SLIDER

MEMASTIKAN ANAK MEMILIKI SKILL MASA DEPAN UNTUK MASA DEPAN BERDAYA

  • 09 April 2022

Pernah membayangkan gak sih sekitar 10-20 tahun lagi masa dimana anak kita akan masuk ke dunia nyata dan pekerjaan, dunia sudah seperti apa? Skill seperti apa yang anak-anak kita butuhkan kedepannya? Aku salah satu parents yang sangat concern dengan hal ini. Sehingga saat mendengar dan membaca Studi HP New Asian Learning Experience 2021, sangat tertarik dengan hasil yang didapatkan.

Studi ini dilakukan di lima kota besar di Indonesia dan menyasar orang tua milenial. Hasil studi menunjukkan bahwa orang tua menekankan pentingnya soft-skill seperti cara berpikir kreatif (94%), pemecahan masalah (92%), dan kemampuan beradaptasi (92%). Temuan ini mewakili pergeseran pola pikir dari indikator pembelajaran yang lebih tradisional seperti nilai dan akademis.

 

Lanjutan dari hasil studi ini adalah kolaborasi webinar yang dilakukan bersama Tiga Generasi. Kebetulan saya (Nesya) juga menjadi representative dari ibu-ibu yang mengikuti webinar tersebut. Topik yang diangkat adalah Skill Masa Depan. Dibuka oleh Sashkya Aulia Prima M.Psi, Meity Daniel HP Print Marketing Manager, dan saya sendiri Danesya M Juzar sebagai parents yang memiliki concern terhadap masa depan anak, dunia pendidikan, juga founder dari Productive Mamas.

 

Saski membuka dengan fakta-fakta mencengangkan di masa depan, yaitu beberapa diantaranya:

-Pada tahun 2025, 85 juta pekerjaan akan tergantikan dengan mesin.

-50% karyawan di seluruh dunia butuh perbaruan skill setiap 6 bulan.

-Muncul 97 juta jenis pekerjaan baru.

-15% tenaga kerja dari 35 negara di dunia beresiko untuk tidak mendapat pekerjaan di tahun 2030.

 

 

Jadi kita sebagai orang tua bisa apa? Kita bisa belajar terus dan mendampingi anak-anak kita mengasah berbagai keterampilan masa depan. Keterampilan seperti apa saja sih? Banyak sekali ya tentunya, mulai dari kecerdasan sosial, emosional, berpikir kritis, kreatif, sampai bekerjasama dengan orang lain. Tapi tiga yang paling utama adalah: Cognitive & Meta-Cognitive (berpikir), sosial & emosional, praktikal &fisik.

 

Sashkya menjelaskan bahwa skill cognitive & meta cognitive merupakan kemampuan untuk terus menciptakan ide baru, belajar seumur hidup, kesadaran tentang proses berpikir, dan aplikasi strategi berpikir dalam memecahkan masalah sehari-hari.

 

Sosial emosional sendiri merupakan Memahami diri dan orang lain, empati, kemampuan bekerjasama, kontrol diri, serta berkomunikasi.

 

Sedangkan  praktikal dan fisik adalah Kemampuan untuk menggunakan & mengoperasikan alat, digital devices, dll, memanipulasi materi yang dimiliki untuk mencapai hasil tertentu.

 

Sekarang pertanyaan besarnya, bagaimana kita dapat berkegiatan bersama anak-anak kita dan menstimulasi skill-skill tersebut? Gak usah jauh-jauh mikirin kegiatan yang ribet-ribet, mulai dari diri dan rumah aja dulu. Merawat diri dan berperan dalam kebersihan rumah, merawat tanaman/peliharan, menulis jurnal maupun memiliki sahabat pena, bergabung dengan komunitas, diskusi karakter dan perasaan dari film//buku yang dibaca, yang terpenting adalah ngobrol tentang keseharian dan kehidupan!

 

Selain hal diatas, adalagi kegiatan mudah yang sebenarnya seru banget asal kita tau bagaimana cara memanfaatkannya dengan baik! Aku sering dapat teman-teman yang curhat bahwa anaknya gamau menulis karena bosan.. Atau gimana sih bikin printables seru dan menarik?

 

Nah kebetulan, HP memiliki banyak free printables yang bisa banget kita masukan dalam kegiatan kita bersama anak sehari-hari. Coba download dan print dulu ya di: https://printables.hp.com/id/id lalu kita coba seru-seruan sama anak-anak yuk!

 

1.Treasure hunt

Yuk kita sembunyikan barang-barang di sekeliling rumah dan berikan clue untuk anak dapat mengumpulkannya dengan diberi timer. Agar anak menggerakan tubuhnya, menstimulasi keingin tauannnya, dan seluruh sensorinya untuk menyiapkan diri berkegiatan. 


2.Mewarnai dengan berbagai teknik

Kita merasa gak sih pas kecil dipaksa untuk selalu menggambar dan mewarnai yang itu-itu saja? Sedangkan jargon pendidikan montessori itu: freedom within limits. Kita harus banyak berikan kebebasan untuk anak berkreasi. Gak ada salahnya kok kalau mewarnai keluar garis, atau mau menggunakan teknik yang gak itu-itu aja. Bahkan menggunakan media seperti kertaspun merupakan bentuk kreativitas anak dan kita harus mendukungnya.

 

 

3.Sambung cerita.

Setelah mewarnai, sebutkan beberapa kata lalu ajak anak merangakai sebuah kalimat atau cerita dari kata terebut. Setelah itu kita bisa main sambung cerita antara parents, dan anak. Bakal seru banget karena ceritanya bisa kemana-mana,serta menimbulkan emosi yang nano-nano mulai dari lucu, sedih, sampai senang.

 


4.Bedah artikel dan diskusikan!

Ini juga merupakan lanjutan dari kegiatan mewarnai. Untuk anka yang lebih besar kita bisa research mengenai objek di gambar tsb lalu kita diskusikan perasaan anak, dan action apa yang bisa kita ambil to make the world a better place.

 

5.Paper puppet

Gunting gambar-gamabr printables dan tempelkan di stik es krim.

 

6.Diorama lifecycle

Gambar yang dipotong selain untuk puppet bisa juga melengkapi diorama life cycle mengenal alam lebih jauh dan habitat hewan.

 

 

Contoh diatas merupakan beberapa kegiatan engaging yang menstimulasi semua indera, serta soft skills seperti kreativitas, active learning, sosial emosional, berpikir kritis, practical, sampai cognitive dan meta cognitive. Padahal berawal dari kegiatan yang sederhana banget ya. Kebetulan aja anak-anak di rumah memang senang sama hewan, jadi aku pilih kolaborasi HP x WWF. Namun selain contoh-contoh diatas banyak banget kegiatan pilihan lainnya. Yuk kita bangun masa depan bangsa dengan anak-anak yang tanggguh untuk masa depan yang berdaya!

8 Ide Self Care di Rumah Versi Productive Mamas

  • 15 April 2021

 




Melakukan segala kegiatan di rumah semasa pandemi untuk beberapa orang memang terasa berat. Beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang mengharuskan kita lebih banyak beraktivitas #dirumahaja juga bukan hal yang mudah, tekanan keadaan bisa membuat kita stress bahkan berpengaruh pada menurunnya imun tubuh.

 

Belum lagi padatnya rutinitas dn banyaknya pekerjaan yang harus kita  selesaikan setiap hari, tentu tak jarang membuat kita merasa jenuh.Sebagai ibu negara di rumah, terkadang karena terlalu lelah “berjuang medn perang” bahkan kita kerap kali lupa untuk merawat diri sendiri (self-caring).

 

Nah, kegiatan self-caring atau merawat diri tak ini, tak melulu soal fisik, melainkan juga mental dan pikiran kita yang juga penting untuk dirawat dan diperhatikan.


Untuk mama yang sedang mencari cara untuk melakukan perawatan diri, berikut ada beberapa tips kegiatan yang bisa mama lakukan untuk menyegarkan diri sekaligus memenuhi baterai energi. Tentunya mudah dilakukan di rumah dan nggak menghabiskan banyak waktu. 


Apa saja? Yuk, simak berbagai idenya di atas!

 


Mengonsumsi makanan yang sehat


Banyak yang tak sadar kalau istilah  “you are what you eat” itu memang benar adanya, karena pola makan dan konsumsi asupan yang sehat dan bergizi bikin mood jadi lebih baik.


Selain itu, pola makan sehat juga bisa membuat tubuh kita memiliki energi yang cukup untuk menjalani aktivitas yang padat dan fokus dalam membersamai anak. Jadi, daya tahan tubuh kita pun akan kuat dan tidak gampang sakit.

 


Olahraga ringan


Kadang karena terlalu sibuk dengan tugas di rumah kita jadi merasa tidak punya banyak waktu untuk olahraga.


Padahal yang utama dari olahraga itu bukan seberapa lama olahraga itu dilakukan dalam sehari, tapi tentang bagaimana kita bisa tetap konsisten melakukan olahraga secara rutin, meski dalam waktu terbatas.


Cara yang bisa mama lakukan pertama adalah NIAT dan TEKAD YANG KUAT, selanjutnya mama bisa menjadwalkan sesi olahraga ringan di pagi atau sore hari.


Karena olahraga bisa melancarkan aliran darah, juga efektif meningkatkan energi kita seharian. Olahraga atau exercise akan melancarkan aliran darah dan membuat imun jadi lebih kuat. 

 


Melakukan hobi


Meluangkan waktu untuk melakukan hal yang menyenangkan dapat bermanfaat untuk meringankan suasana hati serta membuat energi kita kembali terisi.


Dan selama kita menikmati dan tenggelam dalam kegiatan tersebut bukan berarti kita hanya menghabiskan waktu, tetapi juga memberi jeda ke tubuh dan pikiran kita untuk menyegarkan diri kembali.



Istirahat dan Memberi jeda ke diri sendiri


Beristirahat bisa jadi terapi terbaik bagi tubuh. Untuk itu, kita bisa mencoba tidur lebih awal dari jadwal biasanya.


Caranya adalah menyingkirkan gadget di sekeliling kita dan bersiaplah untuk istirahat dengan tenang. Dijamin kita akan kembali segar saat bangun!


Dan selama kita masih bisa bekerja dengan produktif dan mengambil istirahat yang cukup, itu juga bukan masalah.


Hanya jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan semua hal karena kadang kita lupa mendengarkan kata hati dan mengabaikan alarm dari diri sendiri, sehingga kelelahan dan tidak punya waktu untuk istirahat.



Mencari hal-hal lucu yang dapat membuat kita tertawa


Karena dengan tertawa beban seseorang akan sedikit berkurang, maka kita juga perlu menghibur dan merawat diri dengan cara ini.


Kita bisa mencari video-video lucu, menonton acara komedi, ataupun membaca tulisan yang berbau humor. Dijamin jiwa dan raga kita seketika akan kembali segar dan bersemangat !.

 


Mempelajari Hal Baru

Salah satu self care yang dapat menambah pengetahuan baru dan meningkatkan profesionalitas adalah melalui online class.


Selama #dirumahaja kita bisa meluangkan waktu untuk belajar hal baru, entah melalui tutorial tertentu dari kanal YouTube favorit atau mengikuti berbagai program keterampilan yang diselenggarakan secara daring.


Dengan begitu, kita dapat mengembalikan fokus dan juga energi serta menambah kepercayaan diri.

 



Bersih-bersih Rumah


Pandemi tentunya adalah salah satu hal di luar kekuasaan kita, bebas beraktivitas di luar rumah juga tidak dapat kita lakukan.


Nah, sekarang waktunya kita mengendalikan apa yang bisa kita lakukan di rumah. Misalnya, bersih-bersih kamar, lemari, atau dapur


Memang terlihat sepele, namun nyatanya hunian yang bersih akan memberi nuansa segar dan nyaman ketika kita banyak melakukan kegiatan di rumah. Yuk,dicoba!

 

 


Meluangkan waktu untuk perawatan tubuh dan skincare


Kesibukan mengurus rumah dan menyelesaikan berbagai pekerjaan seringkali membuat kita lupa untuk memanjakan tubuh.


Padahal ada banyak kegiatan self care yang dapat kita lakukan di rumah, misalnya dengan melakukan skincare routine, luluran dengan berbagai jenis body scrub beraroma, berendam sambil mendengarkan musik atau bubble bath, atau sekadar mandi lebih lama dari biasanya.


Dengan melakukan perawatan tubuh secara rutin, kita dapat meningkatkan kepercayaan diri dan sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.


Selain itu, memanjakan diri dapat membuat tubuh merasa lebih rileks, membasuh emosi negatif dalam tubuhmu. Serta perawatan tubuh dan skincare juga dapat menghidrasi. Bahkan, keduanya bisa memberikan vitamin yang akan mengembalikan nutrisi pada tubuh.




Yuk, Simak Cara Mengelola Emosi Setelah Setahun #dirumahaja !

  • 29 March 2021


Awal menghadapi pandemi kita merasa waktu 24 jam dalam sehari rasanya kurang, karena kegiatan yang biasanya kita lakukan di luar rumah seketika harus dikerjakan secara daring dari dalam rumah.


Mulai dari harus menjalani Work from Home (WFH), menjadi guru dadakan untuk anak-anak yang juga harus bersekolah dari rumah, mengurus tugas negara yang tak kunjung usai dan banyak hal yang tak pernah kita duga sebelumnya akan terjadi.


Setelah satu tahun berlalu dan pandemi belum juga usai, rasanya kita sudah mulai beradaptasi dengan rutinitas sehari-hari yang serba terbatas di rumah.


Mengerjakan kegiatan yang sama berulang-ulang dengan orang-orang yang sama pula serta dalam tempat yang sama selama berbulan-bulan, ternyata membuat diri kita penat menjalaninya.


Waktu bersama keluarga menjadi overqualitytime, hampir setiap waktu kita mengisi hari hanya dengan keluarga dan sangat terbatas untuk bertemu dengan orang lain.


Setelah kita dapat beradaptasi dengan keadaan selama pandemi, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana cara mengatasi kebosanan saat 24 jam bersama?


Nah, minggu lalu Tim Productive Mamas bersama Tim Relawan Keluarga Kita (Rangkul) mengadakan sesi online berupa Instagram Live dengan mengangkat tema Hubungan Reflektif. 


Sesi Rangkul Kolaborasi (SeRasi) ini dipandu oleh Nina dari Tim Rangkul Keluarga Kita serta Afdita dari Tim Productive Mamas yang membahas tentang Manajemen Emosi saat 24 Jam Bersama.


Menjawab kerisauan para orang tua yang seakan berada dalam penat setelah setahun lamanya harus beraktifitas #dirumahaja bersama keluarga terdekat, Nina mengawali sesi dengan mengingat pernyataan yang pernah diutarakan oleh Ibu Najelaa Shihab yang mengatakan bahwa sebenarnya terkadang kita butuh memiliki rasa bosan, karena dari rasa bosan tersebut akan muncul ide-ide baru.


Memang saat dilanda pandemi seperti ini, tidak sedikit orang-orang di sekitar kita yang menyibukkan diri dengan mempelajari hal-hal baru atau berinovasi tetap bisa berkegiatan.


Misalnya seperti banyak usaha baru yang muncul, hadirnya teknologi baru, hingga kebiasaan positif baru yang ikut terbentuk.


Jadi, sesungguhnya kebosanan itu tidak perlu kita hindari, karena mungkin saja rasa bosan tersebut tidak melulu akan menjadi masalah, tetapi bisa saja membawa berkah di hidup kita.


Kiat Mengatasi Kebosanan Selama di Rumah


Kebosanan selama #dirumahaja juga dirasakan oleh anak-anak kita, cara untuk mengatasinya pun berbeda-beda di tiap tahapan usia.


Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kita dapat mengajaknya diskusi mengenai perasaan yang sedang dia alami, kita mencoba berempati dengan apa yang dia rasa dan bersama-sama mencari solusi menghadapi kebosanan tersebut.


Sedangkan, untuk menghadapi kebosanan anak dengan usia yang lebih kecil, kita bisa memberikan ide-ide bermain atau berkegiatan di dalam rumah.


Nah, salah satu berkah selama pandemi ini adalah banyaknya para orang tua yang saling sharing ide-ide untuk berkegiatan bersama di rumah, hal itu bisa kita terapkan dalam menghadapi kebosanan si kecil.


Afdita juga menambahkan, salah satu cara yang ia lakukan di rumah untuk menghadapi rasa bosan adalah dengan membebaskan anaknya untuk berkegiatan apapun di dalam rumah, meski pada akhirnya kerapihan rumah yang harus direlakan.


Sejujurnya, untuk Dita yang sehari-hari menjalani pekerjaan dari rumah dan harus menemani anak yang juga bersekolah dari rumah, itu bukanlah sesuatu yang mudah. Ia sadar, tidak semua hal dapat berjalan sempurna sesuai yang ia inginkan, harus ada hal yang ia relakan.


Dita juga belajar untuk mengelola ekspetasi, sehingga perlahan ia bisa menikmati hal-hal yang tidak mudah berjalan beriringan seperti kerapihan rumah dengan kegiatan bebas anak selama di rumah.


Yang juga perlu diingat adalah kita harus tahu sifat bawaan anak, karena kalau dia anak yang aktif berarti kita harus memberinya kesempatan untuk bergerak.


Kita juga perlu memberikan penjelasan pada anak, bahwa ada hal-hal yang dapat dan tidak dapat kita kontrol.


Kondisi pandemi ini adalah salah satu contoh hal yang terjadi di luar kendali kita sebagai manusia dan ini menyangkut orang banyak, jadi sebisa mungkin kita menyadari situasi dan kondisi yang sedang kita alami, sehingga kita tahu harus berbuat apa untuk menghadapinya.


Menyiasati Me Time Saat Pandemi


Terkait soal kebosanan, sebelum pandemi berlangsung biasanya salah satu cara kita menghilangkan rasa bosan adalah melakukan me time. Nah, ajang me time atau memanjakan diri dengan pergi keluar rumah adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu.


Sayangnya saat ini kegiatan me time di luar rumah tidak bisa lagi dilakukan, untuk menyiasati hal tersebut Nina memiliki kiat-kiat khusus diantaranya


Pertama, belajar untuk mengenali kebutuhan diri. Ada banyak macam kebutuhan diri, seperti kebutuhan asupan, kebutuhan gerak, kebutuhan bersosialisasi, kebutuhan beristirahat dan lain sebagainya.


Biasanya untuk tetap seimbang dan waras, orang tua haruslah bijak untuk mengelola waktu, tak hanya waktu untuk diri sendiri tetapi juga mengimbangi waktu untuk berbagai kebutuhan anak.


Dengan pengaturan waktu yang baik, kita dapat berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan diri kita dan anak sebaik mungkin.


Kedua, menyadari peringatan (alarm) dari dalam diri. Biasanya kalau kita sudah mulai sering marah-marah, tandanya kita butuh jeda dan memenuhi kebutuhan diri untuk beristirahat.


Sebisa mungkin kita mengenali diri dan bisa mengelola energi, serta mencoba mendengarkan diri sendiri yaitu dwngan tidak mengabaikan alarm diri sehingga tidak mengakibatkan kita burn out.


Jadi, sebelum alarm itu berdering kita sudah tahu atau sadar kalau kita perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri yang belum terpenuh, misalnya kita butuh mengobrol dengan orang lain (kebutuhan bersosialisasi) atau tanpa sadar kita bekerja terlalu lama dan terlewat waktu makan (kebutuhan asupan).


Selanjutnya, dengan bijak mengelola waktu anak, kita juga dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan apa pada anak yang belum terpenuhi.


Yang terakhir,menyiasati me time dengan berkegiatan di dalam rumah. Misalnya dengan menonton film kesukaaan, mandi lebih lama, dan lain-lain. 


Yang terpenting saat me time, kita menyeimbangkan dengan waktu keluarga, artinya ada seseorang yang dapat menggantikan sementara tugas kita di rumah, jadi saat me time kita pun tidak khawatir terhadap kelangsungan rutinitas di rumah.


Lalu, bagaimana cara kita meredam amarah saat kita di rumah?


Perlu diingat, bahwa marah adalah salah satu bentuk emosi. Dan emosi itu harus diterima dan dirasakan kehadirannya.


Kadang kita mudah berespon marah ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan kita. Kita perlu mengenali diri saat lelah atau situasi lain yang menyulut emosi, sehingga kita bisa memilih respon yang lebih tepat. 


Segala emosi yang ada dalam diri kita itu fitrah, jadi pengelolaannya mungkin butuh proses seumur hidup.


Intinya, sebagai kita tidak boleh takut gagal sebagai orang tua, karena jadi orang tua itu kesempatannya ada setiap hari.


Jadi, jika hari ini kita gagal mengelola emosi, kita coba refleksi diri untuk tahu apa yang akan kita lakukan, sehingga di lain waktu kita bisa lebih waras dan lebih baik dalam merespon.


Support System Yang Baik


Penting juga kita memiliki support system yang baik dari orang-orang terdekat, mulai dari suami, orang tua, maupun sahabat.


Kadang kala peran di rumah sebagai istri dan ibu mengharuskan kita untuk dapat mengatasi berbagai hal, termasuk menjadi tempat berkeluh kesah suami dan anak-anak. Sedangkan, curahan hati dari diri kita sendiri malah kadang terabaikan.


Nah, dengan memiliki orang-orang terdekat yang dapat menjadi pendengar, kita dapat berbagi cerita dan tidak sedikit masalah yang kita alami ternyata juga sedang dihadapi oleh orang lain. Hal itu membuat kita tidak lagi merasa sendirian.


Setelah kita terus belajar mengelola emosi diri dan berusaha untuk tenang menghadapi rutinitas sehari-hari, masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana cara kita menghadapi orang terdekat yang sedang tantrum?


Jawabannya sekali lagi adalah menyadari kebutuhan apa dari orang tersebut yang belum terpenuhi, sehingga diri mereka tidak nyaman.


Biasanya penyebab anak-anak yang tantrum adalah tidak terpenuhinya kebutuhan istirahat atau asupan.


Anak-anak kadang merasa bermain adalah sarana untuk ia beristirahat dari segala kewajiban, padahal bermain dalam waktu yang berlebihan akan membuat tubuhnya kelelahan, sehingga respon tubuh akan membuatnya tidak nyaman dan menimbulkan tantrum.


Dan ketika tantrum terjadi pada pasangan kita, yang harus kita lakukan adalah mengingatkan atau menyediakan kebutuhan apa yang belum sempat ia lakukan. Misalnya belum beristirahat selama bekerja dari rumah atau melewatkan waktu makan yang seharusnya.


Jadi, dalam menghadapi tantrum orang terdekat kita adalah dengan mengingatkan tentang perasaan yang ia alami dan kebutuhan apa yang belum terpenuhi, sehingga timbul respon yang lebih baik dari kedua belah pihak.


Sekian Sesi Kolaborasi Relawan Keluarga Kita dengan Productive Mamas kali ini, semoga dengan berbagi cerita dapat bermanfaat untuk mama semua yang bersama-sama sedang berjuang menghadapi hari-hari di masa pandemi bersama keluarga.


Tetap kuat dan semangat ya, mama !



(Artikel ditulis oleh Syifa Rahmi untuk blog www.productivemamas.com)



Ibu Rina, Tak Hanya Sekedar Mengajar Anak Istimewa

 

Dalam rangka memperingati hari disabilitas, Productive Mamas mengadakan bulan berbagi cerita bersama para ibu, keluarga, bahkan seorang guru yang dalam kesehariannya berkenaan dengan anak-anak disabilitas.

Pada kesempatan kali ini, tim Productive Mamas banyak sekali mendapatkan pelajaran berharga dari berbagai pengalaman Ibu Rina, seorang pengajar untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

*****

Berawal dari tidak disengaja hingga akhirnya ia jatuh cinta dalam mendalami pengajaran untuk anak-anak spesial dalam hidupnya. Pengalaman Bu Rina dalam mengajar, ternyata melahirkan banyak sekali hikmah untuknya terus belajar, salah satunya adalah dalam memahami anak-anak berkebutuhan khusus.

Pengalamannya mengajar menjadikan Bu Rina belajar untuk mengasah indera menjadi lebih tajam. Ia pun mengakui perjalanannya mendampingi anak-anak istimewa membuatnya lebih memahami mereka.

Bu Rina tidak hanya menebar ilmu dan kebaikan, namun juga mendapat limpahan pelajaran dan pemahaman.

Bahwa dengan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, ia belajar untuk mengamati. Melihat melalui ekspresi dan bahasa tubuh mereka, apakah materi yang ia sampaikan terlalu berat untuk diterima atau sebaliknya.

Lalu, pelajaran lain yang ia terima adalah tentang belajar menunggu. Bu Rina mengaku ia terus belajar untuk menahan. Menahan diri untuk tidak terlalu cepat memberi respon, bahwa ujian kesabaran tidak hanya berlaku untuknya tetapi juga untuk mereka.

Dengan memberi mereka jeda dalam menangkap materi pelajaran atau memberi kesempatan dan waktu lebih untuk menunggu jawaban mereka adalah salah satu moment berharga untuk Bu Rina maupun murid-murid istimewanya.

Keduanya saling bersabar serta belajar, bahwa mereka patut dihargai dan segala kebaikan Bu Rina perlu untuk terus diapresiasi.

Dan yang terakhir, mendampingi anak-anak bekebutuhan khusus membuatnya menjadi belajar untuk lebih ekspresif. Bu Rina menyadari betul, bahwa mimik wajah dan gerak tubuh akan banyak membawa pengaruh dalam berkomunikasi bersama anak-anak tersebut, jadi ia berusaha untuk mengutamakan ekspresi dalam membatu mereka menerima pesan komunikasi maupun pelajaran.

*****

 

Pengalaman Bu Rina mengajarkan kita untuk lebih peka dalam banyak hal, untuk lebih sabar dalam memberi kesempatan dan belajar untuk memahami bahwa ada orang-orang yang perlu pelayanan lebih untuk dimengerti.

Untuk mengetahui lebih banyak bagaimana seorang guru membimbing murid-murid berkebutuhan khusus, simak IGTV @productivemamas bersama Ibu Rina @octa1710 yang berjudul “It takes someone special to teach someone special” yang akan membahas kolaborasi antar berbagai pihak demi mencapai keberhasilan akademik anak-anak berkebutuhan khusus serta pengalamannya dalam mengajar.

(Ditulis oleh Syifa Rahmi untuk Instagram @productivemamas)

·
OLDER
© Productive Mamas Blog