SLIDER

Yuk, Simak Cara Mengelola Emosi Setelah Setahun #dirumahaja !

  • 29 March 2021


Awal menghadapi pandemi kita merasa waktu 24 jam dalam sehari rasanya kurang, karena kegiatan yang biasanya kita lakukan di luar rumah seketika harus dikerjakan secara daring dari dalam rumah.


Mulai dari harus menjalani Work from Home (WFH), menjadi guru dadakan untuk anak-anak yang juga harus bersekolah dari rumah, mengurus tugas negara yang tak kunjung usai dan banyak hal yang tak pernah kita duga sebelumnya akan terjadi.


Setelah satu tahun berlalu dan pandemi belum juga usai, rasanya kita sudah mulai beradaptasi dengan rutinitas sehari-hari yang serba terbatas di rumah.


Mengerjakan kegiatan yang sama berulang-ulang dengan orang-orang yang sama pula serta dalam tempat yang sama selama berbulan-bulan, ternyata membuat diri kita penat menjalaninya.


Waktu bersama keluarga menjadi overqualitytime, hampir setiap waktu kita mengisi hari hanya dengan keluarga dan sangat terbatas untuk bertemu dengan orang lain.


Setelah kita dapat beradaptasi dengan keadaan selama pandemi, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana cara mengatasi kebosanan saat 24 jam bersama?


Nah, minggu lalu Tim Productive Mamas bersama Tim Relawan Keluarga Kita (Rangkul) mengadakan sesi online berupa Instagram Live dengan mengangkat tema Hubungan Reflektif. 


Sesi Rangkul Kolaborasi (SeRasi) ini dipandu oleh Nina dari Tim Rangkul Keluarga Kita serta Afdita dari Tim Productive Mamas yang membahas tentang Manajemen Emosi saat 24 Jam Bersama.


Menjawab kerisauan para orang tua yang seakan berada dalam penat setelah setahun lamanya harus beraktifitas #dirumahaja bersama keluarga terdekat, Nina mengawali sesi dengan mengingat pernyataan yang pernah diutarakan oleh Ibu Najelaa Shihab yang mengatakan bahwa sebenarnya terkadang kita butuh memiliki rasa bosan, karena dari rasa bosan tersebut akan muncul ide-ide baru.


Memang saat dilanda pandemi seperti ini, tidak sedikit orang-orang di sekitar kita yang menyibukkan diri dengan mempelajari hal-hal baru atau berinovasi tetap bisa berkegiatan.


Misalnya seperti banyak usaha baru yang muncul, hadirnya teknologi baru, hingga kebiasaan positif baru yang ikut terbentuk.


Jadi, sesungguhnya kebosanan itu tidak perlu kita hindari, karena mungkin saja rasa bosan tersebut tidak melulu akan menjadi masalah, tetapi bisa saja membawa berkah di hidup kita.


Kiat Mengatasi Kebosanan Selama di Rumah


Kebosanan selama #dirumahaja juga dirasakan oleh anak-anak kita, cara untuk mengatasinya pun berbeda-beda di tiap tahapan usia.


Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kita dapat mengajaknya diskusi mengenai perasaan yang sedang dia alami, kita mencoba berempati dengan apa yang dia rasa dan bersama-sama mencari solusi menghadapi kebosanan tersebut.


Sedangkan, untuk menghadapi kebosanan anak dengan usia yang lebih kecil, kita bisa memberikan ide-ide bermain atau berkegiatan di dalam rumah.


Nah, salah satu berkah selama pandemi ini adalah banyaknya para orang tua yang saling sharing ide-ide untuk berkegiatan bersama di rumah, hal itu bisa kita terapkan dalam menghadapi kebosanan si kecil.


Afdita juga menambahkan, salah satu cara yang ia lakukan di rumah untuk menghadapi rasa bosan adalah dengan membebaskan anaknya untuk berkegiatan apapun di dalam rumah, meski pada akhirnya kerapihan rumah yang harus direlakan.


Sejujurnya, untuk Dita yang sehari-hari menjalani pekerjaan dari rumah dan harus menemani anak yang juga bersekolah dari rumah, itu bukanlah sesuatu yang mudah. Ia sadar, tidak semua hal dapat berjalan sempurna sesuai yang ia inginkan, harus ada hal yang ia relakan.


Dita juga belajar untuk mengelola ekspetasi, sehingga perlahan ia bisa menikmati hal-hal yang tidak mudah berjalan beriringan seperti kerapihan rumah dengan kegiatan bebas anak selama di rumah.


Yang juga perlu diingat adalah kita harus tahu sifat bawaan anak, karena kalau dia anak yang aktif berarti kita harus memberinya kesempatan untuk bergerak.


Kita juga perlu memberikan penjelasan pada anak, bahwa ada hal-hal yang dapat dan tidak dapat kita kontrol.


Kondisi pandemi ini adalah salah satu contoh hal yang terjadi di luar kendali kita sebagai manusia dan ini menyangkut orang banyak, jadi sebisa mungkin kita menyadari situasi dan kondisi yang sedang kita alami, sehingga kita tahu harus berbuat apa untuk menghadapinya.


Menyiasati Me Time Saat Pandemi


Terkait soal kebosanan, sebelum pandemi berlangsung biasanya salah satu cara kita menghilangkan rasa bosan adalah melakukan me time. Nah, ajang me time atau memanjakan diri dengan pergi keluar rumah adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu.


Sayangnya saat ini kegiatan me time di luar rumah tidak bisa lagi dilakukan, untuk menyiasati hal tersebut Nina memiliki kiat-kiat khusus diantaranya


Pertama, belajar untuk mengenali kebutuhan diri. Ada banyak macam kebutuhan diri, seperti kebutuhan asupan, kebutuhan gerak, kebutuhan bersosialisasi, kebutuhan beristirahat dan lain sebagainya.


Biasanya untuk tetap seimbang dan waras, orang tua haruslah bijak untuk mengelola waktu, tak hanya waktu untuk diri sendiri tetapi juga mengimbangi waktu untuk berbagai kebutuhan anak.


Dengan pengaturan waktu yang baik, kita dapat berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan diri kita dan anak sebaik mungkin.


Kedua, menyadari peringatan (alarm) dari dalam diri. Biasanya kalau kita sudah mulai sering marah-marah, tandanya kita butuh jeda dan memenuhi kebutuhan diri untuk beristirahat.


Sebisa mungkin kita mengenali diri dan bisa mengelola energi, serta mencoba mendengarkan diri sendiri yaitu dwngan tidak mengabaikan alarm diri sehingga tidak mengakibatkan kita burn out.


Jadi, sebelum alarm itu berdering kita sudah tahu atau sadar kalau kita perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri yang belum terpenuh, misalnya kita butuh mengobrol dengan orang lain (kebutuhan bersosialisasi) atau tanpa sadar kita bekerja terlalu lama dan terlewat waktu makan (kebutuhan asupan).


Selanjutnya, dengan bijak mengelola waktu anak, kita juga dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan apa pada anak yang belum terpenuhi.


Yang terakhir,menyiasati me time dengan berkegiatan di dalam rumah. Misalnya dengan menonton film kesukaaan, mandi lebih lama, dan lain-lain. 


Yang terpenting saat me time, kita menyeimbangkan dengan waktu keluarga, artinya ada seseorang yang dapat menggantikan sementara tugas kita di rumah, jadi saat me time kita pun tidak khawatir terhadap kelangsungan rutinitas di rumah.


Lalu, bagaimana cara kita meredam amarah saat kita di rumah?


Perlu diingat, bahwa marah adalah salah satu bentuk emosi. Dan emosi itu harus diterima dan dirasakan kehadirannya.


Kadang kita mudah berespon marah ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan kita. Kita perlu mengenali diri saat lelah atau situasi lain yang menyulut emosi, sehingga kita bisa memilih respon yang lebih tepat. 


Segala emosi yang ada dalam diri kita itu fitrah, jadi pengelolaannya mungkin butuh proses seumur hidup.


Intinya, sebagai kita tidak boleh takut gagal sebagai orang tua, karena jadi orang tua itu kesempatannya ada setiap hari.


Jadi, jika hari ini kita gagal mengelola emosi, kita coba refleksi diri untuk tahu apa yang akan kita lakukan, sehingga di lain waktu kita bisa lebih waras dan lebih baik dalam merespon.


Support System Yang Baik


Penting juga kita memiliki support system yang baik dari orang-orang terdekat, mulai dari suami, orang tua, maupun sahabat.


Kadang kala peran di rumah sebagai istri dan ibu mengharuskan kita untuk dapat mengatasi berbagai hal, termasuk menjadi tempat berkeluh kesah suami dan anak-anak. Sedangkan, curahan hati dari diri kita sendiri malah kadang terabaikan.


Nah, dengan memiliki orang-orang terdekat yang dapat menjadi pendengar, kita dapat berbagi cerita dan tidak sedikit masalah yang kita alami ternyata juga sedang dihadapi oleh orang lain. Hal itu membuat kita tidak lagi merasa sendirian.


Setelah kita terus belajar mengelola emosi diri dan berusaha untuk tenang menghadapi rutinitas sehari-hari, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana cara kita menghadapi orang terdekat yang sedang tantrum?


Jawabannya sekali lagi adalah menyadari kebutuhan apa dari orang tersebut yang belum terpenuhi, sehingga diri mereka tidak nyaman.


Biasanya penyebab anak-anak yang tantrum adalah tidak terpenuhinya kebutuhan istirahat atau asupan.


Anak-anak kadang merasa bermain adalah sarana untuk ia beristirahat dari segala kewajiban, padahal bermain dalam waktu yang berlebihan akan membuat tubuhnya kelelahan, sehingga respon tubuh akan membuatnya tidak nyaman dan menimbulkan tantrum.


Dan ketika tantrum terjadi pada pasangan kita, yang harus kita lakukan adalah mengingatkan atau menyediakan kebutuhan apa yang belum sempat ia lakukan. Misalnya belum beristirahat selama bekerja dari rumah atau melewatkan waktu makan yang seharusnya.


Jadi, dalam menghadapi tantrum orang terdekat kita adalah dengan mengingatkan tentang perasaan yang ia alami dan kebutuhan apa yang belum terpenuhi, sehingga timbul respon yang lebih baik dari kedua belah pihak.


Sekian Sesi Kolaborasi Relawan Keluarga Kita dengan Productive Mamas kali ini, semoga dengan berbagi cerita dapat bermanfaat untuk mama semua yang bersama-sama sedang berjuang menghadapi hari-hari di masa pandemi bersama keluarga.


Tetap kuat dan semangat ya, mama !



(Artikel ditulis oleh Syifa Rahmi untuk blog www.productivemamas.com)



Ibu Rina, Tak Hanya Sekedar Mengajar Anak Istimewa

 

Dalam rangka memperingati hari disabilitas, Productive Mamas mengadakan bulan berbagi cerita bersama para ibu, keluarga, bahkan seorang guru yang dalam kesehariannya berkenaan dengan anak-anak disabilitas.

Pada kesempatan kali ini, tim Productive Mamas banyak sekali mendapatkan pelajaran berharga dari berbagai pengalaman Ibu Rina, seorang pengajar untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

*****

Berawal dari tidak disengaja hingga akhirnya ia jatuh cinta dalam mendalami pengajaran untuk anak-anak spesial dalam hidupnya. Pengalaman Bu Rina dalam mengajar, ternyata melahirkan banyak sekali hikmah untuknya terus belajar, salah satunya adalah dalam memahami anak-anak berkebutuhan khusus.

Pengalamannya mengajar menjadikan Bu Rina belajar untuk mengasah indera menjadi lebih tajam. Ia pun mengakui perjalanannya mendampingi anak-anak istimewa membuatnya lebih memahami mereka.

Bu Rina tidak hanya menebar ilmu dan kebaikan, namun juga mendapat limpahan pelajaran dan pemahaman.

Bahwa dengan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, ia belajar untuk mengamati. Melihat melalui ekspresi dan bahasa tubuh mereka, apakah materi yang ia sampaikan terlalu berat untuk diterima atau sebaliknya.

Lalu, pelajaran lain yang ia terima adalah tentang belajar menunggu. Bu Rina mengaku ia terus belajar untuk menahan. Menahan diri untuk tidak terlalu cepat memberi respon, bahwa ujian kesabaran tidak hanya berlaku untuknya tetapi juga untuk mereka.

Dengan memberi mereka jeda dalam menangkap materi pelajaran atau memberi kesempatan dan waktu lebih untuk menunggu jawaban mereka adalah salah satu moment berharga untuk Bu Rina maupun murid-murid istimewanya.

Keduanya saling bersabar serta belajar, bahwa mereka patut dihargai dan segala kebaikan Bu Rina perlu untuk terus diapresiasi.

Dan yang terakhir, mendampingi anak-anak bekebutuhan khusus membuatnya menjadi belajar untuk lebih ekspresif. Bu Rina menyadari betul, bahwa mimik wajah dan gerak tubuh akan banyak membawa pengaruh dalam berkomunikasi bersama anak-anak tersebut, jadi ia berusaha untuk mengutamakan ekspresi dalam membatu mereka menerima pesan komunikasi maupun pelajaran.

*****

 

Pengalaman Bu Rina mengajarkan kita untuk lebih peka dalam banyak hal, untuk lebih sabar dalam memberi kesempatan dan belajar untuk memahami bahwa ada orang-orang yang perlu pelayanan lebih untuk dimengerti.

Untuk mengetahui lebih banyak bagaimana seorang guru membimbing murid-murid berkebutuhan khusus, simak IGTV @productivemamas bersama Ibu Rina @octa1710 yang berjudul “It takes someone special to teach someone special” yang akan membahas kolaborasi antar berbagai pihak demi mencapai keberhasilan akademik anak-anak berkebutuhan khusus serta pengalamannya dalam mengajar.

(Ditulis oleh Syifa Rahmi untuk Instagram @productivemamas)

Zhafira Lobies, Semangat Berbagi Kebaikan Meski Dalam Situasi Terbatas

 

Awal April 2020 lalu, Productive Mamas mengadakan sesi sharing online bersama Zhafira Loebis bertemakan “Business and Motherhood During Challenging Times”.


Zhafira Loebis dikenal sebagai mompreneur dibalik bisnis penyewaan mainan dan perlengkapan anak, Babyloania. Melalui sharing session via ZOOM tersebut, Zhafira Loebis atau akrab dipanggil Fira telah berbagi cerita menjalani peran sebagai ibu sekaligus enterpreneur di masa pandemi ini.

*****

Pada Maret lalu, Fira dan keluarga memutuskan untuk berangkat liburan ke Seattle, AS sesuai dengan rencana yang sudah dibuat jauh hari.


Kurang lebih 3 minggu di Seattle, angka statistik COVID-19 di sana terus melonjak dan menyebar dengan cepat, sehingga Fira hanya sempat satu kali mengajak anak-anak ke taman bermain saat baru tiba di sana. Hari-hari berikutnya, ia dan suami hanya pergi keluar untuk berbelanja keperluan dapur, sementara anak-anak tetap di rumah.


Siapa sangka masa liburan tersebut mereka lewati dengan self isolation dan harus pulang satu minggu lebih cepat dari jadwal yang sudah direncanakan, kemudian mereka pun harus lanjut untuk melakukan isolasi mandiri di rumah bersama keluarga.


Namun, ketika “terdampar” di negeri orang di tengah pandemi, ternyata membuahkan banyak pelajaran bagi Fira. Tentunya, selain masa liburan keluarga yang penuh dengan quality time bersama keluarga di rumah. Di sana, Fira juga melihat bagaimana warga saling bahu membahu menghadapi keadaan pandemi yang tak pernah mereka sangka dan persiapkan.


Kagum melihat perjuangan warga AS yang bergerak cepat dalam menghadapi keadaan sulit di negaranya, akhirnya saat tiba di tanah air, Fira bersama suami memutuskan untuk ikut andil dalam menebar kebaikan untuk sesama, khususnya bagi para orangtua yang bekerja sebagai garda terdepan di dunia kesehatan.


Di penghujung Maret, Fira dan suami melalui Babyloania merilis program “Sewa Mainan Gratis Bagi Tenaga Medis” dengan tujuan untuk memberikan bantuan sebagai sesama orangtua agar dapat tenang meninggalkan anak-anak mereka di rumah selama bertugas.


Meski saat itu, Babyloania pun menjadi salah satu bagian yang terkena dampak dari Covid-19, namun Fira menyadari bahwa visi misi saat usahanya berdiri adalah untuk membantu meringankan beban finansial keluarga lain dengan menyediakan fasilitas untuk anak-anak mereka.Itulah penggerak yang membuat Fira memutuskan untuk tetap berbagi kebaikan di masa yang sulit seperti ini.


Dengan memberikan bantuan berupa sewa mainan gratis untuk tenaga medis, paling tidak itulah salah satu bentuk rasa terima kasih darinya untuk perjuangan tim kesehatan dalam menangani Covid-19 di tanah air.

Selain itu, kesibukannya sebagai entrepreneur tidak memudarkan perannya sebagai ibu dan istri di rumah, terutama di masa pembatasan sosial yang belum pasti kapan berakhirnya.


Untuk itu, Fira berbagi tips bagaimana cara agar tetap positif dalam menghadapi hari-hari dalam kondisi pandemi ini. Berikut beberapa tips dari Fira;


Pertama, Fira selalu membiasakan untuk menulis jurnal setiap hari sebagai bagian dari refleksi diri dan pelepas penat. Menariknya, selain menuliskan tentang keseharian, ia pun selalu memasukkan angka statistik Covid-19 setiap harinya sebagai “kenang-kenangan” jika suatu saat jurnal tersebut dibaca kembali oleh anak-anaknya.


Fira berharap tulisannya di jurnal bisa dijadikan pelajaran untuk mereka di masa depan bahwa mereka dapat melewati masa-masa sulit seperti ini dan masih banyak hal yang dapat disyukuri meski kenyataannya tidak semudah itu.

Kemudian, Fira menyadari untuk saat ini sulit untuk tetap berpegang pada prinsip “Work Life Balance” hingga akhirnya dia menemukan “Work Life Integrity” dimana pekerjaan dan hidup sehari-hari kita saling terintegrasi. Sehingga kehidupan dan pekerjaan dapat saling berjalan beriringan tanpa ada saling mendahului.


Fira pun percaya bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang mampu menggunakan waktu secara efisien melalui rutinitas yang jelas. Itulah yang selalu ia tanamkan di dirinya, bahwa perlunya membuat batas-batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupannya.

Selanjutnya, dalam hal manajemen waktu Fira memiliki aturan-aturan khusus yang telah ia sepakati bersama suami. Seperti, tidak melakukan pekerjaan saat bersama anak-anak.

Keduanya sepakat untuk meluangkan waktu bangun lebih pagi untuk memulai pekerjaan dan kembali bekerja saat anak-anak tidur siang atau ketika mereka sudah di-handle oleh orang lain.


Tips berikutnya adalah pastikan kita tidak memaksa diri untuk tetap produktif di masa pandemi ini. Jangan lupa untuk set expectation dan menyadari bahwa realita tidak akan mudah untuk dijalani.

Dan yang terakhir, menerima bahwa pandemi ini efeknya besar bagi semua orang dan pastikan kita menyiapkan mental untuk sesuatu di luar kuasa kita, seperti jika harus bekerja atau bersekolah dari rumah lebih lama daripada yang kita alami saat ini


Yang terpenting adalah jangan pernah menggebu-gebu di awal dan membuang energi terlalu banyak, lakukan pekerjaan secara bertahap namum konsisten agar tetap waras dan tidak burn out.

*****

 

 

Menghadapi situasi sulit saat ini tidaklah mudah.

Salah satu cara terbaiknya adalah menerimanya sebagai berkah.

Saat ini yang kita butuhkan bukan lagi soal kesempurnaan, melainkan kebersamaan.

Mari saling bergandeng tangan dan menebar kebaikan,

Karena suatu saat, masa ini akan kita kenang bukan sebagai ujian melainkan bagian dari pelajaran.

Yuk, sama-sama belajar dari cerita founder @babyloania yang semangat berbagi kebaikan meski dalam kondisi serba terbatas, melalui IGTV @productivemamas bersama @zhafiraloebis.

 

(Ditulis oleh Syifa Rahmi untuk Instagram @productivemamas)

 

 

 

 

PUSING GAK SIH DENGERIN ADIK KAKAK BERANTEM TERUS?

 


Aggghhhh pala pening banget ya udah setahun pandemi ini sepanjang hari dengerin adik kakak adu mulut, gelut gak stop-stop. Secara teori sih ngerti kalau itu hal yang normal, cuman secara prakteknya jujur ini salah satu yang cukup membuat emosi meletup-letup sehari-hari. Sehingga kucobalah buka-buka rak buku dan mencari buku lama seputar SIBLING RIVALRY. Menurutku si buku "How to Talk to Sibling Without Rivalry" by Adele Faber & Elaine Mazlish ini the best sih.

Untuk cover dan daftar isi sendiri akan kucantumkan foto dibawah ini. Secara keseluruhan yang aku suka dari buku ini adalah practical & relatable. Banyak banget kisah-kisah yang beneran terjadi sama anak-anakku juga, jadi gak sekedar teori tapi beneran ada cara bicaranya. Paling favorit tentunya komik-komik diatas, jadi kalau yang merasa gak sempet baca sebuku penuh, baca komik-komiknya aja juga udah cukup membantu. 





Aku gak bakal bikin summary satu buku penuh karena ya tentunya gak bakal muat untuk blog ini. Tapi aku akan highlight beberapa part favorit yang rencananya segera ingin aku terapkan di rumah.

  • Instead of dismissing negative feelings about a sibling, acknowledge the feelings.
VALIDASI PERASAAN ANAK
Secara teori sih ngerti ya, kalau anak kecewa, sedih, marah kita harus mengakui dulu bahwa perasaan itu valid. Bahwa itu ada. Tapi pada kenyataannya sering kali kita meremehkan perasaan anak tanpa sadar "Ah gitu doang, gak sakit", "Ah kan udah tau adeknya emang gak ngerti, salah sendiri deket-deket jadi kena pukul deh", "Kepentok dikit doang mah gak sakit, jangan lebay nangisnya", dst. Ini kita kebawa dari didikan jaman dulu gak sih? Not to blame our parents, karena ya dulu informasi gak kaya sekarang, dan kita juga gak tau orangtua kita dididiknya seperti apakan. Yang bisa kita lakukan mencoba break the cycle. Intinya yang bisa kita lakukan adalah validasi perasaan anak kita dengan mengulang sehingga anak tau bahwa kita mendengarkan. "Kakak sedih ya karena direbut mainannya?" "Oo adek marah karena dipukul", dst. Contohnya bisa dilihat dibawah, intinya mendengarkan dan memvalidasi perasaan anak penting. 


  • Avoid Comparison
TIDAK MEMBANDING-BANDINGKAN
Yes gak membanding-bandingkan! 
"Yaampun makan kok berantakan gini kaya bayi kan kamu udah besar"
"Liat tuh adek beres-beres gak usah disuruh"
Siapa yang suka komen gini hayo ngakuu? Ya saya juga sering nih kalau udah emosi..... 
Padahal kita perlu point out masalah/kejadiannya tanpa menejelekan individualnya. Jadi jangan "Kakak jorok banget sih kaya anak kecil aja" tapi ya fokus ke kejadiannya "Kak itu makanannya tumpah, baiknya kita ngapain ya?".
Setelah fokus ke kejadiannya biasanya suami tambahkan pertanyaan untuk menghindari menyuruh-nyuruh dan anak lebih inisiatif karena jawabannya dari diri sendiri. Karena suami saya coach ya jadi doi sama siapa aja selalu menyuruh/menjawab dengan bertanya balik, karena dia percaya bahwa semua orang sebenernya punya jawaban dari dalam diri sendiri. Saat belajar Fitrah Based Parenting juga nih, dibilang bahwa Allah SWT install kita dengan pengetahuan dan kemampuan custom untuk menghandle anak kita. Kita perlu sering-sering berdialog dengan diri dan Sang Pencipta aja. Inipun kujuga sering skip yah karena kebiasaan maunya instan hasil,hasil,hasil. Padahal kita mustinya bisa fokus pada proses..
Yah gini deh kalau saya ngomong ataupun nulis, lagi ngomongin topik apa malah ngelantur kesana kemari... Oke kembali ke pembelajaran dari buku ini yah. 

  • Don't Give Your Attention to the Aggressor, Attend to The Injured Party Instead.
FOKUS PADA YANG TERSAKITI BUKAN YANG MENYAKITI.
Nah inipun aku guilty banget. Kalau anak lagi berantem pasti kita lari ke yang mukul duluan atau yang agresif duluankan. Padahal marah-marah ataupun menegur berlebihan itu adalah ngasih perhatian terhadap perilaku yang kurang baik, yang sebenarnya secara anak terima di otaknya sama aja kaya nepukin tangan. Sama-sama perhatian. Mustinya kita kembali ke yang nomer 1 tadi yaitu validasi perasaan yang disakiti. 

  • Focus on Their Abilities.
TIDAK ADA ANAK YANG BERMASALAH. 
FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK BUKAN KEKURANGAN.
Appreciate small wins. Walaupun gak bisa muji berlebihan juga, lagi-lagi fokus sama perilakunya bukan sama anaknya. 

  • KIDS WORKING IT OUT.
ANAK MENYELESAIKAN MASALAHNYA SENDIRI.
Kita gak bisa selalu menganggu atau mediasi. Selama gak menyakiti diri sendiri atau satu sama lain biasanya aku biarkan. Tapi kalau udah mulai menyakiti pisah dulu.  
Kalau sudah pada tenang, baru kita duduk untuk mengutarakan perasaannya kekecewaanya serta harapannya pada satu sama lain. Bukan pada kita lho ya, tapi pada masing-masing anak. Jadi ya biasanya kalau aku anak-anak setelah sudah regulasi emosinya dan lebih tenang, mereka duduk berhadap-hadapan lalu mengutarakan..
"Kakak marah tadi karena lagi main kamu ambil mainannya, padahal kakak sudah bilang berulang kali gantian"
"Adek sedih karena adek mau main itu"
Untuk awal aku masih bantu, jadi bagaimana baiknya setelah ini kalau mau mainan yang sama lagi?"
Adeknya akan jawab bergantian mama. Kakaknya kadang bilang yaudah nih gpp, kakak mau main yang lain juga..  Jujur ini aku baru terapin 3 hari terakhir sejak baca buku ini. Tapi lumayan sih mereka mau berdiskusi. Tapi kalau sudah biasa berhadapan gitu lama-lama gak perlu di mediasi sudah bisa cari solusi sendiri. Kalau kita terlalu sering ikut campur jadinya anak gak punya problem solving skill yang baik karena masalahnya biasa diselesaikan sama orang lain. 

Tentunya masih banyak sekali yaa contoh-contoh khasus dan tips mendetail di buku ini tapi aku point out yang mengena dan emang ingin aku praktekan aja. Aku suka sih sama ide: 

  • The Mood Box
Jadi kita sebagai manusia emang gak selalu bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan, apalagi orang lain untuk memahami perasaan kita tentunya sulit banget yah. Yang dewasa aja begini apalagi anak-anak. Disini penulisnya memberi contoh bawah anak-anaknya selalu berantem karena disaat yang satu lagi bt, yang satu lagi ceria, yang satu lagi pingin sendiri, yang satu lagi pingin main bersama dan seterusnya. Jadi penulisnya membuat semacam kotak dadu tapi besar,bersama anak-anak dengan warna-warna berbeda di setiap sisinya yang menunjukan perubahan emosi. Tentunya setiap keluarga bisa membuat box yang sesuai diskusi masing-masing. Kalau untuk disini diberi contoh:
Abu-abu=Capek
Biru=Kecewa
Merah=Marah
Hitam=Busuk
Kuning=Senang
Hijau=Oke

Jadi setiap anak punya kotak, setiap mereka merasakan perubahan mood bisa diganti-ganti. Suatu saat kaknya boxnya berubah jadi hitam, ia kaget sehingga berusaha bertanya ke ibunya adiknya kenapa? Ada juga saat adiknya boxnya sedang merah, kakaknya tadinya mau pinjam mainan jadi gak jadi. Menarik juga untuk diterapkan. Walaupun jangan sampai jadi tidak ngobrol ya. Setelah perasaannya berlalu tentu kita diskusikan perasaan anak tersebut. Adik kakak juga harus tetap saling bertanya satu sama lain. Jangan sampai box ini menggantikan ngobrol.

Paling penting juga part paling terakhir ni yang aku suka MORE WAYS TO ENCOURAGE GOOD FEELINGS... (akan dibahas di artikel berikutnya...)

Jadi setelah membaca semua yang paling penting dari seluruh hubungan kemanusiaan ya, mau kakak adik, suami istri, rekan kerja, adalah KOMUNIKASI yang jujur, terbuka, tidak menghakimi, saling memahami perasaan kedua belah pihak. Sering kali kita memperlakukan anak ya gak seperti manusia seutuhnya tapi seperti anak-anak. Seharusnya kita lebih memanusiakan anak-anak. Ofcourse, easier said than done, karena kalau lagi emosi yaaah lupa ya. Sayapun belajar terus karena gagal terus. Karena pas praktek sering khilaf. Namun menulis ini adalah salah satu ikhtiar saya supaya ingat, mudah-mudahan bisa lebih konsisten mempraktekan. Jangan lupa terus-terusan berdoa dan minta pada Allah SWT untuk dilembutkan hati dan tutur katanya. Semoga bermanfaat!
·
OLDER
© Productive Mamas Blog