SLIDER

MONICA CHRISTA: LADYBOSS & PASSIONATE COOK


Monica Christa adalah seorang Mama dari Argya (2 tahun), dan Business Director dari BLP Beauty, and a passionate cook! Yuk ngobrol seputar kesehariannya..

Hi Christa! Boleh ceritakan perjalanan karir kamu mulai dari kuliah sampai akhirnya memutuskan bergabung dengan BLP bersama kakak kamu?
Saya kuliah di Prasetiya Mulya dan mengambil jurusan Marketing Communication. Sejak lulus sempat kerja 1 tahun, sebelum akhirnya resign karena hamil. Setelah Argya umur 6 bulan, saya mencoba untuk berbisnis makanan camilan, waktu itu bisnis saya sudah lumayan berkembang, supply ke beberapa kafe dan dijual di Kem Chicks juga. Sampai akhirnya di bulan Juni 2016, Kakak saya memulai BLP Beauty. Tidak disangka, BLP berkembang dengan sangat pesat, antusiasme pasar begitu besar hingga website BLP sempat crash beberapa kali dan Lipcoat habis dalam waktu singkat. Waktu itu BLP Team baru berisi 4 orang, akhirnya di bulan Agustus 2016, Kakak saya mengajak saya untuk bersama-sama mengembangkan BLP Beauty sebagai Business Director. Sejak saat itu saya fokus membesarkan brand BLP Beauty bersama BLP Team.

Menurut kamu, apa sih suka dukanya jadi entrepreneur?
Sebagai seorang entrepreneur,  kita memiliki waktu bekerja yang lebih flexible, kita bisa atur waktu cuti dan mobile working kalau misalnya anak perlu ke dokter, ada acara di sekolah dll. Tapi di sisi lain, kami memiliki jam kerja 24 jam, sering tengah malam whatsapp masih rame karena ada yang perlu didiskusikan. Kadang weekend juga harus lembur karena banyak hal yang masih harus dikerjakan sendiri.
Menjalankan bisnis itu rasanya mirip (walaupun tentu gak sama)  dengan membesarkan anak sih, terharu melihat perkembangannya dari cuma ruangan sepetak sampai sekarang sudah bisa pindah ke ruko 3 lantai. Kalau lagi ada masalah, ya stres nya kayak lagi menghadapi anak tantrum gitu deh :D

Apakah 3 value / sifat terpenting yang diperlukan untuk seorang Ibu yang ingin memulai bisnis sendiri, beserta alasannya?
  1. Management Skill, membagi waktu serta perhatian antara pekerjaan dan rumah itu gak mudah, perlu pintar-pintar atur waktu dan bikin skala prioritas. Cari strategi yang paling nyaman untuk diri sendiri, misalnya karena saya paling gak bisa tidur malam, jadi saya harus bangun subuh untuk bisa menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal atau beberes rumah atau sekedar me time.  Selain itu saya selalu membuat jadwal menu makanan selama seminggu kedepan, karena saya cuma punya waktu belanja di weekend. Waktu Argya belum sekolah, saya juga membuatkan jadwal sensory play setiap hari dan menyiapkan bahan-bahan sebelum berangkat ke kantor.
  2. Flexibility, Hidup wanita bekerja itu jauh dari kata sempurna. Jangan dibawa stres kalau ada kondisi di kantor atau di rumah gak sempurna seperti yang kita inginkan. Be flexible, if plan A didn’t work, there are 25 more letters.
  3. Endurance, baik dari segi fisik maupun mental. Kita harus bertahan, juggling setiap hari antara kerjaan dan rumah. Perlu kondisi fisik yang fit yang mental yang stabil, karena yang paling berat itu kalau kita sudah sakit. Beban tanggung jawabnya bukan hanya dengan orang rumah, tapi juga urusan kantor.

Setuju sama poin-poin tersebut! Dengan segala kesibukan kamu, jadi penasaran gimana caranya kamu membagi waktu. Boleh ceritakan A Day in the Life of Monica Christa?
Pk 05.00, Bangun, biasanya untuk me-time, beberes atau kerja kalau ada yang perlu dikerjakan.
Pk 07.00 Menyiapkan sarapan/bekal untuk anak & suami
Pk 07.30 Sarapan bersama sambil main/ngobrol
Pk 08.30 Mandi & Dandan (Kalau pagi, Argya mandi sama Ayahnya)
Pk 09.00 Menyiapkan Argya berangkat sekolah (masuk siang)
Pk 09.15 Berangkat ke kantor naik KRL/naik mobil bareng suami.
Pk 10.00-Pk 17.00 Sampe di kantor, lalu 70% nya kerja, sisanya buat bercanda :D
PK 17.15 Pulang (most likely selalu teng-go, kecuali kalau banyak deadline & meeting)
Pk 18.15 Sampai di rumah, lalu main
PK 19.00 Masak untuk makan malam, lalu mandi
Pk 19.30 Makan malam saya & suami (Argya sudah makan Pk 18.00)
Pk 20.00 Naik ke kamar untuk cuci-cuci, sikat gigi, baca buku & ngobrol
Pk 21.00 Kelonin Argya (biasanya sih saya ikut tidur juga).


Ini jadwal kalau lagi slow, kalau lagi banyak event atau launching product sih nggak sesantai ini.

Untuk Christa, apa sih hal yang paling menyenangkan dari menjadi seorang Ibu?
Rasa dibutuhkan dan dicintai yang luar biasa besar dari anak. Teriakan gembiranya  Argya setiap saya pulang kantor itu, gak tergantikan :)

What do you think are the most challenging part of being a mother?
Melatih kesabaran, karena saya orangnya gak sabaran. Kadang saya suka “kelepasan marah” kalau lagi banyak pikiran dan Argya rewel/tantrum. Di saat seperti itu saya paling merasa gagal jadi Ibu yang baik. Cara menangani nya biasanya saya menjauh dulu, begitu sudah tenang baru kami SALING meminta maaf dan saya tanya kenapa Argya nangis dan kasih penjelasan kenapa Ibu marah.

Bagaimana cara Christa meluangkan me time ditengah kesibukannya?
Wah penting banget! Kalau sehari-hari, paling sempetnya cuma browsing social media atau nonton Netflix subuh-subuh sebelum pada bangun. Tapi karena di kantor BLP suasana kerjanya juga menyenangkan, jadi terasa kayak me time juga setiap hari. Selain itu yang gak kalah penting adalah quality time sama suami. Kami rutin “kencan” minimal 2 minggu sekali dan liburan berdua setahun sekali sejak Argya disapih.


Kami perhatikan, kamu rajin sekali memasak untuk keluarga. Darimana kamu mendapatkan tenaga dan inspirasi untuk rajin memasak di rumah despite your busy schedule?
Buat saya masak itu hobi dan hiburan, jadi biasanya kalau lagi banyak pikiran malah makin rajin masak hahahhaahah. Inspirasi paling besar adalah Ibu saya. Beliau pinter sekali masak, dan buat saya kalau saya berhasil re-create masakan Ibu itu kepuasannya jadi double, apalagi kalau suami dan anak makannya lahap, capeknya jadi gak kerasa!


Boleh share bagaimana cara kamu mengatur menu makanan di rumah? Lalu adakah tips&trick dalam memilih menu yang efesien dan cepat untuk ibu bekerja?
Tips yang bisa saya kasih antara lain:
  1. Untuk sarapan, pilih menu yang paling simple dan cepat.
  2. Dalam 1 minggu, bikin variasi makanan yang bahan dasar utamanya sama, jadi belanja lebih hemat dan cepat.
  3. Apabila hanya bisa belanja 1 minggu sekali, gunakan bahan-bahan yang gampang rusak di awal minggu, misalnya sayur bayam, kangkung, toge, dll. Biasanya kalau sudah hari kamis/jumat, menu nya sekitar sop-sop an yang bahannya gak menggunakan sayur hijau.
  4. Setelah belanja, bagi bahan-bahan mentah (terutama daging, ayam & seafood) sesuai porsi sekali makan ke dalam container, supaya lebih awet dan kualitasnya terjaga.
  5. Masak beberapa stock makanan yang bisa disimpan di kulkas pada waktu weekend, jadi saat weekdays proses memasaknya lebih cepat. Misal, bikin stock ayam ungkep, empal, tahu/tempe bacem, kaldu, nugget, dll.  
  6. Follow instagram para ibu-ibu yang suka share masakan dan resep untuk inspirasi.
  7. Kalau badan & pikiran sudah capek banget, gak usah dipaksakan masak. Go FOOD to the rescue!


Last but not least, apakah value Christa dalam menjalani keseharian sebagai ibu yang produktif?

Sebagai Ibu bekerja, guilty feeling adalah perasaan yang tidak bisa dihindari setiap harinya. Tapi yang harus diingat, walaupun tidak bersama anak 24 jam sehari, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menggantikan posisi Ibu di hati anak-anak. Dengan melihat Ibunya produktif, anak juga belajar mengenai kerja keras dan kemandirian. Yang terpenting adalah bagaimana kita memaksimalkan waktu yang kita punya untuk bonding dengan keluarga.

FIRST (Freedom, Independence, Responsibility, Structure, & Teamwork) By Kinderhaven Montessori Preschool



Kali ini saya mau share suatu campaign yang bermanfaat banget untuk kita sebagai orang tua. Dulu saat anak 1 saya terapkan ini semua dan jujur perjalanan parenting saya itu lumayan smooth dan tanpa drama. Memang pas dapat anak kedua dengan tempramen yang jauh berbeda plus, jadwal dan segala keteraturan yang dibuat di awal berantakan, karena bayi masih belum jelas rutinitasnya. Dengan ketidakteraturan tersebut, pekerjaan keteteran, anak juga cenderung lebih cranky, saya lebih cape dan sebagainya. Sehingga untuk membangkitkan semangat saya mulai rajin lagi ikut kelas-kelas parenting serta membaca berbagai macam artikel seputar anak. 
Ada beberapa hal yang saya temukan mirip, dan saat menemukan campaign dari Kinderhaven Montessori Preschool ini menggambarkan sebagian besar value yang harus kita terapkan pada anak usia dini. FIRST itu terdiri dari Freedom, Independence, Responsibility, Structure, and Teamwork. Sebuah framework sekolah, yang sejalan dengan cara mendidik kami di rumah, dan yang mustinya ada di setiap rumah juga tentunya. Berikut aku akan jelaskan dengan detail sedikit mengenai Kinderhaven Preschool serta aplikasi campaign ini di rumah ya.

Kinderhaven Preschool sendiri merupakan preschool berbasis Montessori, jadi untuk yang paham Montessori pasti gak asing ya sama framework mereka. Aku sendiri pernah ikut beberapa kelas how to apply Montessori at home dan sangat tertarik karena memang cara mengajarkannya tidak mendikte, namun menerapkan tanggung jawab, kemandirian dan semuanya dalam kehidupan sehari-hari. “Montessori is an education of independence, preparing not just for school but for life!”.

Sadar gak sih saat kita punya anak, biasanya anak pertama itu kita suka over protective? Gak boleh pegang ini itu, gak boleh manjat, gak boleh minum pakai gelas kaca pakai gelas plastik aja, dsb. tanpa disadari, larangan larangan kita itu menghambat tumbuh kembang serta proses belajar anak lho. Anak itu baiknya diberikan kebebasan, alias Freedom itu tadi. Kebebaasan untuk eksplorasi, kebebebasan untuk mencoba hal baru, diberikan kepercayaan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. 

Dalam metode Montessori, biasanya anak usia 2 tahun sudah diberi kepercayaan untuk memakai sendok, gelas, piring kaca atau keramik layaknya orang dewasa. Gak pakai yang plastik karena kita takut anaknya menjatuhkan. Percaya deh kalau diajarkan dengan seksama tentu, anak jadi merasa bertanggung jawab dan lebih hati-hati. Seringkali freedom memang berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

Metode Montessori juga memakai rak-rak terbuka yang mudah dijangkau oleh anak. Ini memberikan kebebasan untuk anak pada hari itu ia sedang ingin belajar apa. Misalkan pada hari itu ia tertarik dengan balok-balok, atau practical life skill menuang. Anak yang diberikan kebebasan untuk memilih, mempunyai konsentrasi dan fokus yang lebih baik, karena memang itu sensitive periodnya alias otaknya sedang sangat tertarik mempelajari hal tersebut.

Dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan tentu anak juga lebih mandiri. Anak bisa menyiapkan makanannya sendiri, makan sendiri menggunakan sendok karena fine motor skillnya yang baik. Membersihkan dan mengembalikan semua ke tempatnya. Memakai baju sendiri, sepatu sendiri, semua itu diajarkan di kelas Montessori. Semua rak dan tempat penyimpanannya rendah dan terbuka tadi, sehingga anak sudah tau dimana letak barang-barangnya berada. 

Banyak orang yang memasukan anaknya ke sekolah Montessori pasti bertanya’tanya, “Lho kok malah diajarin tuang menuang, sendok menyendok? Itu mah di rumah aja”. Ya selain di rumah memang harus dilatih, tapi aktivitas practical life skill seperti ini menyiapkan anak untuk menulis lho kedepannya. Anak yang tidak memiliki fine motor skill yang baik, akan mengalami kesulitan menulis kedepannya. Jadi kegiatan yang kelihatannya sepele ini sangat amat penting diterapkan terutama untuk usia dini. 

Selain itu structure penting sekali diterapkan. Misalkan pagi hari adalah waktunya bermain bebas dikelas, namun saat jam menunjukan pukul 10, waktunya beres-beres dan siap-siap makan. Mau di sekolah maupun rumah, structure itu penting sekali dimasukan kedalam keseharian anak. Anak yang mengenal structure akan lebih dapat mengendalikan emosi karena sudah ada ekspektasi akan kegiatan sehari-harinya. 

Contohnya Dio anakku yang pertama. Dulunya mudah sekali tantrum, terutama karena saya bekerja dari rumah, jadi perhatiannya suka terpecah-pecah. Namun setelah itu saya memiliki jadwal untuk saya, serta jadwal untuk Dio juga. Di jadwal Dio tersebut bentuknya gambar, sehingga ia tau kapan waktunya ia bermain bersama saya, kapan waktunya ia bermain sendiri namun saya kerja disebelahnya, dsb. Sejak ada jadwal tersebut, tantrumnya berkurang, dan sayapun bisa bekerja dengan lebih tenang. Struktur ini penting sekali untuk dimiliki di rumah maupun sekolah.

Nah teamwork gak kalah penting nih. Satu kalimat yang selalu diulang-ulang hampir di semua kelas parenting adalah “Kolaborasi Bukan Kompetisi”. Anak diajarkan sedari dini untuk berkolaborasi dengan sesama, bukanlah untuk saing-saingan. Kita hanya boleh berkompetisi dengan diri sendiri sebenarnya. Mentalitas ini perlu sekali dimiliki oleh orang dewasa juga sebenarnya. Sekarang orang dewasa banyak kita lihat orang saling menjatuhkan, licik, tidak jujur, dsb banyak muncul karena sifat sirik ataupun kompetitif yang berlebihan. Padahal kita dapat menjadi orang yang lebih baik apabila kita bekerjasama, ataupun kesuksesan orang memotivasi kita menjadi orang yang lebih baik, tanpa menjatuhkan orang lain. 

Framework FIRST (Freedom, Independence, Responsibility, Structure, & Teamwork) ini sangat sejalan dengan cara kami sekeluarga mendidik dirumah, dan menjadi reminder untuk terus menyediakan lingkungan kondusif di rumah untuk anak-anak kami. Sehingga senang sekali berikut serta di campaign ini. Yuk ikutan share campaign ini atau pengalaman kamu bersama anak, yang sejalan dengan framework ini menggunakan hashtag #FIRSTbyKH dan jangan lupa untuk tag @kinderhaven_id Semoga bermanfaat!

ARNINTA: PR MANAGER & ACTIVE MAMA OF 2



Kali ini PM mau ngobrol sama mama super aktif @Arninta! Kalau rajin ikut kegiatan anak di kisaran Jakarta, hampir gak mungkin gak ketemu sama ibu yang satu ini. Selain seorang ibu dari Raya (5tahun) dan Garda (2tahun), Ninta juga memiliki entusiasmenya yang tinggi di dunia pendidikan sehingga ia rajin volunteer di berbagai macam program, dan merupakan PR Manager dari Nutrifood. Siapa yang sudah nonton Instastory takeovernya minggu lalu? Kalau ketinggalan masih bisa cek di highlights atau langsung aja yuk simak interview PM dengan Ninta dibawah ini...

Hi Ninta! Boleh ceritakan tentang perjalanan karir kamu, mulai dari lulus kuliah sampai sudah punya anak? Apakah ada perbedaan sebelum dan sesudah?
Halo! Jadi aku dulu kuliah S1 Teknik Industri. Namun ditengah sedang kuliah ternyata aku menemukan passion di Public Relations. Waktu semester 6 aku sudah keterima kerja part-time di Nutrifood, namun baru full time saat semester 8 akhir. Beruntung sekali rasanya, begitu masuk Nutrifood diberikan kesempatan untuk explore passionku tersebut. Hingga saat ini aku menjadi PR & Event Manager untuk seluruh brand di Nutrifood Indonesia.

Lalu 6 bulan setelah bekerja, aku juga memperdalam ilmuku dengan mengambil kuliah S2 magister management in communication.


Selain sebagai PR, kamu juga aktif volunteer ya? Apa saja sih program volunteer yang kamu jalani? Lalu apa yang membuat kamu tertarik untuk bergabung ke program-program tersebut?

Jadi sejak dulu, aku memiliki ketertarikan besar di bidang pendidikan. Makanya untuk kegiatan volunteering, aku fokus ke bidang tersebut. Kenapa aku tertarik untuk volunteer? Awalnya karena mungkin karena sejak kecil terinpirasi oleh Ayahku yang selalu memberdayakan lingkungannya lewat berbagai kegiatan. Selain itu, makin ke sini semakin yakin bahwa prinsip happiness itu bukan hanya ada di diri kita sendir, namun bagaimana membuat diri sendiri juga bermanfaat buat orang lain. Melihat orang lain berdaya itu merupakan ‘bahagia’ yang berbeda. Aku merasa hidupku lebih meaningful dengan volunteer ini.

Makanya sejak kuliah juga, aku sudah menjadi ketua departemen sosial di organisasi kampus dan berlanjut saat ini kegiatan volunteerku antara beberapa kali ikut mengajar di Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar, aktif di kepanitian Pesta Pendidikan hingga menjadi volunteer fasilitator pendidikan keluarga di Keluargakita.com.

Luar biasa! Kalau untuk bagi waktunya sendiri, bagaimana itu menyelipkan volunteer, dengan kesibukan bekerja dan mengurus anak?
Soal bagi waktu aku memiliki 3 prinsip yaitu Menentukan Prioritas, Membuat Planning, dan Konsisten.

Jadi dalam segala hal termasuk kegiatan volunteering, aku ‘memilih’ yang benar2 aku cintai, selalu tepat waktu dan karena sudah milih untuk memanfaatkan ‘me time’ dengan kegiatan ini, berarti harus memilih untuk fokus di 1 kegiatan dalam satu waktu agar tidak keteteran.

Apa yang membuat kamu tertarik di bidang pendidikan?

Titik baliknya saat aku usia 17 tahun, aku membaca cerita tentang sekolah ibu kembar yang didirikan di tengah pembuang sampah Bantar Gebang. Waktu itu aku mengajak teman-teman SMA-ku untuk merayakan ulang tahun sederhana disana. Pengalaman tersebut sangat amat berkesan buat aku, karena melihat sendiri dampak pendidikan ternyata bisa merubah mindset seseorang dari hal sekecil apapun. :’)

Wah kagum sekali dari SMA sudah tergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Nah tentunya, banyaknya kegiatan yang bisa kamu lakukan walaupun menjadi seorang ibu, gak luput dari support system yang baik ya, setuju gak? Pingin tau nih siapa saja support system terpenting dalam hidup kamu?

Setuju bangeeet! Support system aku yang utama itu keluarga, mulai dari suamiku yg hands on sama anak-anak, dan urusan rumah tangga, kemudian orang tua serta mertua yang bisa mengawasi anak-anak saat aku kerja, atau menjemput mereka saat aku enggak bisa.

Selain itu untuk urusan rumah aku ada mbak rumah, dan 1 lagi mbak untuk menjaga adik garda terutama saat dititip ke mertua saat aku kerja. Belum lagi lingkungan kantor yang sangat support dengn keadaan work from home di saat tertentu. Ibu bekerja tanpa support system itu tidak mungkin berfungsi dengan baik. Merasa sangat amat beruntung serta sangat amat bersyukur dengan kondisi support system yang aku miliki pada saat ini.


Setuju! Kalau dengar ceritanya rasanya gak cukup 24jam untuk kegiatan segitu banyak, namun Ninta boleh gak ceritakan 'A DAY IN A LIFE' ala Ninta itu gimana sih?
Keseharian aku sebenarnya sama saja seperti ibu-ibu pada umumnya. Bangun tidur mengurus anak-anak yang mau sekolah, lalu mengantar, dan lanjut kerja+olahraga (tp 2x seminggu untuk olahraga), selesai kerja aku pulang ke rumah ngejar pakai gojek, lanjut makan malam+solat magrib jamaah. Bedtime routine kami belajar dan baca buku sama anak-anak.

Photo credit: @petite.zosia
Tadi sudah bahas seputar pekerjaan, kalau motherhood nih. Menurut kamu apa sih momen yang paling membahagiakan dari menjadi seorang Ibu?
Berusaha jadi orang yang lebih baik bukan hanya demi keluarga dan anak-anak tapi juga buat diri sendiri. Lalu paling menyenangkan adalah selalu ada yg ‘ngusel2’ kalau malam hehehe berhubung masih pada kecil ya!

Untuk aktivitas favorit yang biasa kamu lakukan untuk quality time sama anak-anak?
Weekend time selalu jadi quality time sama mereka. Tapi ada juga quality time kecil-kecil setiap harinya, misalnya saat antar atau jemput sekolah, membacakan cerita saat mau tidur, sampai menyempatkan jalan-jalan berdua saja sama masing-masing anak. Contohnya kemarin, aku nyalon berdua sama kakak Raya, dan adek Garda main ke playground sama ayahnya.

Setuju banget bahwa one-on-one time sama pentingnya ya dengan quality time bersama semuanya. Tadi sudah bahas yang senang-senang, sekarang yang paling sulit atau menantang dari menjadi Ibu itu apa sih menurut Ninta?
The hardest itu buat aku mengelola emosi! Huhuh aku tuh orangnya dasarnya enggak sabaran. Kalau ketemu anak-anak, yang benar itu adalah merespon dengan tepat sesuai kebutuhan mereka, tapi kalau sedang capek suka lupa kelepasan emosi, padahal kan yg bikin capek bukan mereka :( Jadi kalau sudah begini, paling bener merespon dulu kebutuhan diri sendiri, me time dengan olahraga misalnya selalu jd mood booster buat kelola emosi aku.

Sedangkan most challenging part-nya justru manajemen waktunya, dengan keadaan Jakarta yang super macet aku berusaha banget enggak kehalang sama hal tersebut, jadi sebisa mungkin pakai ojek online agar cepat sampai di rumah. Selalu berusaha memanfaatkan berbagai aplikasi (belanja/olahraga/belajar) agar waktu optimal, kerja efektif, sehingga dapat sepenuh hati sepenuh tubuh sama anak-anak. Beda banget lho rasanya saat kita fokus sama anak-anak aja dibandingkan dengan ada di depan anak tapi pikiran kemana-mana. Ini yang aku terus perbaiki dari waktu ke waktu, wish me luck yaaa!

Berarti memang me-time itu essential banget ya untuk kamu. Menurut kamu seberapa besar sih proporsi me-time yang ideal menurut kamu?

Iya pastinya sangat amat penting, asal cukup porsinya. Buat aku sendiri me-time itu olahraga 2x seminggu biar tetap fit, sama kegiatan volunteering seperti yang kuceritakan diatas. Setiap orang pasti punya artian me-time yang berbeda-beda. Seringkali teman-teman di kegiatan volunteer itu menjadi sahabat baik sampai sekarang :)

Ohiya me-time yang kulakukan di rumah sejak menikah 7 tahun lalu adalah menulis blog, boleh lho mampir ke arninta.blogspot.com kapan-kapan!


Thank you so much for sharing your stories! Terakhir sebelum udahan, boleh gak minta definisi kamu akan 'Productive Mamas' versi kamu?
Buat aku sendiri, menjadi produktif itu tergantung kemauan, harus punya tujuan dan konsisten dengan action plan-nya. Namun sejak mengenal konsep Ikigai - a japanese concept meaning “a reason for being”, percaya banget bahwa apapun yang kita kerjakan jika kita cintai dan profesional dapat memenuhi kebutuhan hidup, serta yang terpenting juga bermanfaat untuk orang banyak. Itu definisi Productive Mamas menurut aku. Termasuk dalam mencapai tujuan keluarga kecilnya maupun di berbagai peran dalam kesehariannya :)

*All photos attached are Arninta's Personal Photos. Click here to see more on her blog!

SERI BUKU TOLERANSI: PRASANGKA MOKA

  • 02 April 2018


Melanjutkan buku pertama dari Seri Buku Toleransi yang diterbitkan tahun lalu, pada 2 April 2018, penerbit Buah Hati bersama penulis buku anak Sekar Sosronegoro kembali meluncurkan buku yang mengajarkan toleransi kepada keluarga Indonesia. Berjudul Prasangka Moka, buku yang dirilis tepat di Hari Buku Anak Internasional ini mengajak anak untuk bertenggang rasa dan tidak menilai teman berdasarkan stereotip suku, agama, jenis kelamin, maupun latar belakang budayanya. “Prasangka dipilih sebagai topik buku kedua karena merupakan salah satu kontributor perilaku intoleran,” ungkap Sekar. 

Menurut sebuah penelitian, di usia 2- 3 tahun, anak mulai menyadari adanya perbedaan jenis kelamin dan perbedaan fisik, di usia 3-4 tahun, sebagian anak mulai menunjukkan ketertarikan untuk bermain dengan teman-teman yang secara fisik mirip dengannya, dan di usia 5 tahun, anak mulai mengidentifikasikan dirinya dengan etnis tertentu dan memperhatikan perbedaan antara kelompok etnis atau ras di sekitarnya. “Dalam kesehariannya, anak berinteraksi dengan teman-teman yang beragam, maka melepaskan diri dari pelabelan dan stereotyping sangatlah krusial untuk disadari sejak dini,” sambungnya. Dalam proses pembuatan bukunya, Sekar yang berdomisili di Los Angeles, Amerika Serikat, masih menggandeng Mira Tulaar (Bali) sebagai ilustrator dan Siti Nur Andini (Jakarta) selaku editor. 

Suzy Hutomo, Chairwoman dari The Body Shop Indonesia, perusahaan kosmetika dan perawatan kulit yang dikenal ramah lingkungan dan peduli terhadap pendidikan dan isu-isu sosial, menjelaskan alasan perusahaannya kembali menjadi sponsor dari peluncuran Seri Buku Toleransi ini. “Kami terus mendukung seri buku ini karena sangatlah penting untuk mendidik anak-anak kita untuk menghindari prasangka dan selalu berpikir positif. Prasangka Moka mengajarkan bahwa kita dapat berteman dengan siapa saja dan memancarkan kepositifan.” Dengan maraknya intoleransi yang terekspos pada anak-anak melalui kehidupan sehari-hari, pendidikan toleransi menjadi hal yang sangat penting. Ditanya pendapatnya mengenai buku ini, Najwa Shihab, jurnalis dan Duta Baca Indonesia mengungkapkan, “Lewat Prasangka Moka, anak dan orangtua diingatkan untuk berlaku adil kepada sesama”. Hal senada disampaikan oleh penulis buku kenamaan tanah air, Dee Lestari. “Dengan cara sederhana, menghibur, dan gambar yang menstimulasi, Prasangka Moka mengajarkan tentang prasangka baik dan faedahnya dalam kehidupan.”  

Di peluncuran online-nya kali ini, Seri Buku Toleransi bekerja sama dengan enam komunitas parenting, yaitu Keluarga Kita, Rumah Dandelion, SmartMama.com, Mother & Baby Indonesia, Mommies Daily dan ProductiveMamas.com. Sebagai bagian dari kampanye peluncuran ini, Seri Buku Toleransi juga meluncurkan berbagai video tentang pentingnya pendidikan toleransi, yang di antaranya menampilkan wawancara dengan Suzy Hutomo dan figur pendidik Najelaa Shihab. 


Prasangka Moka mengisahkan tentang seekor monyet kecil bernama Moka yang dipercaya ayahnya mengantar buah ke rumah nenek. Perjalanan yang awalnya menyenangkan seketika menjadi beban ketika ia lupa arah jalan. Ketika binatangbinatang lain di hutan menawarkan bantuan, dilema pun melanda dan Moka tidak yakin bila ia harus menerimanya. Prasangka Moka dapat dibeli seharga Rp55.000 di tokobaca.com dan bukukita.com, sebelum akhirnya akan masuk ke toko-toko buku di Indonesia.
·
OLDER
© Productive Mamas Blog