SLIDER

MPASI DANU SEHARI-HARI

  • 09 December 2017


Danu (usia 8 bulan sekarang) anaknya cukup moody masalah tekstur makanan. Dia gak pernah terlalu suka puree yang sangat halus ataupun makanan berkuah yang lembek-lembek. Jadi dari pertama kali makan, kalau diblender yang texturenya sedang, atau BLW (Baby Led Weaning) sekalian. Nah aku sempat dapat beberapa DM di Instagram yang menanyakan seperti apa sih makanan sehari-harinya Danu? Lalu enaknya bagaimana agar anak mendapatkan gizi seimbang. Disini aku bukan sebagai dokter ya, tapi share pengalaman pribadi saja. Aku mau share kombinasi makanan 4 bintang yang biasanya Danu makan, serta sedikit review mengenai 4 in 1 Philips Avent Baby Food Maker. 

Sejak memasuki usia 6.5 bulan Danu sudah diperkenalkan dengan menu 4 bintang. Apa sih menu 4 bintang? Menu 4 bintang adalah makanan yang terdiri dari protein hewani, protein nabati, karbohidrat, dan sayur (plus lemak tambahan. contohnya: unsalted butter / olive oil / coconut oil / santan buatan sendiri). Walaupun awalnya sempat picky eater namun lama kelamaan, ia bisa lahap juga makannya. Kenapa usia 6.5 aku sudah kenalkan protein hewani? Belajar dari pengalaman anak pertama yang kurang suka protein. Karena aku telat sekali, baru memperkenalkan protein di bulan ke 9. Dulu khawatir takut belum kuat dan sebagainya, padahal anak sudah perlu protein hewani dan 
nabati se-early mungkin agar gizinya seimbang. 

Untuk makanan Danu sendiri di 6 bulan pertama aku banyakan kukus saja. Selain mengukus itu praktis, tapi juga agar nutrisi pada makanan tidak berkurang banyak. Mengukus adalah metode memasak dengan cara yang sehat. Makanan yang terlalu matang tidak hanya mengurangi rasa, namun juga dapat mengurangi kandungan gizi yang terdapat di dalamnya.  

Beberapa kombinasi favorit Danu adalah daging tipis atau cacah dikukus, dicampur dengan kentang atau ubi untuk karbohidratnya lalu diberi tambahan sayurannya wortel, labu siam dan brokoli. Bisa di steam lalu dicampur jadi satu, ataupun kalau BLW di kukus begitu saja. Drizzle dengan olive oil atau coconut oil untuk dagingnya sebelum di steam. Buahnya dimakan untuk snack time, sekitar 2 jam setelah makan.  Kalau sedang bosan dengan protein hewani, Danu juga rajin mengkonsumsi tempe ataupun tahu, yang kadang digoreng kadang di steam. 


Untuk alat membuat makanan bayi yang ingin aku review kali ini adalah 4in1 Philips Avent Baby Food Maker. Food maker ini praktis sekali, karena dalam satu alat memiliki 4 fungsi yaitu mendefrost (menghilangkan bekuan es) makanan, menghangatkan kembali, mengkukus serta memblender. Sebagai ibu-ibu kan kadang kita suka terlupa ya keluarkan makanan dari freezer, jadi kalau sedang buru-buru jadi gak usah menunggu lama sampai daging mencair, bisa langsung aku defrost dulu dengan alat ini.  

Sebagai ibu kita juga harus memikirkan cara praktis dan efisien dalam menyiapkan makanan anak. Jadi aku sering memasak makanan anak sekaligus untuk malam. Sehingga nanti malamnya aku tinggal panaskan menggunakan 4in1 baby food maker ini. 

Selain itu terpenting juga bahwa 4in1 Philips Avent Baby Food Maker ini BPA Free, partsnya gak ada yang kecil-kecil sehingga mudah dicuci, cara pemakaiannyapun gampang banget. Kalau mau ditinggal juga ada bunyi beep yang menandakan saat makanan telah matang.  

Mumpung sebentar lagi hari ibu, aku lihat dari Facebook Philips Avent ID lagi 
mengadakan kompetisi foto #ApresiasiCintaBunda. Kompetisi ini berhadiah produk Elektronik dari Philips Avent total senilai Rp 100 juta dan hadiah pemenang mingguan berupa voucher belanja & hampers dari Philips Avent. Mau tahu caranya? Baca syarat dan ketentuan di www.philips.co.id/acb. 

Jangan ketinggalan untuk ikutan ya Mam! :) 

BATASAN MENONTON YOUTUBE & REKOMENDASI CHANNEL EDUKATIF UNTUK ANAK


Jadi untuk yang kenal aku pasti tau Dio itu hampir gak pernah nonton YouTube. Sempet pernah sih 2 mingguan waktu aku hamil anak kedua, tapi karena perilakunya jadi disaster, jadi aku stop total. Dio masih ada waktu screen time kalau weekend saja boleh nonton tapi di TV dengan film yang sudah kami download. Kenapa pakai film di download? Karena bisa lebih dibatasi jumlah nontonnya. Nah baru-baru ini aku menemukan beberapa channel You Tube yang edukatif dan beneran bagus untuk anak-anak sehingga kepingin share list-nya disini. Tapi sebelum aku share mengenai channel-channel ini, aku ingin memberikan guideline dulu sih dalam menonton You Tube yang aku terapkan ke keluarga aku.

Sebelumnya banyak teman yang suka tanya, "Kenapa sih anti banget sama YouTube untuk anak? Padahal banyak manfaatnya kok! Anak gw jadi bisa baca, kenal warna, dan kosa katanya bertambah karena YouTube lho". Saya bukannya bilang ini 100% buruk, cuman dampak ke anak saya sendiri sangat amat gak bagus, seperti yang saya pernah cerita disini, intinya jadi pasif dan mudah tantrum. Saya pernah cerita juga kalau sebelum bertemu suami, saya orangnya mager berat, itupun karena kebanyakan streaming online dan nonton TV. Saya bisa lho dulu di rumah dari pagi setelah suami berangkat kantor sampai suami pulang kantor masih duduk di sofa nyalain TV atau streaming di laptop, gak mandi, cuman masak aja sama makan. Segitu magernya, bayangkan! Intinya saya gak ingin sih anak saya mendapat sifat mager dan pasif saya itu. Btw kalau saya lagi jarang update blog, selain either sakit, atau rempong sama anak, itu biasanya karena keasikan streaming online..hiks. Sayapun masih belajar untuk mengurangi banget segala macam screentime untuk diri sendiri!

Memang gak bisa dipungkiri kok, ada juga manfaat baik dari YouTube kalau dipakai dengan baik, DAN TIDAK BERLEBIHAN. Berikut rules keluarga kami yang mungkin bisa berguna untuk keluarga lainnya ya:

  • Jangan jadikan YouTube kompenasi dari perilaku yang kurang baik. Misalkan anak sedang teriak-teriak, atau merengek lalu kita kasih nonton supaya diam. 
  • Jangan jadikan YouTube teman anak bermain saat sedang diluar rumah (ini termasuk dijalan, saat lagi makan, saat kita dirumah saudara - karena ingat gak sih masa kecil kita saat dirumah saudara ya ngobrol sama sepupu atau tante om. Kalau lagi makan juga waktunya kita menikmati makanan, kalau dimobil juga ada permainan seperti menghitung mobil atau mencari warna. Biarkan aja kalau dia mau main sama tissue, botol kosong, atau apa yang ada di sekitarnya. Suka ditanya "Ya tapi kalau anaknya rewel banget gimana dong?". Ya anak rewel emang  Dengan kita ngasih gadget itu shortcut sih, anak jadi gak punya ability untuk menenangkan dirinya sendiri atau menghibur dirinya sendiri. Keinginan untuk interasi sama anak seusianya ataupun yang lebih besar juga berkurang. Jadi yang musti kita pikirin long term effect-nya.)
  • Nonton sambil makan is a BIG NO. Ini paling evil sih menurut aku. Karena kalau pernah ikut workshop makan sehat, makanan itu harus dikunyah cukup lama agar dapat diproses sama tubuh kita dengan baik. Kita juga harus bisa menikmati rasa makanan agar di signal ke otak. Supaya kita bisa merasakan kenyang juga. Kadang sering ngerasa gak sih kalau udah makan banyak banget kok masih laper terus? kemungkinan sih selain makanan yang dimakan kurang bergizi yang imbang, kita juga makan sambil ngerjain yang lain-lain sehingga signal kenyang belum nyampe ke otak.
  • Batasi tontonan anak dengan terukur yang jelas - menit atau jumlah film setiap sebelum mulai screen time. "Hari ini kakak cuman boleh 1 jam ya nontonnya / Hanya boleh 2 film pendek ya kak setelah itu sudah". Selama anaknya masih toddler lebih baik di download lalu pasang di TV, karena kontennya bisa kita control. Banyak banget video anak yang kartun tapi gak appropriate. Banyak juga yang appropriate aja sih,tapi necessary gak sih untuk ditonton berulang-kali? Kaya contohnya baby shark, sekali duakali ditonton baguslah nambah kata-kata shark, grandma, grandpa, daddy, mommy (yang sebenernya kita udah dapet juga dari berinteraksi sama keluarga sehari-hari). Tapi kalau ampe 100x dalam seminggu? Apa perlu?
  • TERJADWAL. Walaupun list yang saya kasih dibawah cukup edukatif tapi bukan berarti juga bisa nonton sepanjang dan setiap hari. Saya tadinya gak membolehkan Dio nyalakan TV dan gadget sama sekali kalau weekdays, lalu kalau weekend sehari paling banyak boleh 2 film panjang dibagi 2 x nonton. Sekarang sejak tontonannya lebih berbobot, saya membolehkan Dio untuk nonton boleh 3x di weekdays tapi HANYA  2-3 video pendek (2-3 menit) mengenai agama/bahasa atau pengetahuan umum. 
  • SELALU DIAWASI. Bukan berarti diplototin sepanjang film ya, cuman juga jangan dikasih playlist lalu ditinggal begitu saja, terutama untuk yang pegang hp/ipad sendiri. Setiap 15 menit mungkin perhatikan aja, karena seringkali anak bosan dan dengan cepat mengganti-ganti video sesuka hati. Banyak sekali content yang tidak appropriate dalam bentuk kartun sekalipun.

Diatas ini saya sharing pengalaman pribadi ya, jadi bukan mau menyinggung pihak manapun yang memberikan anaknya nonton. Sayapun jujur sulit banget mengontrol DIRI SENDIRI, dibanding ke anak. Jadi we all have our own struggle. Kalau saat membaca ini dalam kepala langsung "Yahhh itu gw lakuin semua, gimana ya, kan udah terlanjur.. Anak gw udah addict sama gadget mau diapain lagi?". Bisa coba tonton video saya disini ya, saya sempat share 7 tips yang saya lakukan saat Dio sempat mayan addict sama iPad dan tontonan YouTube, gara-gara beberapa bulan pertama kehamilan anak kedua saya mual banget dan gak bisa ngapa-ngapain. 

"Apple does not fall far from the tree". Tentunya walaupun sudah dibatasi anak saya kecintaan banget sama yang namanya nonton. Nonton TV tuh dia bahagia banget, ya gimana enggak?, pas hamil dia saya cuman nonton TV dari pagi ampe sore. Anak saya tipenya juga mudah sekali menyerap perkataan yang ada di film. Makanya saya cerewet banget sama pemilihan film dirumah orang tua saya. Karena begitu dikasih nonton yang kurang baik itu saya bener-bener bisa tau lho tanpa dikasih tau. Malamnya pasti perilaku dan perkataan anak saya langsung banyak yang baru. Kalau saya dulu tipenya walaupun nonton TV terus tapi tetep gak ada yang nyerep. Cuman dapet magernya aja, tapi gak perah mudeng informasi yang penting-penting. Kaya sampe sekarang kalau nonton bioskop saya inget ceritanya tapi gak pernah inget sama nama-nama pemainnya kecuali sudah 3-5x nonton. Tipe anak kan beda-beda ya makanya kita harus hati-hati. Akhir-akhir ini saya mulai merasa kartun-kartun yang ada dipasaran membuat Dio jadi lumayan kasar dan ngomongnya aneh-aneh , walaupun sudah selective sekali. 



Lalu tiba-tiba minggu lalu sempat dikasih link channel YouTube sama suami yang isinya kece-kece. Sempat ngobrol sama Irna juga dan dapat rekomendasi dari Irna. Kok bisa-bisanya gak tau selama ini! Taunya video kartun nyanyi-nyanyi doang makanya gak pernah nyalain YouTube untuk anak. (Bukannya video isi lagu anak-anak gak penting ya, tapi kalau denger lagu biasanya kami pake speaker, jadi gak perlu ditonton gitu). 

Berikut rekomendasi video edukatif untuk anak. Menurut saya sih video dibawah bisa banyak manfaatnya, terutama kalau di download lalu dimasukin USB dinyalakan saat anak-anak dititip rumah nenek-kakeknya. Daripada nonton yang aneh-aneh yakan? Ohiya list dibawah ini cocok untuk 3 tahun keatas, kalau untuk baby sampai 2 tahun baiknya gak terpapar screentime sama sekali sih menurut American Academy of Pediatrics, anak diatas 2 tahunpun hanya boleh sejam setiap harinya, bisa dibaca disini:

1)Sci Show Kids
My personal favorite! Sebagai anak yang dulu gak suka belajar dan sukanya nonton TV, kalau udah ada ini dari dulu mungkin kulebih mudeng di sekolah. Penjelasannya enak banget, dengan animasi yang menarik tentang berbagaimacam hal yang terjadi disekitar kita, mulai dari space, human body, science experiment, animals, and machines!



2) Peek a Boo Kidz - Dr.Binocs Show
Ini setipe banget sama si Sci Show Kids, namun Dio lebih suka karena full animasi. Ini rekomendasi dari Irna. Kalau favorit aku sama Dio season 2, yang seri inventions, jadi ada invention of train, bulb, video game, paper, and so on.



3) Alphablocks
Don't judge a book by it's cover. Jadi pertama kali lihat channel ini saya langsung gak suka sih, soalnya bentuk kartunnya terlalu warna warni dan distracting banget. Tapi setelah ditonton ternyata kartun ini ngajarin PHONICS toh. Kebetulan udah segala cara saya coba sama Dio mulai dari pre-writing skill di pasir warna, bentuk-bentuk pakai playdough, sama tracing juga dia gak tertarik. Jadi akhirnya barusan aja saya bolehkan nonton si Alphablocks ini kayanya lumayan ternyata kontennya, dan dibagi playlistnya berdasarkan level membaca anak. Saya sarankan jangan dinyalakan playlistnya terus kita tinggalin nonton begitu saja. Tetap ajak anak diskusi "Wah itu huruf apa ya kak?". Ajak juga anak mengulangi prononciationnya bbbhhh ttthhh dsb. Baiknya diimbangi sama membaca buku cerita Phonics yang ada levelnya juga untuk memaximalkan efeknya ke anak.



4) Learn with Zakaria
Ini rekomendasi dari Irna, untuk yang ingin mengajarkan anaknya Bahasa Arab atau Perancis. Ada juga hafalan doa pendek serta ayat kursi. 

5) Kids Learning Tube
Ini berbagai macam lagu mengenai solar sytem, countries, human body, sampai periodic table. Nadanya agak datar dan mukanya kadang creepy haha, cuman kontennya bagus-bagus! Dio sempat tertarik banget baca-baca mengenai berbagai macam planet karena dengar lagu dari sini.

6.Nat Geo Kids

Kalau anaknya tertarik dengan macam-macam binatang ini bisa jadi channel yang menarik untuk ditonton. Dulu dio suka sih memang nonton Nat Geo dan Animal Planet, tapi sekarang jarang mau nonton, karena lebih tertarik dengan science video


7. Illuminated Films
Story telling buku-buku serinya Eric Carle & Little Princess. Bagus sih suka, karena selama ini bacain bukunya aja, liat animasinya gemas! Tapi jangan sampe ini menggantikan bonding time saat membaca buku langsung sama anak ya. 

7) Science Max
Ini mustinya masuk ke rekomendasi usia 6 tahun keatas sih, tapi dari kesepuluh video ini, favorit Dio nomor 1 kalau ditanya adalah Science Max! Caranya si Phil (pembawa acaranya) memeperagakan berbagai macam experiment kecil lalu dibuat besar itu seru banget. Perpindahan scenenya juga cepat, jadi walaupun ini video 20 menit gak membosankan. Saya aja yang dulu bilangnya gak suka science jadi suka lho liat ini. Dio yang tadinya udah males bebikinan, hampir tiap hari minta bikin experiment terus sejak nonton Science Max. Namun lagi-lagi saat nonton diajak diskusi dan di briefing ya, dan ditekankan kalau harus ditemani saat membuat experiment tersebut. Karena ada tendency anak ingin kreatif dan jadi ingin memporak-porandakan rumah habis nonton ini.

Ini dari jaman dulu banget ya dan di semua website rekomendasi channel untuk anak pasti di rekomendasiin. Jujur aku pas kecil kayanya gak terlalu mudeng deh ini tentang apa. Kalau Dio juga pernah nonton sekali dua kali aja yang versi barunya tuh The Furchester Hotel dan aku gak terlalu suka. Ternyata kata Irna banyak yang bagus seperti mengajarkan tentang uang, tapi somehow yang upload bukan si Sesame Street. Bisa coba cek Money Mindful Kids (another recommendation from Irna). Kalau di page-nya Sesame Street sendiri aku paling suka video-video tentang makanan, mereka banyak mengajarkan tentang makan sehat dan mengenalkan sayuran ke anak-anak. 

Nomer 1-8 tontonan yang cocok untuk usia toddler keatas, yang memang saya kasih ke Dio saat screentime (untuk Science Max mungkin harus lebih besar ya). Untuk rekomendasi yang dibawa ini sepertinya lebih sesuai untuk anak usia 8 tahun keatas sampai dewasa, karena ilustrasinya bagus sekali, cara menerangkannya juga enak, tapi beberapa bahasannya terlalu complex, jadi saya belum kasih ke Dio (usia 4.5 tahun). Silahkan disesuaikan dengan usia anak masing-masing.





Amoeba Sister


Stated Clearly

Crash Course

Ada juga channel edukatif Bahasa Indonesia. Bukan untuk toddler ya ini! Sepertinya lebih cocok untuk anak SMP keatas. Untuk ilustrasi dan cara ngejelasinnya bagus, cuman saya personally gak terlalu suka sama pemilihan topiknya:

Kok Bisa?

SainsBro
Rekomendasi yang terakhir-terakhir rada berat kayanya bahasannya lebih cocok untuk anak SMP keatas ya? Walaupun sepertinya pembaca PM pasti jarang yang anaknya sudah SMP, for now lumayanlah buat kita-kita nambah pengetahuan. 

Ohiya mau mengingatkan sekali lagi ya. Walaupun rekomendasinya edukatif, tapi bukan berarti anak-anak bisa nonton sepanjang dan setiap hari ya. Ingatlah lagi bahwa semua yang berlebihan itu tidak baik. Seimbanglah dengan anak beraktifitas fisik main diluar, anak bermain dengan mainannya, dan berinteraksi dengan orang disekitarnya. Jangan lupa juga untuk selalu memikirkan jangka panjang disaat ingin membiasakan habit baru pada anak. Setiap keluarga tentunya memiliki peraturan dan kebiasaan yang berbeda-beda, dan tentunya tau apa yang terbaik untuk anaknya. Disini saya sharing berdasarkan pengalaman pribadi. Semoga membantu untuk yang mencari list video edukatif untuk anak! 

TIPS UNTUK MENCEGAH ANAK TANTRUM BELI MAINAN

  • 19 November 2017


Point dibawah ini sebenarnya tadinya tergabung dalam artikel Tips Memilih Mainan, namun kayanya perlu perhatian khusus dan akan lebih fokus apabila dipisah. Seringkali kita (termasuk suami dan kakek nenek) membelikan anak mainan secara berlebihan. Mainan dijadikan kompensasi untuk perhatian atau waktu yang hilang, padahal anak hanya perlu kita untuk HADIR sepenuhnya, barang itu hanya kesenangan sesaat. Setuju? Sebelum aku masuk ke cara memilih mainan yang baik. Disini aku sering dapat pertanyaan dari teman-teman. "Kok anak lo di toko mainan gak pernah minta apa-apa sih? Sedangkan anak gw sering tantrum kalau gak dibeliin apa-apa". Nah disini aku ingin share tips untuk mencegah itu terjadi berdasarkan pengalaman pribadi aku, yang sebenarnya bukanlah merupakan sesuatu yang baru, namun lebih sebagai reminder saja.

Ngomong-ngomong mengenai mainan, sebelum masuk ke penjelasan, perlu diketahui bahwa persentase mainan dirumahku terdiri dari:
10% beli sendiri
20% endorsement (tapi sangat selective) 
20% lungsuran kakak ipar
30% dibeliin eyang 
20% kado-kado ultah

Jadi yang benar-benar kami beli sendiri itu selective dan jaraaaaaang sekali. Kalau ada yang dikasih itupun juga banyak yg masih tersegel didalam lemari, either mau disumbangkan, disewakan, atau dikasih kado ke orang. 

Nah karena jarang beli ini aku rasa menjadi alasan kenapa Dio tidak pernah tantrum minta mainan. Dari kecil, ia mengasosiasikan toko mainan dengan tempat untuk melihat-lihat saja (museum? haha). Kalaupun kami beli ya sesekali banget kalau kami menemukan yang bermanfaat, dan frekuensinya bisa jadi sekali dalam 6 bulan. Lalu kami ajak dia berdiskusi. Kalau memang ada yang kami sama-sama suka banget aja baru kami beli gt. Jadi ya kembali lagi ke HABIT ya alias kebiasaan. Kalau yang setiap pergi ke Mall beli mainan, biasanya anak mengasosiasikan pergi = beli, makanya begitu sekalinya gak beli ia akan tantrum. Ini sama casen-ya dengan naik chochoo train, atau zoomoov. Mungkin dari 100x kami ke mall, kita main itu hanya 3x. Sehingga walaupun dia senang naiknya, tapi dengan melihat choochoo train lewat saja juga sudah happy. Bukan berarti naik choochoo, zoomov ataupun beli mainan itu buruk ya, namun saya pribadi mikirnya perbandingan antaran benefit dan perilaku anak long term kurang sebanding.

Selain kebiasaan, kalau memang sudah terlanjur, briefing itu penting banget! Afirmasi positif ya ke anak dari malam sebelum, pagi hari saat mau pergi, dan dijalan juga. Saya selalu bilang "Kak, kakak boleh keliling lihat-lihat mainan, tapi lihat saja yaa kita gak beli.". Dia sudah cukup paham biasanya. Namun kalau sudah terlanjur, briefing-nya ini harus lebih sabar, konsisten, dan diulang terus-terusan setiap pergi sampai akhirnya anak membentuk habit yang baru. 

Selain tips ini, saya dapat pertanyaan juga sih dari teman. "Kalau mainan itu bagus untuk stimulasi, trus kenapa gak boleh beli mainan?". Bukan gak boleh sih, tapi mengurangi dan lebih selective aja. Intinya semua yang berlebihan itu tidak baik bukan? Menurut pengalaman pribadi mainan yang berlebihan memiliki dampak:
  • Anak jadi kurang kreatifitas, tidak punya keinginan untuk menciptakan sesuatu dari nol,
  • Anak jadi tidak bisa menghibur diri sendiri dengan benda disekitar (gelas kosong, kardus bekas, dsb).
  • Anak tidak menyepelekan dan tidak menghargai mainan. Seenaknya merusak , menghilangkan, dan malas membereskan. "Ah banyak ini ngapain dirawat, kalau rusak tinggal beli lagi". 
  • Anak cepat bosan dan cepat terdistract alias gak fokus. Kalau didalam satu kamar ada lebih dari 50 mainan, baru buka yang A 5 menit bosen ah, buka yang B, buka yang C, kalau semua sudah kebuka trus bosen. Karena gak pernah ada kesempatan untuk lama sama mainan yang ada. Selalu ada yang baru.
  • Tentunya kita tau bahwa stimulasi dengan alam dan bermain diluar itu baik sekali untuk anak. Kalau kebanyakan mainan di kamar AC, anak jadi malas panas-panasan keluar. 
  • Anak malas membuat prakarya, orang sudah banyak mainan jadi ngapain buat sendiri (anak yang sering membuat prakarya atau DIY memiliki kreatifitas, sifat ingin tahu, sensori, making something out of nothing yang tinggi).
  • Anak jadi konsumtif dan ketergantungan mendapatkan instant happiness. Mendidik anak itu goalnya adalah long term result, instead of quick solution. Jadi bosen itu gak apa-apa lho. Dengan bosan itu anak jadi cari solusi sendiri, dan menemukan cara kreatif untuk main dari apa yang sudah ada. 
Aku ngomong gini karena sempat dimasa anak pertama adalah cucu pertama, mendapatkan banjir hadiah dari sana sini terutama eyangnya. Selain itu aku baru memulai Productive Mamas dan banyak dapat endorsement mainan. Mainan yang ada dirumahku sangatlah banyak, belum lagi dapat kalau ulang tahun. Aku dulu gak menyadari itu berlebihan. Suami sih udah ngomel-ngomel tapi ya aku sempat bilang " Apaan sih gak apa-apa mainan kan bagus untuk stimulasi blablabala". Suami selalu bilang " Ya emang bagus, tapi apa perlu sebanyak ini? Banyak yang nganggur dan akan jauh lebih bermanfaat apabila dikasih ke orang lain. Itu rejeki orang kamu tumpuk-tumpuk di lemari. Anaknya juga jadi gak menghargai barang.....". Langsung terdiam dan menyadari bener juga ya. Itu semua point diatas aku ngerasaain sendiri. Bahwa anak aku sempat seenaknya sama mainan, gak fokus mainnya, males kalau aku ajak membuat prakarya, males main keluar rumah, dan cepat sekali bosan.

Akhirnya aku bongkar semua itu lemari, kalau yang sudah tidak layak ya dibuang. Namun untuk yang masih bagus aku bagi dua, ada yang ditiitp sewa atau jual ke Babyloania (bukan pesan sponsor ya, tapi emang beneran menurut aku bermanfaat banget ini solusi untuk kurangi barang dirumah). Lalu ada yang dikasihkan ke mbak aku dan mbak mama untuk dikirim ke kampung. Kebetulan banyak tetangganya sama cucunya si mbak yang laki-laki juga jadi sepertinya mainannya bis alebih bermanfaat untuk mereka. Bukan berarti gak boleh beli mainan sama sekali, tapi alangkah baiknya apabila kita punya batasan. Misalkan hanya boleh 20 mainan, kalau beli baru harus ada yang keluar. Kalau aku pribadi sulit sih angka, jadi akhirnya menetapkan cuman boleh 1 lemari (dari tadinya hampir 5 lemari!) ini isi mainan, kalau sudah gak muat ya harus langsung dikasihkan ke orang. Jadi lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas. Untuk yang tinggal di Jakarta dan anaknya usia 0-3 tahun, aku bisa sarankan untuk sewa mainan di Playship by Hoopla, mainannya sudah curated yang memang high quality dan award winning. Tipe mainannyapun banyak yang gak masuk di Indonesia. Untuk yang ingin sewa mainan satuan dengan merek yang lebih common seperti ELC, Fishcerprice, sepeda, bounce, bisa coba Babyloania, Gigel.id, atau Toiss.id. 


In conclusion, mari menjadi pembeli yang smart dan gak konsumtif bukan hanya dalam memilih mainan, tapi dalam membeli semua barang. Apakah kita benar-benar perlu? apakah ini untuk menyenangkan diri kita sendiri atau benar untuk anak kita? Setiap melangkah yang simple-simple aja, ke anak itu harus dipirkan long term effectnya ya. Sesuatu yang keliatannya 'harmless' seperti selalu membeli mobil-mobilan harga 15.000 di supermarket, apakah akan mem-build habit yang 'harmful' kedepannya? Tentu kita sebagai orang tua yang bisa memutuskan. Semoga bermanfaat dan nantikan artikel berikutnya, akan ada Tips Memilih Mainan! Stay tuned!
·
OLDER
© Productive Mamas Blog