SLIDER

8 Ide Self Care di Rumah Versi Productive Mamas

  • 15 April 2021

 




Melakukan segala kegiatan di rumah semasa pandemi untuk beberapa orang memang terasa berat. Beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang mengharuskan kita lebih banyak beraktivitas #dirumahaja juga bukan hal yang mudah, tekanan keadaan bisa membuat kita stress bahkan berpengaruh pada menurunnya imun tubuh.

 

Belum lagi padatnya rutinitas dn banyaknya pekerjaan yang harus kita  selesaikan setiap hari, tentu tak jarang membuat kita merasa jenuh.Sebagai ibu negara di rumah, terkadang karena terlalu lelah “berjuang medn perang” bahkan kita kerap kali lupa untuk merawat diri sendiri (self-caring).

 

Nah, kegiatan self-caring atau merawat diri tak ini, tak melulu soal fisik, melainkan juga mental dan pikiran kita yang juga penting untuk dirawat dan diperhatikan.


Untuk mama yang sedang mencari cara untuk melakukan perawatan diri, berikut ada beberapa tips kegiatan yang bisa mama lakukan untuk menyegarkan diri sekaligus memenuhi baterai energi. Tentunya mudah dilakukan di rumah dan nggak menghabiskan banyak waktu. 


Apa saja? Yuk, simak berbagai idenya di atas!

 


Mengonsumsi makanan yang sehat


Banyak yang tak sadar kalau istilah  “you are what you eat” itu memang benar adanya, karena pola makan dan konsumsi asupan yang sehat dan bergizi bikin mood jadi lebih baik.


Selain itu, pola makan sehat juga bisa membuat tubuh kita memiliki energi yang cukup untuk menjalani aktivitas yang padat dan fokus dalam membersamai anak. Jadi, daya tahan tubuh kita pun akan kuat dan tidak gampang sakit.

 


Olahraga ringan


Kadang karena terlalu sibuk dengan tugas di rumah kita jadi merasa tidak punya banyak waktu untuk olahraga.


Padahal yang utama dari olahraga itu bukan seberapa lama olahraga itu dilakukan dalam sehari, tapi tentang bagaimana kita bisa tetap konsisten melakukan olahraga secara rutin, meski dalam waktu terbatas.


Cara yang bisa mama lakukan pertama adalah NIAT dan TEKAD YANG KUAT, selanjutnya mama bisa menjadwalkan sesi olahraga ringan di pagi atau sore hari.


Karena olahraga bisa melancarkan aliran darah, juga efektif meningkatkan energi kita seharian. Olahraga atau exercise akan melancarkan aliran darah dan membuat imun jadi lebih kuat. 

 


Melakukan hobi


Meluangkan waktu untuk melakukan hal yang menyenangkan dapat bermanfaat untuk meringankan suasana hati serta membuat energi kita kembali terisi.


Dan selama kita menikmati dan tenggelam dalam kegiatan tersebut bukan berarti kita hanya menghabiskan waktu, tetapi juga memberi jeda ke tubuh dan pikiran kita untuk menyegarkan diri kembali.



Istirahat dan Memberi jeda ke diri sendiri


Beristirahat bisa jadi terapi terbaik bagi tubuh. Untuk itu, kita bisa mencoba tidur lebih awal dari jadwal biasanya.


Caranya adalah menyingkirkan gadget di sekeliling kita dan bersiaplah untuk istirahat dengan tenang. Dijamin kita akan kembali segar saat bangun!


Dan selama kita masih bisa bekerja dengan produktif dan mengambil istirahat yang cukup, itu juga bukan masalah.


Hanya jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan semua hal karena kadang kita lupa mendengarkan kata hati dan mengabaikan alarm dari diri sendiri, sehingga kelelahan dan tidak punya waktu untuk istirahat.



Mencari hal-hal lucu yang dapat membuat kita tertawa


Karena dengan tertawa beban seseorang akan sedikit berkurang, maka kita juga perlu menghibur dan merawat diri dengan cara ini.


Kita bisa mencari video-video lucu, menonton acara komedi, ataupun membaca tulisan yang berbau humor. Dijamin jiwa dan raga kita seketika akan kembali segar dan bersemangat !.

 


Mempelajari Hal Baru

Salah satu self care yang dapat menambah pengetahuan baru dan meningkatkan profesionalitas adalah melalui online class.


Selama #dirumahaja kita bisa meluangkan waktu untuk belajar hal baru, entah melalui tutorial tertentu dari kanal YouTube favorit atau mengikuti berbagai program keterampilan yang diselenggarakan secara daring.


Dengan begitu, kita dapat mengembalikan fokus dan juga energi serta menambah kepercayaan diri.

 



Bersih-bersih Rumah


Pandemi tentunya adalah salah satu hal di luar kekuasaan kita, bebas beraktivitas di luar rumah juga tidak dapat kita lakukan.


Nah, sekarang waktunya kita mengendalikan apa yang bisa kita lakukan di rumah. Misalnya, bersih-bersih kamar, lemari, atau dapur


Memang terlihat sepele, namun nyatanya hunian yang bersih akan memberi nuansa segar dan nyaman ketika kita banyak melakukan kegiatan di rumah. Yuk,dicoba!

 

 


Meluangkan waktu untuk perawatan tubuh dan skincare


Kesibukan mengurus rumah dan menyelesaikan berbagai pekerjaan seringkali membuat kita lupa untuk memanjakan tubuh.


Padahal ada banyak kegiatan self care yang dapat kita lakukan di rumah, misalnya dengan melakukan skincare routine, luluran dengan berbagai jenis body scrub beraroma, berendam sambil mendengarkan musik atau bubble bath, atau sekadar mandi lebih lama dari biasanya.


Dengan melakukan perawatan tubuh secara rutin, kita dapat meningkatkan kepercayaan diri dan sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.


Selain itu, memanjakan diri dapat membuat tubuh merasa lebih rileks, membasuh emosi negatif dalam tubuhmu. Serta perawatan tubuh dan skincare juga dapat menghidrasi. Bahkan, keduanya bisa memberikan vitamin yang akan mengembalikan nutrisi pada tubuh.




Yuk, Simak Cara Mengelola Emosi Setelah Setahun #dirumahaja !

  • 29 March 2021


Awal menghadapi pandemi kita merasa waktu 24 jam dalam sehari rasanya kurang, karena kegiatan yang biasanya kita lakukan di luar rumah seketika harus dikerjakan secara daring dari dalam rumah.


Mulai dari harus menjalani Work from Home (WFH), menjadi guru dadakan untuk anak-anak yang juga harus bersekolah dari rumah, mengurus tugas negara yang tak kunjung usai dan banyak hal yang tak pernah kita duga sebelumnya akan terjadi.


Setelah satu tahun berlalu dan pandemi belum juga usai, rasanya kita sudah mulai beradaptasi dengan rutinitas sehari-hari yang serba terbatas di rumah.


Mengerjakan kegiatan yang sama berulang-ulang dengan orang-orang yang sama pula serta dalam tempat yang sama selama berbulan-bulan, ternyata membuat diri kita penat menjalaninya.


Waktu bersama keluarga menjadi overqualitytime, hampir setiap waktu kita mengisi hari hanya dengan keluarga dan sangat terbatas untuk bertemu dengan orang lain.


Setelah kita dapat beradaptasi dengan keadaan selama pandemi, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana cara mengatasi kebosanan saat 24 jam bersama?


Nah, minggu lalu Tim Productive Mamas bersama Tim Relawan Keluarga Kita (Rangkul) mengadakan sesi online berupa Instagram Live dengan mengangkat tema Hubungan Reflektif. 


Sesi Rangkul Kolaborasi (SeRasi) ini dipandu oleh Nina dari Tim Rangkul Keluarga Kita serta Afdita dari Tim Productive Mamas yang membahas tentang Manajemen Emosi saat 24 Jam Bersama.


Menjawab kerisauan para orang tua yang seakan berada dalam penat setelah setahun lamanya harus beraktifitas #dirumahaja bersama keluarga terdekat, Nina mengawali sesi dengan mengingat pernyataan yang pernah diutarakan oleh Ibu Najelaa Shihab yang mengatakan bahwa sebenarnya terkadang kita butuh memiliki rasa bosan, karena dari rasa bosan tersebut akan muncul ide-ide baru.


Memang saat dilanda pandemi seperti ini, tidak sedikit orang-orang di sekitar kita yang menyibukkan diri dengan mempelajari hal-hal baru atau berinovasi tetap bisa berkegiatan.


Misalnya seperti banyak usaha baru yang muncul, hadirnya teknologi baru, hingga kebiasaan positif baru yang ikut terbentuk.


Jadi, sesungguhnya kebosanan itu tidak perlu kita hindari, karena mungkin saja rasa bosan tersebut tidak melulu akan menjadi masalah, tetapi bisa saja membawa berkah di hidup kita.


Kiat Mengatasi Kebosanan Selama di Rumah


Kebosanan selama #dirumahaja juga dirasakan oleh anak-anak kita, cara untuk mengatasinya pun berbeda-beda di tiap tahapan usia.


Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kita dapat mengajaknya diskusi mengenai perasaan yang sedang dia alami, kita mencoba berempati dengan apa yang dia rasa dan bersama-sama mencari solusi menghadapi kebosanan tersebut.


Sedangkan, untuk menghadapi kebosanan anak dengan usia yang lebih kecil, kita bisa memberikan ide-ide bermain atau berkegiatan di dalam rumah.


Nah, salah satu berkah selama pandemi ini adalah banyaknya para orang tua yang saling sharing ide-ide untuk berkegiatan bersama di rumah, hal itu bisa kita terapkan dalam menghadapi kebosanan si kecil.


Afdita juga menambahkan, salah satu cara yang ia lakukan di rumah untuk menghadapi rasa bosan adalah dengan membebaskan anaknya untuk berkegiatan apapun di dalam rumah, meski pada akhirnya kerapihan rumah yang harus direlakan.


Sejujurnya, untuk Dita yang sehari-hari menjalani pekerjaan dari rumah dan harus menemani anak yang juga bersekolah dari rumah, itu bukanlah sesuatu yang mudah. Ia sadar, tidak semua hal dapat berjalan sempurna sesuai yang ia inginkan, harus ada hal yang ia relakan.


Dita juga belajar untuk mengelola ekspetasi, sehingga perlahan ia bisa menikmati hal-hal yang tidak mudah berjalan beriringan seperti kerapihan rumah dengan kegiatan bebas anak selama di rumah.


Yang juga perlu diingat adalah kita harus tahu sifat bawaan anak, karena kalau dia anak yang aktif berarti kita harus memberinya kesempatan untuk bergerak.


Kita juga perlu memberikan penjelasan pada anak, bahwa ada hal-hal yang dapat dan tidak dapat kita kontrol.


Kondisi pandemi ini adalah salah satu contoh hal yang terjadi di luar kendali kita sebagai manusia dan ini menyangkut orang banyak, jadi sebisa mungkin kita menyadari situasi dan kondisi yang sedang kita alami, sehingga kita tahu harus berbuat apa untuk menghadapinya.


Menyiasati Me Time Saat Pandemi


Terkait soal kebosanan, sebelum pandemi berlangsung biasanya salah satu cara kita menghilangkan rasa bosan adalah melakukan me time. Nah, ajang me time atau memanjakan diri dengan pergi keluar rumah adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu.


Sayangnya saat ini kegiatan me time di luar rumah tidak bisa lagi dilakukan, untuk menyiasati hal tersebut Nina memiliki kiat-kiat khusus diantaranya


Pertama, belajar untuk mengenali kebutuhan diri. Ada banyak macam kebutuhan diri, seperti kebutuhan asupan, kebutuhan gerak, kebutuhan bersosialisasi, kebutuhan beristirahat dan lain sebagainya.


Biasanya untuk tetap seimbang dan waras, orang tua haruslah bijak untuk mengelola waktu, tak hanya waktu untuk diri sendiri tetapi juga mengimbangi waktu untuk berbagai kebutuhan anak.


Dengan pengaturan waktu yang baik, kita dapat berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan diri kita dan anak sebaik mungkin.


Kedua, menyadari peringatan (alarm) dari dalam diri. Biasanya kalau kita sudah mulai sering marah-marah, tandanya kita butuh jeda dan memenuhi kebutuhan diri untuk beristirahat.


Sebisa mungkin kita mengenali diri dan bisa mengelola energi, serta mencoba mendengarkan diri sendiri yaitu dwngan tidak mengabaikan alarm diri sehingga tidak mengakibatkan kita burn out.


Jadi, sebelum alarm itu berdering kita sudah tahu atau sadar kalau kita perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri yang belum terpenuh, misalnya kita butuh mengobrol dengan orang lain (kebutuhan bersosialisasi) atau tanpa sadar kita bekerja terlalu lama dan terlewat waktu makan (kebutuhan asupan).


Selanjutnya, dengan bijak mengelola waktu anak, kita juga dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan apa pada anak yang belum terpenuhi.


Yang terakhir,menyiasati me time dengan berkegiatan di dalam rumah. Misalnya dengan menonton film kesukaaan, mandi lebih lama, dan lain-lain. 


Yang terpenting saat me time, kita menyeimbangkan dengan waktu keluarga, artinya ada seseorang yang dapat menggantikan sementara tugas kita di rumah, jadi saat me time kita pun tidak khawatir terhadap kelangsungan rutinitas di rumah.


Lalu, bagaimana cara kita meredam amarah saat kita di rumah?


Perlu diingat, bahwa marah adalah salah satu bentuk emosi. Dan emosi itu harus diterima dan dirasakan kehadirannya.


Kadang kita mudah berespon marah ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan kita. Kita perlu mengenali diri saat lelah atau situasi lain yang menyulut emosi, sehingga kita bisa memilih respon yang lebih tepat. 


Segala emosi yang ada dalam diri kita itu fitrah, jadi pengelolaannya mungkin butuh proses seumur hidup.


Intinya, sebagai kita tidak boleh takut gagal sebagai orang tua, karena jadi orang tua itu kesempatannya ada setiap hari.


Jadi, jika hari ini kita gagal mengelola emosi, kita coba refleksi diri untuk tahu apa yang akan kita lakukan, sehingga di lain waktu kita bisa lebih waras dan lebih baik dalam merespon.


Support System Yang Baik


Penting juga kita memiliki support system yang baik dari orang-orang terdekat, mulai dari suami, orang tua, maupun sahabat.


Kadang kala peran di rumah sebagai istri dan ibu mengharuskan kita untuk dapat mengatasi berbagai hal, termasuk menjadi tempat berkeluh kesah suami dan anak-anak. Sedangkan, curahan hati dari diri kita sendiri malah kadang terabaikan.


Nah, dengan memiliki orang-orang terdekat yang dapat menjadi pendengar, kita dapat berbagi cerita dan tidak sedikit masalah yang kita alami ternyata juga sedang dihadapi oleh orang lain. Hal itu membuat kita tidak lagi merasa sendirian.


Setelah kita terus belajar mengelola emosi diri dan berusaha untuk tenang menghadapi rutinitas sehari-hari, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana cara kita menghadapi orang terdekat yang sedang tantrum?


Jawabannya sekali lagi adalah menyadari kebutuhan apa dari orang tersebut yang belum terpenuhi, sehingga diri mereka tidak nyaman.


Biasanya penyebab anak-anak yang tantrum adalah tidak terpenuhinya kebutuhan istirahat atau asupan.


Anak-anak kadang merasa bermain adalah sarana untuk ia beristirahat dari segala kewajiban, padahal bermain dalam waktu yang berlebihan akan membuat tubuhnya kelelahan, sehingga respon tubuh akan membuatnya tidak nyaman dan menimbulkan tantrum.


Dan ketika tantrum terjadi pada pasangan kita, yang harus kita lakukan adalah mengingatkan atau menyediakan kebutuhan apa yang belum sempat ia lakukan. Misalnya belum beristirahat selama bekerja dari rumah atau melewatkan waktu makan yang seharusnya.


Jadi, dalam menghadapi tantrum orang terdekat kita adalah dengan mengingatkan tentang perasaan yang ia alami dan kebutuhan apa yang belum terpenuhi, sehingga timbul respon yang lebih baik dari kedua belah pihak.


Sekian Sesi Kolaborasi Relawan Keluarga Kita dengan Productive Mamas kali ini, semoga dengan berbagi cerita dapat bermanfaat untuk mama semua yang bersama-sama sedang berjuang menghadapi hari-hari di masa pandemi bersama keluarga.


Tetap kuat dan semangat ya, mama !



(Artikel ditulis oleh Syifa Rahmi untuk blog www.productivemamas.com)



Ibu Rina, Tak Hanya Sekedar Mengajar Anak Istimewa

 

Dalam rangka memperingati hari disabilitas, Productive Mamas mengadakan bulan berbagi cerita bersama para ibu, keluarga, bahkan seorang guru yang dalam kesehariannya berkenaan dengan anak-anak disabilitas.

Pada kesempatan kali ini, tim Productive Mamas banyak sekali mendapatkan pelajaran berharga dari berbagai pengalaman Ibu Rina, seorang pengajar untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

*****

Berawal dari tidak disengaja hingga akhirnya ia jatuh cinta dalam mendalami pengajaran untuk anak-anak spesial dalam hidupnya. Pengalaman Bu Rina dalam mengajar, ternyata melahirkan banyak sekali hikmah untuknya terus belajar, salah satunya adalah dalam memahami anak-anak berkebutuhan khusus.

Pengalamannya mengajar menjadikan Bu Rina belajar untuk mengasah indera menjadi lebih tajam. Ia pun mengakui perjalanannya mendampingi anak-anak istimewa membuatnya lebih memahami mereka.

Bu Rina tidak hanya menebar ilmu dan kebaikan, namun juga mendapat limpahan pelajaran dan pemahaman.

Bahwa dengan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, ia belajar untuk mengamati. Melihat melalui ekspresi dan bahasa tubuh mereka, apakah materi yang ia sampaikan terlalu berat untuk diterima atau sebaliknya.

Lalu, pelajaran lain yang ia terima adalah tentang belajar menunggu. Bu Rina mengaku ia terus belajar untuk menahan. Menahan diri untuk tidak terlalu cepat memberi respon, bahwa ujian kesabaran tidak hanya berlaku untuknya tetapi juga untuk mereka.

Dengan memberi mereka jeda dalam menangkap materi pelajaran atau memberi kesempatan dan waktu lebih untuk menunggu jawaban mereka adalah salah satu moment berharga untuk Bu Rina maupun murid-murid istimewanya.

Keduanya saling bersabar serta belajar, bahwa mereka patut dihargai dan segala kebaikan Bu Rina perlu untuk terus diapresiasi.

Dan yang terakhir, mendampingi anak-anak bekebutuhan khusus membuatnya menjadi belajar untuk lebih ekspresif. Bu Rina menyadari betul, bahwa mimik wajah dan gerak tubuh akan banyak membawa pengaruh dalam berkomunikasi bersama anak-anak tersebut, jadi ia berusaha untuk mengutamakan ekspresi dalam membatu mereka menerima pesan komunikasi maupun pelajaran.

*****

 

Pengalaman Bu Rina mengajarkan kita untuk lebih peka dalam banyak hal, untuk lebih sabar dalam memberi kesempatan dan belajar untuk memahami bahwa ada orang-orang yang perlu pelayanan lebih untuk dimengerti.

Untuk mengetahui lebih banyak bagaimana seorang guru membimbing murid-murid berkebutuhan khusus, simak IGTV @productivemamas bersama Ibu Rina @octa1710 yang berjudul “It takes someone special to teach someone special” yang akan membahas kolaborasi antar berbagai pihak demi mencapai keberhasilan akademik anak-anak berkebutuhan khusus serta pengalamannya dalam mengajar.

(Ditulis oleh Syifa Rahmi untuk Instagram @productivemamas)

Zhafira Lobies, Semangat Berbagi Kebaikan Meski Dalam Situasi Terbatas

 

Awal April 2020 lalu, Productive Mamas mengadakan sesi sharing online bersama Zhafira Loebis bertemakan “Business and Motherhood During Challenging Times”.


Zhafira Loebis dikenal sebagai mompreneur dibalik bisnis penyewaan mainan dan perlengkapan anak, Babyloania. Melalui sharing session via ZOOM tersebut, Zhafira Loebis atau akrab dipanggil Fira telah berbagi cerita menjalani peran sebagai ibu sekaligus enterpreneur di masa pandemi ini.

*****

Pada Maret lalu, Fira dan keluarga memutuskan untuk berangkat liburan ke Seattle, AS sesuai dengan rencana yang sudah dibuat jauh hari.


Kurang lebih 3 minggu di Seattle, angka statistik COVID-19 di sana terus melonjak dan menyebar dengan cepat, sehingga Fira hanya sempat satu kali mengajak anak-anak ke taman bermain saat baru tiba di sana. Hari-hari berikutnya, ia dan suami hanya pergi keluar untuk berbelanja keperluan dapur, sementara anak-anak tetap di rumah.


Siapa sangka masa liburan tersebut mereka lewati dengan self isolation dan harus pulang satu minggu lebih cepat dari jadwal yang sudah direncanakan, kemudian mereka pun harus lanjut untuk melakukan isolasi mandiri di rumah bersama keluarga.


Namun, ketika “terdampar” di negeri orang di tengah pandemi, ternyata membuahkan banyak pelajaran bagi Fira. Tentunya, selain masa liburan keluarga yang penuh dengan quality time bersama keluarga di rumah. Di sana, Fira juga melihat bagaimana warga saling bahu membahu menghadapi keadaan pandemi yang tak pernah mereka sangka dan persiapkan.


Kagum melihat perjuangan warga AS yang bergerak cepat dalam menghadapi keadaan sulit di negaranya, akhirnya saat tiba di tanah air, Fira bersama suami memutuskan untuk ikut andil dalam menebar kebaikan untuk sesama, khususnya bagi para orangtua yang bekerja sebagai garda terdepan di dunia kesehatan.


Di penghujung Maret, Fira dan suami melalui Babyloania merilis program “Sewa Mainan Gratis Bagi Tenaga Medis” dengan tujuan untuk memberikan bantuan sebagai sesama orangtua agar dapat tenang meninggalkan anak-anak mereka di rumah selama bertugas.


Meski saat itu, Babyloania pun menjadi salah satu bagian yang terkena dampak dari Covid-19, namun Fira menyadari bahwa visi misi saat usahanya berdiri adalah untuk membantu meringankan beban finansial keluarga lain dengan menyediakan fasilitas untuk anak-anak mereka.Itulah penggerak yang membuat Fira memutuskan untuk tetap berbagi kebaikan di masa yang sulit seperti ini.


Dengan memberikan bantuan berupa sewa mainan gratis untuk tenaga medis, paling tidak itulah salah satu bentuk rasa terima kasih darinya untuk perjuangan tim kesehatan dalam menangani Covid-19 di tanah air.

Selain itu, kesibukannya sebagai entrepreneur tidak memudarkan perannya sebagai ibu dan istri di rumah, terutama di masa pembatasan sosial yang belum pasti kapan berakhirnya.


Untuk itu, Fira berbagi tips bagaimana cara agar tetap positif dalam menghadapi hari-hari dalam kondisi pandemi ini. Berikut beberapa tips dari Fira;


Pertama, Fira selalu membiasakan untuk menulis jurnal setiap hari sebagai bagian dari refleksi diri dan pelepas penat. Menariknya, selain menuliskan tentang keseharian, ia pun selalu memasukkan angka statistik Covid-19 setiap harinya sebagai “kenang-kenangan” jika suatu saat jurnal tersebut dibaca kembali oleh anak-anaknya.


Fira berharap tulisannya di jurnal bisa dijadikan pelajaran untuk mereka di masa depan bahwa mereka dapat melewati masa-masa sulit seperti ini dan masih banyak hal yang dapat disyukuri meski kenyataannya tidak semudah itu.

Kemudian, Fira menyadari untuk saat ini sulit untuk tetap berpegang pada prinsip “Work Life Balance” hingga akhirnya dia menemukan “Work Life Integrity” dimana pekerjaan dan hidup sehari-hari kita saling terintegrasi. Sehingga kehidupan dan pekerjaan dapat saling berjalan beriringan tanpa ada saling mendahului.


Fira pun percaya bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang mampu menggunakan waktu secara efisien melalui rutinitas yang jelas. Itulah yang selalu ia tanamkan di dirinya, bahwa perlunya membuat batas-batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupannya.

Selanjutnya, dalam hal manajemen waktu Fira memiliki aturan-aturan khusus yang telah ia sepakati bersama suami. Seperti, tidak melakukan pekerjaan saat bersama anak-anak.

Keduanya sepakat untuk meluangkan waktu bangun lebih pagi untuk memulai pekerjaan dan kembali bekerja saat anak-anak tidur siang atau ketika mereka sudah di-handle oleh orang lain.


Tips berikutnya adalah pastikan kita tidak memaksa diri untuk tetap produktif di masa pandemi ini. Jangan lupa untuk set expectation dan menyadari bahwa realita tidak akan mudah untuk dijalani.

Dan yang terakhir, menerima bahwa pandemi ini efeknya besar bagi semua orang dan pastikan kita menyiapkan mental untuk sesuatu di luar kuasa kita, seperti jika harus bekerja atau bersekolah dari rumah lebih lama daripada yang kita alami saat ini


Yang terpenting adalah jangan pernah menggebu-gebu di awal dan membuang energi terlalu banyak, lakukan pekerjaan secara bertahap namum konsisten agar tetap waras dan tidak burn out.

*****

 

 

Menghadapi situasi sulit saat ini tidaklah mudah.

Salah satu cara terbaiknya adalah menerimanya sebagai berkah.

Saat ini yang kita butuhkan bukan lagi soal kesempurnaan, melainkan kebersamaan.

Mari saling bergandeng tangan dan menebar kebaikan,

Karena suatu saat, masa ini akan kita kenang bukan sebagai ujian melainkan bagian dari pelajaran.

Yuk, sama-sama belajar dari cerita founder @babyloania yang semangat berbagi kebaikan meski dalam kondisi serba terbatas, melalui IGTV @productivemamas bersama @zhafiraloebis.

 

(Ditulis oleh Syifa Rahmi untuk Instagram @productivemamas)

 

 

 

 

·
OLDER
© Productive Mamas Blog