SLIDER

Yuk, Simak Cara Mengelola Emosi Setelah Setahun #dirumahaja !

  • 29 March 2021


Awal menghadapi pandemi kita merasa waktu 24 jam dalam sehari rasanya kurang, karena kegiatan yang biasanya kita lakukan di luar rumah seketika harus dikerjakan secara daring dari dalam rumah.


Mulai dari harus menjalani Work from Home (WFH), menjadi guru dadakan untuk anak-anak yang juga harus bersekolah dari rumah, mengurus tugas negara yang tak kunjung usai dan banyak hal yang tak pernah kita duga sebelumnya akan terjadi.


Setelah satu tahun berlalu dan pandemi belum juga usai, rasanya kita sudah mulai beradaptasi dengan rutinitas sehari-hari yang serba terbatas di rumah.


Mengerjakan kegiatan yang sama berulang-ulang dengan orang-orang yang sama pula serta dalam tempat yang sama selama berbulan-bulan, ternyata membuat diri kita penat menjalaninya.


Waktu bersama keluarga menjadi overqualitytime, hampir setiap waktu kita mengisi hari hanya dengan keluarga dan sangat terbatas untuk bertemu dengan orang lain.


Setelah kita dapat beradaptasi dengan keadaan selama pandemi, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana cara mengatasi kebosanan saat 24 jam bersama?


Nah, minggu lalu Tim Productive Mamas bersama Tim Relawan Keluarga Kita (Rangkul) mengadakan sesi online berupa Instagram Live dengan mengangkat tema Hubungan Reflektif. 


Sesi Rangkul Kolaborasi (SeRasi) ini dipandu oleh Nina dari Tim Rangkul Keluarga Kita serta Afdita dari Tim Productive Mamas yang membahas tentang Manajemen Emosi saat 24 Jam Bersama.


Menjawab kerisauan para orang tua yang seakan berada dalam penat setelah setahun lamanya harus beraktifitas #dirumahaja bersama keluarga terdekat, Nina mengawali sesi dengan mengingat pernyataan yang pernah diutarakan oleh Ibu Najelaa Shihab yang mengatakan bahwa sebenarnya terkadang kita butuh memiliki rasa bosan, karena dari rasa bosan tersebut akan muncul ide-ide baru.


Memang saat dilanda pandemi seperti ini, tidak sedikit orang-orang di sekitar kita yang menyibukkan diri dengan mempelajari hal-hal baru atau berinovasi tetap bisa berkegiatan.


Misalnya seperti banyak usaha baru yang muncul, hadirnya teknologi baru, hingga kebiasaan positif baru yang ikut terbentuk.


Jadi, sesungguhnya kebosanan itu tidak perlu kita hindari, karena mungkin saja rasa bosan tersebut tidak melulu akan menjadi masalah, tetapi bisa saja membawa berkah di hidup kita.


Kiat Mengatasi Kebosanan Selama di Rumah


Kebosanan selama #dirumahaja juga dirasakan oleh anak-anak kita, cara untuk mengatasinya pun berbeda-beda di tiap tahapan usia.


Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kita dapat mengajaknya diskusi mengenai perasaan yang sedang dia alami, kita mencoba berempati dengan apa yang dia rasa dan bersama-sama mencari solusi menghadapi kebosanan tersebut.


Sedangkan, untuk menghadapi kebosanan anak dengan usia yang lebih kecil, kita bisa memberikan ide-ide bermain atau berkegiatan di dalam rumah.


Nah, salah satu berkah selama pandemi ini adalah banyaknya para orang tua yang saling sharing ide-ide untuk berkegiatan bersama di rumah, hal itu bisa kita terapkan dalam menghadapi kebosanan si kecil.


Afdita juga menambahkan, salah satu cara yang ia lakukan di rumah untuk menghadapi rasa bosan adalah dengan membebaskan anaknya untuk berkegiatan apapun di dalam rumah, meski pada akhirnya kerapihan rumah yang harus direlakan.


Sejujurnya, untuk Dita yang sehari-hari menjalani pekerjaan dari rumah dan harus menemani anak yang juga bersekolah dari rumah, itu bukanlah sesuatu yang mudah. Ia sadar, tidak semua hal dapat berjalan sempurna sesuai yang ia inginkan, harus ada hal yang ia relakan.


Dita juga belajar untuk mengelola ekspetasi, sehingga perlahan ia bisa menikmati hal-hal yang tidak mudah berjalan beriringan seperti kerapihan rumah dengan kegiatan bebas anak selama di rumah.


Yang juga perlu diingat adalah kita harus tahu sifat bawaan anak, karena kalau dia anak yang aktif berarti kita harus memberinya kesempatan untuk bergerak.


Kita juga perlu memberikan penjelasan pada anak, bahwa ada hal-hal yang dapat dan tidak dapat kita kontrol.


Kondisi pandemi ini adalah salah satu contoh hal yang terjadi di luar kendali kita sebagai manusia dan ini menyangkut orang banyak, jadi sebisa mungkin kita menyadari situasi dan kondisi yang sedang kita alami, sehingga kita tahu harus berbuat apa untuk menghadapinya.


Menyiasati Me Time Saat Pandemi


Terkait soal kebosanan, sebelum pandemi berlangsung biasanya salah satu cara kita menghilangkan rasa bosan adalah melakukan me time. Nah, ajang me time atau memanjakan diri dengan pergi keluar rumah adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu.


Sayangnya saat ini kegiatan me time di luar rumah tidak bisa lagi dilakukan, untuk menyiasati hal tersebut Nina memiliki kiat-kiat khusus diantaranya


Pertama, belajar untuk mengenali kebutuhan diri. Ada banyak macam kebutuhan diri, seperti kebutuhan asupan, kebutuhan gerak, kebutuhan bersosialisasi, kebutuhan beristirahat dan lain sebagainya.


Biasanya untuk tetap seimbang dan waras, orang tua haruslah bijak untuk mengelola waktu, tak hanya waktu untuk diri sendiri tetapi juga mengimbangi waktu untuk berbagai kebutuhan anak.


Dengan pengaturan waktu yang baik, kita dapat berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan diri kita dan anak sebaik mungkin.


Kedua, menyadari peringatan (alarm) dari dalam diri. Biasanya kalau kita sudah mulai sering marah-marah, tandanya kita butuh jeda dan memenuhi kebutuhan diri untuk beristirahat.


Sebisa mungkin kita mengenali diri dan bisa mengelola energi, serta mencoba mendengarkan diri sendiri yaitu dwngan tidak mengabaikan alarm diri sehingga tidak mengakibatkan kita burn out.


Jadi, sebelum alarm itu berdering kita sudah tahu atau sadar kalau kita perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri yang belum terpenuh, misalnya kita butuh mengobrol dengan orang lain (kebutuhan bersosialisasi) atau tanpa sadar kita bekerja terlalu lama dan terlewat waktu makan (kebutuhan asupan).


Selanjutnya, dengan bijak mengelola waktu anak, kita juga dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan apa pada anak yang belum terpenuhi.


Yang terakhir,menyiasati me time dengan berkegiatan di dalam rumah. Misalnya dengan menonton film kesukaaan, mandi lebih lama, dan lain-lain. 


Yang terpenting saat me time, kita menyeimbangkan dengan waktu keluarga, artinya ada seseorang yang dapat menggantikan sementara tugas kita di rumah, jadi saat me time kita pun tidak khawatir terhadap kelangsungan rutinitas di rumah.


Lalu, bagaimana cara kita meredam amarah saat kita di rumah?


Perlu diingat, bahwa marah adalah salah satu bentuk emosi. Dan emosi itu harus diterima dan dirasakan kehadirannya.


Kadang kita mudah berespon marah ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan kita. Kita perlu mengenali diri saat lelah atau situasi lain yang menyulut emosi, sehingga kita bisa memilih respon yang lebih tepat. 


Segala emosi yang ada dalam diri kita itu fitrah, jadi pengelolaannya mungkin butuh proses seumur hidup.


Intinya, sebagai kita tidak boleh takut gagal sebagai orang tua, karena jadi orang tua itu kesempatannya ada setiap hari.


Jadi, jika hari ini kita gagal mengelola emosi, kita coba refleksi diri untuk tahu apa yang akan kita lakukan, sehingga di lain waktu kita bisa lebih waras dan lebih baik dalam merespon.


Support System Yang Baik


Penting juga kita memiliki support system yang baik dari orang-orang terdekat, mulai dari suami, orang tua, maupun sahabat.


Kadang kala peran di rumah sebagai istri dan ibu mengharuskan kita untuk dapat mengatasi berbagai hal, termasuk menjadi tempat berkeluh kesah suami dan anak-anak. Sedangkan, curahan hati dari diri kita sendiri malah kadang terabaikan.


Nah, dengan memiliki orang-orang terdekat yang dapat menjadi pendengar, kita dapat berbagi cerita dan tidak sedikit masalah yang kita alami ternyata juga sedang dihadapi oleh orang lain. Hal itu membuat kita tidak lagi merasa sendirian.


Setelah kita terus belajar mengelola emosi diri dan berusaha untuk tenang menghadapi rutinitas sehari-hari, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana cara kita menghadapi orang terdekat yang sedang tantrum?


Jawabannya sekali lagi adalah menyadari kebutuhan apa dari orang tersebut yang belum terpenuhi, sehingga diri mereka tidak nyaman.


Biasanya penyebab anak-anak yang tantrum adalah tidak terpenuhinya kebutuhan istirahat atau asupan.


Anak-anak kadang merasa bermain adalah sarana untuk ia beristirahat dari segala kewajiban, padahal bermain dalam waktu yang berlebihan akan membuat tubuhnya kelelahan, sehingga respon tubuh akan membuatnya tidak nyaman dan menimbulkan tantrum.


Dan ketika tantrum terjadi pada pasangan kita, yang harus kita lakukan adalah mengingatkan atau menyediakan kebutuhan apa yang belum sempat ia lakukan. Misalnya belum beristirahat selama bekerja dari rumah atau melewatkan waktu makan yang seharusnya.


Jadi, dalam menghadapi tantrum orang terdekat kita adalah dengan mengingatkan tentang perasaan yang ia alami dan kebutuhan apa yang belum terpenuhi, sehingga timbul respon yang lebih baik dari kedua belah pihak.


Sekian Sesi Kolaborasi Relawan Keluarga Kita dengan Productive Mamas kali ini, semoga dengan berbagi cerita dapat bermanfaat untuk mama semua yang bersama-sama sedang berjuang menghadapi hari-hari di masa pandemi bersama keluarga.


Tetap kuat dan semangat ya, mama !



(Artikel ditulis oleh Syifa Rahmi untuk blog www.productivemamas.com)



No comments

Post a Comment

·
OLDER
© Productive Mamas Blog