SLIDER

HUBUNGAN SUAMI ISTRI (SHORT SUMMARY OF THE 5 LOVE LANGUAGE BY GARY CHAPMAN)


Sebenarnya sudah mau sharing tentang buku ini udah lama sekali, tapi artikel ini nyangkut di draft sudah berbulan-bulan. Kebetulan momennya pas banget ya lagi Valentine, walaupun gak ngerayain juga sih. Kali ini mau membahas sesuatu yang beda dan hampir gak pernah dibahas di blog ini, yaitu; Hubungan Suami Istri. Disini aku bukannya mengumbar aib, atau kok ya hubungan suami istri dicerita-ceritain. Tujuannya sharing kali ini untuk membantu mama yang sedang kurang harmonis sama suami, atau lagi terlalu sibuk sama anak untuk lebih memahami pasangannya. Hubungan suami istri itu perlu effort lho, dan aku gak menyadari ini sebelum aku baca buku The 5 Love Language by Gary Chapman ini.

Sebelum masuk ke review buku, aku musti cerita sedikit tentang awal mula aku ketemu sama suami yang sangat amat random. Pertama kali kenal di Phuket, karena ikut trip photography bareng Mama. Persis sebelum aku berangkat kuliah ke Melbourne, aku ikutan trip bareng Mamaku yang isinya bapak-bapak semua, sedangkan saat itu aku baru lulus SMA. Yang enggak bapak-bapak di group itu ya Dipta doang (itupun beda 7 tahun). Dulu itu belum ada Instagram adanya FB, dan di FB, mutual friends sama suami itu 0. Segitu random-nya. 

Long story short, setelah melewati 3 tahun long distance dan aku lulus kuliah, kami menikah. Yes aku menikah di usia yang belia haha baru 21 tahun. Banyak banget yang komen, "Yakin mau nikah? Gak takut kehilangan masa muda dsb". Somehow enggak sih, mungkin karena aku orangnya gak terlalu panjang juga mikirnya, tapi lebih ikutin kata hati. Aku menjadi orang yang JAUH LEBIH BAIK, sejak sama Dipta. Kalau kenal aku dari dulu taulah aku orangnya selebor, rada males, berantakan, dan kurang motivasi. Semuanya berubah total sejak pacaran sama Dipta. Bayangkan saja dari yang dulunya di sekolah sering ditegur guru, dan ngerjain PR aja males, belajar ogah-ogahan lalu pas kuliah aku tuh nilainya lumayan oke, jadi Ketua PPIA (Persatuan Pelajar Indonesia Australia) di kampusku di Melbourne, aku kerja part-time di restoran, aku volunteer di non-profit organization, dsb. Bukan mau pamer CV yah ini, cuman drastis banget perubahannya. Jadi saat ditanya yakin mau nikah muda? Yakin 100% lho, gak ada ragu-ragu nanti ina itu.

Despite kecintaan kita sama pasangan, begitu menikah tentunya banyak adjustment sama gaya hidup, sifat, dsb yang mempengaruhi si hubungan itu sendiri. Aku sama suami sangat amat berbeda secara sifat, dia ambisius aku slow, dia lumayan perfectionist aku enggak, dia demen olahraga aku enggak,  aku demen masak dia enggak, banyak ya kalau mau di list. Cuman perbedaan yang membuat kita melengkapi satu sama lain. Walaupun itu juga yang seringkali memulai pertikaian diantara kita. Beda umur yang 7 tahun juga mungkin sering jadi isu dalam point of view. Yang sama adalah prinsip hidup kami yang hidup nyaman bukan mewah, hidup balance, cara kami mengurus anak, yang inti-inti itu kita eye to eye.

Sejak ada anak kedua, mungkin karena mamak lelah, jadi lebih sering berantem, gak pernah ngedate, dan isu-isu sepele lainnya yang di ignore tapi menumpuk jadi luapan emosi. Long story short, saya yang lagi emosi dan sering berantem ini di rekomendasikan buku The 5 Love Language sama teman yang psikolog, and it's life changing!

Perlu dimenegerti dulu bahwa The 5 Love Language terdiri dari:


1) WORDS OF AFFIRMATION: aka kata2 manis dan pujian. “Kamu cantik/ganteng” “Terima kasih sudah bekerja keras untuk keluarga ini” “Terima kasih sudah menjaga anak2 dengan baik”

2) ACTS OF SERVICE: Suami menawarkan untuk jagain anak2, istri yang mengambilkan makan dan minum sepulangnya kerja, suami yg menawarkan pijatan saat istrinya lelah, dsb

3)AFFECTION: Sentuhan itu tadi dengan cium, peluk, berhubungan, dsb.

4)QUALITY TIME: Waktu berduaan yang fokus tanpa gangguan anak, hp, dsb. Tingkatan quality time ini juga beda2 ya. Jadi untuk irna bisa hanya ngobrol nonton downloadan malam2 sambil mesen gojek udah quality time. Tapi untuk aku perlu yg ngedate dinner cantik atau staycation gt karena kalau dirumah gak fokus. Banyakan ngomonngin anak. Baiknya ngedate jg gak ngomongin anak yaa

5)GIFTS.: Barang/kado, kasih bunga, coklat, kado

Jadi setiap manusia itu punya love tank alias ya si tanki cinta. Kalau ke 5 love language-nya terpenuhi dari pasangan tentunya kita akan merasa 100% happy. Tapi yg perlu dimengerti adalah setiap manusia punya love language yang DOMINAN alias PRIMARY LOVE LANGUAGE. Pasangan yang sering bertengkar berarti gak memahami si primary love language pasangannya.

Contohnya kita melihat suami si A rajin membelikan bunga, coklat, dan barang macam-macam tapi kok istrinya ngeluh terus? Ternyata love language isi A bukan benda melainkan kata-kata manis. Jadi dengan membelikan barang itu bukan yang ia perlukan. Si A perlu sering dipuji cantik tiap hari, hebat masaknya, hebat ngurus anak. Diberikan pujian membuat si A tenang dan senang, love tanknya juga terisi dengan cukup. 

Beda lagi sama si B, yang dipuji-puji tapi kok gak pernah puas. Ternyata yang diperlukan sama si B adalah acts of service alias bantuan. Bantuan untuk ngurus anak, untuk dibawain barangnya, untuk mungkin bener-benerin yang rusak di sekitar rumah. Jadi dibeliin barang sama dipuji seneng sih, cuman kok rasanya masih ada yang kurang ya. Oh ternyata gak terlalu perlu kok dibeliin barang terus menerus, tapi yang diperlukan sama si B adalah suami yang hands-on.

Bukan berarti mengesampingkan yg lain ya. Tentu kalau bisa memenuhi semua lebih baik lagi. Tapi kita harus paham betul love language suami kita yang UTAMA. Makanya beda banget ya saat pacaran sama sudah nikah. Karena saat pacaran kita maximum effort mengisi kelimanya ke pasangan kita. Nah secara udah punya anak, agak lebih sulit dilakukan semua secara maximal. Kalau yg primary sudah kita lakukan biasanya hubungannya di taraf aman. Jadi gak mudah bertengkar.

Jadi misalkan suami primary love language-nya quality time, kalau sudah mulai rungsing berarti kita kurang ngedate dan udah terlalu banyak ngomongin anak. Begitupun aku yang primary love language-nya words of affirmation. Kalau udah mulai sering emosi, dan bt gak beralasan berarti kurang dipuji hahahah.

Cara taunya gimana? Bisa isi questionnaire ini ya online kalau mau shortcut. Namun alangkah baiknya apabila baca bukunya, karena penjelasannya lebih mendetail dan banyak sekali contoh kasus yang membut kita reflect back ke masa lalu kita terutama childhood. Yang memebentuk primary love language kita adalah pengalaman hidup. Either dulu kita kurang bamget dapet dirumah, misalakan dirumah ajrang dipuji kaya aku. Atau kaya suami yang memang dirumah selalu quality time dengan keluarga jadi itu penting sekali untuk dia. Jujur akupun belum selesai, dan masih merupakan resolusi untuk menyelesaikan buku ini karena bagus banget. 

Jujur sih saya belum berubah sepenuhnya, namun membaca buku ini gak hanya memperbaiki hubungan dengan pasangan sih, tapi kita jadi bisa lebih memahami anak, orang tua, mertua, dan orang disekitar. Semoga sharing dan short summary-nya berguna ya, dan mendapat pencerahan untuk hubungannya dengan suami! So, what is your primary love language?

LIL'HOOPSTER, KLUB BASKET ANAK JAKARTA


Memang dari Dio kecil saya suka sekali (iya saya, si Dio kayanya udah pasrah aja) mencoba berbagai macam kegiatan anak. Tapi tentunya sejak Dio bisa bicara saya tanya dulu kok. Sambil menunjukan video orang main basket saya tanya “Kakak mau gak coba latihan basket? Nanti ada coachnya yang ajarin, dan akan ada teman-teman seumuran. Gimana, kakak mau?”. Dio menjawab mau dan selalu excited mau memulai kegiatan baru terutama yang berbau olahraga. Mungkin karena dia lihat Baba-nya juga senang sama berbagai macam olahraga, sehingga Bulan lalu kami sempat mencoba Lil'Hoopster.

Lil’Hoopster merupakan club basket untuk anak usia 1.5-7tahun yang memiliki kurikulum yang dibuat oleh pemain IBL (Indonesian Basketball League). Lokasinya di NZIS (New Zealand International School) Kemang, setiap hari Sabtu sore. Lalu baru saja buka lagi di ICA Preschool Pakubuwono setiap Kamis sore.

Nah berikut kami akan me-review pengalaman Dio selama sebulan disana. Positifnya, kegiatan basket untuk toddler ini kayanya hanya satu-satunya di Jakarta. Biasanya klub basket kebanyakan baru mulai di usia SD, dapet eskul dari sekolah. Itupun jarang ya karena gak semua sekolah punya ring basket. Aktifitas ini bagus sekali untuk melatih motorik kasar anak, koordinasi tangan, mata, dan kaki secara bersamaan. Latihan konsentrasi juga, kerjasama, serta sosialisasi. Walaupun dilatih oleh coach IBL tapi Lil'Hoopster ini gak yang serius gimana, banyak unsur fun-nya sehingga cocok untuk target usianya yang ikutan. Seru kok game-gamenya, Dio setiap udahan selalu bilang "Kok cepet banget Mama? Dio masih mau main basket". Berarti menyenangkan ya kalau sampe anaknya gak mau udahan.

Sudah membahas yang bagus-bagus sekarang aku ada sedikit saran aja untuk improvement. Aku gak komplain sama sekali, karena keep in mind tempat ini baru banget lho jadi tentunya masih learning progress. Tapi kalau ditanya kurangnya aku juga akan ceritain ya karena ini honest review. Jadi saat hari pertama mulai, diasumsi si Dio sudah bisa mendribble bola dan dia sempat agak confused.  Teman yang ada dikelas sudah ikutan dari minggu-minggu lalu jadi udah bisa dribble, sedangkan kami emang belum pernah mengenalkan sama Basket. Si Dio sempat ikutan ritme kelasnya tapi bolanya jatuh-jatuh terus. Bukannya mau diperlakukan khusus atau gimana, tapi baiknya setiap murid baru di brief dahulu, dipisahin dari awal, karena aku yang dewasa aja gak bisa dribble bola haha. Namun di game berikutnya si coach notice dan sigap bawa Dio berpisah sebentar dan diajarkan teknik dasar men-dribble. So all is good. 

Overall tapi aku dan Dio happy dengan si Lil'Hoopster. Sayangnya kelasnya Dio jam 4 sore hari Sabtu, jadi kami sering sekali ada acara dan gak bisa lanjutin. Tapi kalau dia ada jam dan hari yang lebih enak aku consider untuk Dio lanjut ikutan kelasnya. Aku juga sudah merekomen ini ke beberapa teman, terutama yang bapaknya suka sekali main basket.

PERTANYAAN UMUM SEPUTAR ASIP

  • 30 January 2018


Menurut aku penting banget punya guideline ASIP (Asi Perah). Gak semua ibu baru terutama baru lahiran, punya waktu untuk membaca buku yang tebal, atau datang ke workshop. Nah aku juga lumayan sering ditanya sama teman yang baru, seputar per-ASIP-an. Berikut aku list pertanyaan yang sering ditanyakan beserta jawabannya seringkes mungkin ya.

Pakai pompa ASI electric atau manual?
Saat ini aku pakai pompa ASI Avent yang manual.

Kenapa memilih manual ketimbang yang electric?
Dua-duanya sama baiknya kok. Namun karena aku gak kerja full time, dan hanya menyetok ASIP untuk emergency saja, jadi lebih convinient manual untuk aku, karena lebih mudah dibawa-bawa dan ringkes. Dulu pernah pakai electric sih, tapi harus dicolok ke listrik dan agak berisik.

Pakai pompa ASI merek dan tipe apa?
Aku pakai Pompa ASI Phillips Avent Manual tipe SCF330/20

Kenapa pakai merek tersebut?
Berdasarkan rekomendasi dari Irna, juga teman-teman yang komen di Instagram saat aku hamil. untuk pompa asi manual ini merupakan brand dan tipe yang paling banyak di mention sama. Setelah pakai sendiri juga setuju sih, memang nyaman dipakai, praktis dan ringkes untuk dibawa-bawa. Enaknya manual juga kekencangan menyedotnya bisa diatur, dan suaranya tidak berisik. 

Bisa beli dimana?
Kebetulan dapat hadiah, tapi untuk yang mau beli bisa di JD.Id, aku baca sedang ada promo dan diskon 30%. Ini linknya ya https://www.jd.id/product/avent-scf330-20-breast-pump-natural-manual-bottle_681150/10016415.html

Kapan Waktunya Memompa?
Untuk ibu yang bekerja tentunya 2 jam sekali. Untuk yang supplynya banyak dan menghindari payudara mengeras juga baiknya rutin. Untuk yang ingin meningkatkan supply asi juga baiknya rutin. Namun aku jujur sih, hanya pumping setiap pagi, karena ninggalin anaknya jarang, lalu takut mubazir kaya sebelumnya akhirnya pada basi dan harus dibuang. Jadi sekarang ini aku punya ASIP paling banyak 5 botol aja di freezer, untuk pergi acara kisaran meeting 2-4 jam.

Ketahanan ASIP yang disimpan?
ASIP yang baru diperah tahan di suhu ruangan kisaran 4-6 jam (aku ambil 4 jam supaya aman), tahan 3-8 hari di suhu lemari es 0-4 derajat celcius, dan tahan 2 minggu di freezer kulkas 1 pintu. Kalau untuk ibu bekerja baiknya punya freezer khusus ASIP saja agar kedinginan dan ketahanannya terjaga bisa sampai 3-4 bulan.

ASIP yang sudah dicairkan di kulkas tahan tidak lebih dari 4 jam, terutama yang sudah dialirkan dengan air hangat, baiknya langsung dikonsumsi.

Media penyimpanan ASIP?
Kantong dan botol yang BPA Free. Baiknya gunakan merek-merek yang sudah terpercaya dan yakin bahwa itu BPA Free demi keamanan si kecil. 

Cara mencairkan ASIP dari freezer?
Mencairkan ASIP itu tidak boleh di suhu dadakan. Misalkan dari beku di freezer lalu langsung rendam air panas. Harus perlahan sesuai penurunan suhu. Awalnya pindahkan ASIP beku dari freezer, ke kulkas bawah sampai mencair. Lalu setelah itu baru dikeluarkan ke suhu ruangan, sekitar satu jam, baru dihangatkan. 

Cara menghangatkan ASIP?
Letakan botol asip di dalam mangkuk berisi air hangat, dan diamkan beberapa saat sampai mencair. JANGAN memasak asip diatas api langsung maupun menggunakan microwave. 

Cara peberian ASIP?
Dulu aku pernah pakai cup feeder tapi mudah tumpah, dan kurang telaten. Sehingga kalau memang harus ditinggal sesekali aku pakai botol susu biasa, baru mulai dicoba saat anaknya usia 3 bulan. Menurut aku lebih baik jangan saat usia 1 bulanan, karena anaknya masih adjust dengan puting ibu, dikhawatirkan bingung puting. Namun di usia 3 bulanan ia sepertinya sudah mulai bisa membedakan, (dari pengalaman pribadiku). Jadi aku juga pakai botol Avent natural 2.0 yang untuk newborn. Lebih baik juga ASIP diberikan oleh orang selain ibu ya, jadi pengasuh, nenek, atau ayahnya. 


Kalau ada pertanyaan lain, feel free to comment below. Semangat mengASIhi mamas! 

TIPS SUKSES POTTY TRAINING

  • 14 January 2018


Hari Jumat kemarin aku diminta Irna untuk sharing seputar Potty Training di Line Square Mamashares karena dulu Dio lepas popok pas di usia 2 tahun. Target aku sebelum masuk sekolah pokoknya. Sejujurnya tipsnya HANYA SATU, jadi kalau satu tips ini dijalankan dengan baik sih sudah pasti berhasil potty training-nya (berdasarkan pengalaman saya dan ibu-ibu lain). Tips-tips yang lain supporting saja, tapi memang harus dijalankan juga. Sebelum masuk ke berbagai macam tips, saya mau cerita sedikit tentang pengalaman potty training Dio. 

Aku mulai potty training saat Dio usia 1.5 tahun, waktu itu sekalian karena Dio habis disunat trus gak boleh pake popok. Jadi mau gak mau harus diajarin untuk bolak balik ke toilet. Namun ternyata ini salah satu perjalanan terpanjang dan termenyebalkan selama menjadi ibu (waktu itu ya baru jadi ibu selama 1.5 tahun hahaha). Jadi Dio itu dari bayi anaknya super manis. Mulai dari gampang tidur dimana saja, termasuk mudah menyusui walaupun ASI aku pas-pas aja, gampang makan segala, super anteng dibawa kemana-mana, dan bisa dibilang gak pernah tantrum (ini semua dibawah usia 2 tahun ya, diatas itu sih beda lagi). Nah, jadi perjalanan potty training merupakan perjalanan terberat, terstress, terkesel, karena super lama. Selama 6 bulan aku on-off potty training.

Dulu aku asal-asalan ya, banyak pemaksaan, banyak marah, in the end menyesal aku. Kalau aku banyak research dari awal tentunya banyak drama yang bisa tereliminasi. Berikut tips berdasarakan pengalaman aku, dan teman-teman yang sudah berhasil potty train anaknya. Semua hampir mirip, jadi aku rangkum jadi satu disini. 

Sebelum mulai potty training, kita harus siapkan mental anak dulu dengan:

  • Bacakan cerita, lagu, dan video seputar potty training.
  • Briefing dulu beberapa hari sebelumnya, bahwa akan lepas popok dan memakai celana dalam. Bahwa akan pipis di toilet. Pokoknya briefing semua se detail mungkin, kalau bisa sih seminggu setiap hari sebelum mulai dibawa ke toilet.
  • Diberikan contoh oleh orang tua yang jenis kelaminnya sama dengan anak. Jadi kalau Dio diberi contoh sama Babanya.
Saat dimulai:
  • 1-2 jam sekali harus rajin bawa ketoilet atau pelajarin gerak gerik muka dan kakinya kalau lg mau pipis/pup. Ditanya juga "Sudah mau pipis belum?". Banyak anak yang walaupun kebelet pipis akan jawab enggak. Tapi apabila kita lihat gerak-geriknya sudah mencurigakan, langsung diajak bersama-sama ke kamar mandi.
  • JANGAN pake training pants, langsung celana dalem biasa. Agar kalau mengompol anak dapat merasakan basah dan gak nyaman. Untuk celana dalamnya, kalau bisa belikan karakter lucu yang anak suka. 
  • Langsung di toilet aja pake alas, instead of pispot. Ini personal banget sih, mungkin ada yang cocok dengan pispot, tapi kalau Dio kok ngiranya itu mainan ya jadi gak pernah mau pipis disitu. Kalau memang di toilet, kalau bisa dikasih pijakan ke toilet supaya anaknya bisa naik sendiri. 
  • Kalau sampai ngompol atau pup dicelana diajak untuk bersihkan sama-sama, terutama kalau sudah 2 tahun. Gak dimarahin tapi ya, cuman mengajarkan tanggung jawab dan sebab akibat.

And last but definitely not least alias yang TERPENTING adalah KONSISTEN ! Konsisten untuk tidak pake popok walaupun pergi ataupun tidur. Jadi semua tips diatas tidak akan berhasil kalau gak konsisten. Walaupun sudah briefing, sudah cerita, sudah ina itu, tapi kalau pas pergi atau tidur kita masih pakaikan popok anaknya bingung. Ini gimana sih, sebenernya pipis sama pup tuh di toilet apa di celana? 

Aku sama Dio dulu juga antara niat dan malas, makanya bisa sampai 6 bulan. Sering banget kalau tidur dipakein lagi, dan gak sabaran. Namun begitu sudah konsisten, dalam 5 hari saja anaknya langsung bisa! Teman-teman juga yang aku kasih tips ini, banyak sekali yang berhasil, dan rata-rata sekitar 5 hari, maximal 7 hari. Kalau malas anaknya ngompol in public ya plan aja seminggu gak kemana-mana dan full di rumah. 

Kira-kira itu tips potty training, in conclusion yang harus niat adalah IBUNYA. Jangan php-in anak dengan on-off kaya aku gitu. Mending jangan mulai dulu kalau ibunya masih malas-malasan, karena nanti anak malah ada trauma atau gimana. Kumpulkan niat ya buibu, dan tetap semangat! Semoga tipsnya membantu. 
·
OLDER
© Productive Mamas Blog