernah datang hari Selasa jam 1 untuk mengambil paspor saya, kebetulan hari itu gak terlalu ramai jadi dalam 15 menit sudah bisa diambil. Namun kemarin saat ambil paspor Danu di hari Jumat sekitar jam 2an, dapat nomer urut lumayan belakang. Sehingga menunggu hampir 2 jam. Saya gak tau sih apa gara-gara pas ambil papor saya, sambil gendong Danu jadi didahulukan? Sedangkan pas ambil paspor Danu, lagi ada suami jadi dia jagain di mobil.. haha. Gak sempat nanya juga. Tapi walaupun begitu, yang penting sekarang sistem-nya sudah jelas, jadi walaupun nunggu lama gak kesal-kesal amat karena memang ada nomer urutnya dan gak perlu ribet bolak balik kesana kemari.
Post ini gak di sponsori sama pihak imigrasi ya, hanya ingin sharing aja untuk ibu-ibu yang ingin membuat paspor untuk anaknya, tapi gak berani pergi sendiri. Oiya satu lagi, kalau gak perlu-perlu amat gak usah buat e-passport karena selain kemarin lagi error, prosesnya jauh lebih lama. Gak bisa main datang kaya paspor biasa, melainkan harus buat appointment dulu 10 hari kerja, biayanya 2x lipat, lalu jadinya juga 2 minggu instead of 5 hari. Apabila ingin melihat informasi lebih lengkap bisa cek langsung di website Imigrasi Jakarta Selatan.

MARCH-APRIL NEWBORN UPDATE


Alhamdulillah pada tanggal 7 Maret 2017 lalu telah lahir putra ke-2 kami yang bernama Danu. Blogpost ini merupakan kompilasi dari kejadian di satu bulan terakhir.  

Sedikit Kisah Lahiran...
Niatnya sih ingin bikin vlog dan blog didedikasikan untuk lahiran alias "Danu's Birth Story". Tapi karena gak terlalu menyenangkan pengalamannya rasanya gak perlu di share. Intinya dari pengalaman kemarin, gak berbeda sih melahirkan anak pertama dan kedua. Persis masuk RS jam 3 pagi dan bayi baru keluar jam 5 sore. Sama-sama lama dan sama-sama sakit. Bedanya dulu anak pertama dari bukaan 1 juga udah tiduran terus, panik dan heboh. Ini pembukaan 1-5 masih lumayan tenang, lalu sampai pembukaan 7 masih bisa jalan-jalan walaupun sudah mulai kesakitan luar biasa. Tapi gak lebih mudah juga. Mungkin karena saya tipenya emang mudah panik dan emosi jadi ya gak bisa se-smooth itu. Namun saya kenal beberapa teman yang memang bisa melahirkan dengan gentle dan minim sakit. Semoga untuk yang membaca ini, bisa merasakan lahiran yang menyenangkan dan menenangkan ya.  

Danu..
Kenapa namanya Danu? Jujur kalau saya cuman ingin nama dengan huruf depan D. Karena nama saya Danesya, suami Dipta, lalu si kakak Dio. Tiba-tiba di usia kehamilan 36 minggu, suami menyarankan nama Danu. Awalnya kurang sreg, tapi setelah dicari ternyata arti Danu adalah cahaya. Sebuah arti yang bagus ya. Saat bukaan 9, kami belum juga punya nama lengkap, tapi saya punya list nama yang saya tulis di notes hp. Buru-buru suami buka lalu pilih, dan jadilah baby Danu! Senangnya anak ini sama seperti kakaknya tidak merepotkan, nangis gak pernah terlalu kencang, kalau tidur juga cukup lama sehingga saya cukup istirahat. Terima kasih Danu, walaupun kamu tidak dilahirkan dengan proses yang gentle tapi kamu sampai saat ini merupakan anak yang manis. 

ASI..

Alhamdulillah pas IMD, Danu pintar sekali, baru 10 menit sudah matok-matok dan dapat menyedot dengan baik. Dulu Dio tidur-tiduran saja sampai sejam, musti diarahkan. Memang setiap anak beda-beda. Masih sulit untuk gak membanding-bandingkan. Bagusnya juga sepertinya produksi ASI kali ini lebih banyak dari dulu, sehingga anaknya kenyang dan bisa tidur lama. Gak lupa untuk massage payudara berkali-kali walaupun belum terasa keras. Belajar dari pengalaman terdahulu, kalau gak di massage bisa menggumpal dan sakit sekali jadinya. Benar saja, karena rajin di massage, gak kerasa membatu seperti yang dulu-dulu.

Di Rumah Sakit..
Masih aneh rasanya punya anak ke-2. 4 tahun terakhir hanya mencurahkan waktu dan kasih sayang untuk si kakak, lalu sekarang kasih sayangnya harus dibagi 2. Ada yang merasa begitu gak? Rasanya masih mengawang-ngawang, antara percaya dan tidak udah ada bayi lagi. Tapi senangnya luar biasa! Dulu anak pertama, semua hal mulai dari gantiin popok sampai mandiin mau dikerjakan sendiri walaupun di RS. Sekarang anak kedua sudah tau kalau di rumah akan capek, jadi biarkanlah di RS pencet-pencet bel dan minta tolong suster..hehe.

Walaupun suka browsing dan baca buku, karena bedanya 4 tahun, jujur banyak banget lupa. Se-simple ngebedong aja salah terus. Saya bukan tipe yang suka lama-lama membedong bayi juga sih, tapi karena baru keluar dari perut, rasanya dia perlu merasa hangat dan nyaman. Setiap bedongnya dibuka, Danu mudah sekali kaget dan tidurnya kurang nyenyak. Begitu suster yang ngebedong langsung lelap sekali tidurnya.


Suami..
2 hari setelah pulang ke rumah, suami ditugaskan keluar kota. Lebih tepatnya dipindahkan.. Dalam hati sedih banget sih, karena suami orangnya sangat amat hands-on. Kalau ada suami di rumah bisa dibilang saya benar-benar gak megang anak (kecuali nyusu). Dia yang gendong, ajak main, mandiin, sampai potong kuku juga. Suami ditempatkan diluar kota dengan jadwal on-off, 15 hari kerja dan 11 hari di Jakarta. Bagusnya kalau di Jakarta 11 hari, jadwalnya kosong seharian, gak perlu masuk kantor. Walaupun ia ada kerjaan lain sih yaitu Crossfit. Tapi paling tidak, quality time-nya bisa di maksimalkan di 11 hari tersebut.

Maternity Leave?...
Sejak usia kehamilan 38 minggu, saya memang sengaja gak ambil job event, ataupun review product dan semacamnya. Sayapun belum sempat update blog karena memang ceritanya mau "materrnity leave" walaupun sih tetap update Instagram. Kenapa pakai tanda kutip? Karena bingung juga, untuk blogger, freelance, ataupun entrepreneur, is there such thing as maternity leave? Kerjaan basically bisa dikerjakan dari rumah ataupun manapun juga. Lalu berapa lama sebenarnya waktu yang diperlukan para freelancer untuk maternity leave? Ada yang bilang 40 hari, ada yang bilang 3 bulan seperti kantoran, ada yang bilang langsug kerja aja toh semua dikerjakan di rumah dengan timing yang nyaman untuk masing-masing individu. Kalau saya sendiri lebih suka mendengarkan kondisi badan (alias tergantung mood..haha). 

40 Hari..
Lagi-lagi bukan tipe yang harus diam di rumah selama 40 hari. Karena pikir-pikir untuk ibu-ibu yang tinggal di luar negri tanpa bantuan ART ataupun orang tua, tak ada service seperti gojek juga, mau gak mau kalau belanja dan beraktivitas harus keluar rumahkan. Di rumah juga hanya ada 1 ART untuk bersihkan rumah, tapi kalau aktivitasnya seharian dan gak ada suami suka aku bawa untuk bantu-bantu plus foto-fotoin. Dulu waktu Dio usia 1 minggu sudah aku bawa ke supermarket, karena perlu belanja mingguan. Untungnya sekarang sudah banyak layanan online yang memudahkan belanja jadi gak perlu keluar-keluar kalau untuk belanja. Namun kemarin sempat jalan-jalan ke Jakarta Aquarium saat baby usia 3 minggu mumpung ada suami, plus ketemu dengan keluarga. Karena rasanya sudah cukup segar.

Sakit..
Cuman saya baru merasakan, bahwa ternyata disuruh di rumah 40 hari itu ada maksudnya ya. Kayanya badan memang belum fully recover. Jadilah akumulasi dari berpergian tersebut, membawa penyakit. Badan mau rontok rasanya, pusing kepala, serta batuk pilek. Memang aku punya penyakit yang dinamakan Autoimmune. Kemarin penyakitnya "tertidur" saat hamil, karena hormon hamilnya bagus malah membuat badan sehat dan segar. Saat sudah melahirkan, terbangun lagi deh dia. Sehingga harus jaga banget untuk makan dan minuman.

So far kalau sakit begini yang paling penting asupan yang super banyak. Saya minum air putih berbotol-botol gak terhitung. Lalu makan buah 3x sehari, sayur 2x sehari, minum air jahe lemon madu untuk batuk pilek, dan kurma 7 buah atau dibuat jus untuk tambahan tenaga. Gak lupa untuk tidur yang cukup. Sekarang hari ke-4 dan saya sudah merasa lebih baik, walaupun belum sembuh sepenuhnya. Kalau dulu, bisa 1-2 minggu kalau kena batuk pilek dan bisa sampai demam. Don't take your health for granted. 

PRETEND PLAY MASAK-MASAKAN


Di usia Dio yang hampir 4 tahun ini, ada dua tipe permainan yang sangat ia sukai yaitu open ended play dan pretend play. Pretend play dalam bahasa indonesia adalah bermain peran. Dimana anak kita menggunakan imajinasinya untuk pura-pura menjadi suatu karakter, misalkan pilot, supir, koki, dan apapun yang ia inginkan. Beberapa saat yang lalu saat bertemu beberapa ibu untuk playdate, mendengar celetukan salah seorang ibu yang cukup concern karena anaknya sering bicara sendiri dengan mainannya, katanya "Apa gak apa-apa itu anakku bicara sendiri terus kalau sedang bermain? Dia gak punya imaginary friends atau gimanakan?". Karena mendengar celetukan sang ibu, saya terinspirasi membuat artikel ini. Mengenai manfaat dari pretend play yang sangat baik untuk tumbuh kembang anak! Side notes, saya bukanlah merupakan seorang expert, tetapi cukup sering membaca buku dan  website, sehingga ingin berbagi.

Beberapa manfaat dari pretend play adalah untuk ketrampilan sosial dan emosional anak, perkembangan bahasa, ketrampilan berpikir dan mengembangkan imajinasi anak. Dengan bermain peran ia menggunakan berbagai macam bahasa yang ia dengar sehari-hari. Dengan menggunakan kata-kata tersebut kosa katanyapun bertambah. Untuk lebih detailnya bisa cek disini ya. 

Dio sedang senang bermain Mini Sizzlin Kitchen Set dari ELC. Ia dan sodaranya kakak Dira sedang berpura-pura ada di restoran, Dio dan kakak Dira jadi koki, lalu saya sebagai pelanggannya. Awalnya mereka mencatat order dulu, lalu ceritanya berjalan ke dapur untuk memanganggnya di oven atau . Selalu suka dengan varian kitchen di ELC karena ada mulai dari yang mini seperti ini sampai yang besar sekali yang setinggi anaknya. Kalau rumah saya cukup besar mungkin saya akan pilih kitchen set yang besar tersebut

Oiya saya juga mau menyatakan kalau saya kurang setuju dengan orang yang berkata "Anak laki jangan main masak-masakan dong!" atau "Anak laki-laki tidak boleh main di dapur". Setelah dilihat-lihat profesi koki itukan kebanyakan di dominasi oleh laki-laki, kalau ternyata jalan hidup sang anak menjadi koki masa kita memutuskan semangat belajarnya hanya karena gender norms yang sekarang juga sudah gak aplicable. 


Nah sekarang ingin dengar sharingnya mama, berapa banyak yang anaknya senang main masak-masakan? Dan kalaupun tidak suka, apa sih pretend play favorit anak?

SUNDAY FUNDAY


Karena biasanya hari Sabtu kami keluar rumah untuk grocery shopping, makan siang bersama, ataupun mendatangi acara, sehingga hari Minggu kami lebih sering bersantai di rumah. Tradisi olahraga pagi bersama keluarga juga menjadi rutinitas kami di hari Minggu. Biasanya kami berenang, tapi karena sedang pilek semua jadi kami beralih ke jemur pagi dan bermain di lapangan tenis. Dio biasanya membawa bola, sambil lari-larian, dan suami saya crossfit seperti biasa. Saya biasanya mengitari lapangan tennis saja jogging tapi karena sekarang sudah 38 minggu, saya hanya jalan kaki keliling lapangan dan squats. Sudah gak sabar banget ingin ketemu baby, dan disarankan oleh Irna untuk squats 15 menit setiap hari dan jalan sebanyak mungkin. Namun tadi baru squats 30x sudah lelah, jadi berhenti dulu deh (tetap berharap malam ini kontraksi..haha). ini merupakan artikel pendek, dan foto gallery dari kegiatan yang sering kami lakukan di hari Minggu. Ada yang mau sharing, quality time favorit bersama keluarga setiap weekend?
"If you want your children to turn out well, spend twice as much time with them and half as much money." Abigail Van Buren

·
OLDER
© Productive Mamas Blog