SLIDER

PUSING GAK SIH DENGERIN ADIK KAKAK BERANTEM TERUS?

 


Aggghhhh pala pening banget ya udah setahun pandemi ini sepanjang hari dengerin adik kakak adu mulut, gelut gak stop-stop. Secara teori sih ngerti kalau itu hal yang normal, cuman secara prakteknya jujur ini salah satu yang cukup membuat emosi meletup-letup sehari-hari. Sehingga kucobalah buka-buka rak buku dan mencari buku lama seputar SIBLING RIVALRY. Menurutku si buku "How to Talk to Sibling Without Rivalry" by Adele Faber & Elaine Mazlish ini the best sih.

Untuk cover dan daftar isi sendiri akan kucantumkan foto dibawah ini. Secara keseluruhan yang aku suka dari buku ini adalah practical & relatable. Banyak banget kisah-kisah yang beneran terjadi sama anak-anakku juga, jadi gak sekedar teori tapi beneran ada cara bicaranya. Paling favorit tentunya komik-komik diatas, jadi kalau yang merasa gak sempet baca sebuku penuh, baca komik-komiknya aja juga udah cukup membantu. 





Aku gak bakal bikin summary satu buku penuh karena ya tentunya gak bakal muat untuk blog ini. Tapi aku akan highlight beberapa part favorit yang rencananya segera ingin aku terapkan di rumah.

  • Instead of dismissing negative feelings about a sibling, acknowledge the feelings.
VALIDASI PERASAAN ANAK
Secara teori sih ngerti ya, kalau anak kecewa, sedih, marah kita harus mengakui dulu bahwa perasaan itu valid. Bahwa itu ada. Tapi pada kenyataannya sering kali kita meremehkan perasaan anak tanpa sadar "Ah gitu doang, gak sakit", "Ah kan udah tau adeknya emang gak ngerti, salah sendiri deket-deket jadi kena pukul deh", "Kepentok dikit doang mah gak sakit, jangan lebay nangisnya", dst. Ini kita kebawa dari didikan jaman dulu gak sih? Not to blame our parents, karena ya dulu informasi gak kaya sekarang, dan kita juga gak tau orangtua kita dididiknya seperti apakan. Yang bisa kita lakukan mencoba break the cycle. Intinya yang bisa kita lakukan adalah validasi perasaan anak kita dengan mengulang sehingga anak tau bahwa kita mendengarkan. "Kakak sedih ya karena direbut mainannya?" "Oo adek marah karena dipukul", dst. Contohnya bisa dilihat dibawah, intinya mendengarkan dan memvalidasi perasaan anak penting. 


  • Avoid Comparison
TIDAK MEMBANDING-BANDINGKAN
Yes gak membanding-bandingkan! 
"Yaampun makan kok berantakan gini kaya bayi kan kamu udah besar"
"Liat tuh adek beres-beres gak usah disuruh"
Siapa yang suka komen gini hayo ngakuu? Ya saya juga sering nih kalau udah emosi..... 
Padahal kita perlu point out masalah/kejadiannya tanpa menejelekan individualnya. Jadi jangan "Kakak jorok banget sih kaya anak kecil aja" tapi ya fokus ke kejadiannya "Kak itu makanannya tumpah, baiknya kita ngapain ya?".
Setelah fokus ke kejadiannya biasanya suami tambahkan pertanyaan untuk menghindari menyuruh-nyuruh dan anak lebih inisiatif karena jawabannya dari diri sendiri. Karena suami saya coach ya jadi doi sama siapa aja selalu menyuruh/menjawab dengan bertanya balik, karena dia percaya bahwa semua orang sebenernya punya jawaban dari dalam diri sendiri. Saat belajar Fitrah Based Parenting juga nih, dibilang bahwa Allah SWT install kita dengan pengetahuan dan kemampuan custom untuk menghandle anak kita. Kita perlu sering-sering berdialog dengan diri dan Sang Pencipta aja. Inipun kujuga sering skip yah karena kebiasaan maunya instan hasil,hasil,hasil. Padahal kita mustinya bisa fokus pada proses..
Yah gini deh kalau saya ngomong ataupun nulis, lagi ngomongin topik apa malah ngelantur kesana kemari... Oke kembali ke pembelajaran dari buku ini yah. 

  • Don't Give Your Attention to the Aggressor, Attend to The Injured Party Instead.
FOKUS PADA YANG TERSAKITI BUKAN YANG MENYAKITI.
Nah inipun aku guilty banget. Kalau anak lagi berantem pasti kita lari ke yang mukul duluan atau yang agresif duluankan. Padahal marah-marah ataupun menegur berlebihan itu adalah ngasih perhatian terhadap perilaku yang kurang baik, yang sebenarnya secara anak terima di otaknya sama aja kaya nepukin tangan. Sama-sama perhatian. Mustinya kita kembali ke yang nomer 1 tadi yaitu validasi perasaan yang disakiti. 

  • Focus on Their Abilities.
TIDAK ADA ANAK YANG BERMASALAH. 
FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK BUKAN KEKURANGAN.
Appreciate small wins. Walaupun gak bisa muji berlebihan juga, lagi-lagi fokus sama perilakunya bukan sama anaknya. 

  • KIDS WORKING IT OUT.
ANAK MENYELESAIKAN MASALAHNYA SENDIRI.
Kita gak bisa selalu menganggu atau mediasi. Selama gak menyakiti diri sendiri atau satu sama lain biasanya aku biarkan. Tapi kalau udah mulai menyakiti pisah dulu.  
Kalau sudah pada tenang, baru kita duduk untuk mengutarakan perasaannya kekecewaanya serta harapannya pada satu sama lain. Bukan pada kita lho ya, tapi pada masing-masing anak. Jadi ya biasanya kalau aku anak-anak setelah sudah regulasi emosinya dan lebih tenang, mereka duduk berhadap-hadapan lalu mengutarakan..
"Kakak marah tadi karena lagi main kamu ambil mainannya, padahal kakak sudah bilang berulang kali gantian"
"Adek sedih karena adek mau main itu"
Untuk awal aku masih bantu, jadi bagaimana baiknya setelah ini kalau mau mainan yang sama lagi?"
Adeknya akan jawab bergantian mama. Kakaknya kadang bilang yaudah nih gpp, kakak mau main yang lain juga..  Jujur ini aku baru terapin 3 hari terakhir sejak baca buku ini. Tapi lumayan sih mereka mau berdiskusi. Tapi kalau sudah biasa berhadapan gitu lama-lama gak perlu di mediasi sudah bisa cari solusi sendiri. Kalau kita terlalu sering ikut campur jadinya anak gak punya problem solving skill yang baik karena masalahnya biasa diselesaikan sama orang lain. 

Tentunya masih banyak sekali yaa contoh-contoh khasus dan tips mendetail di buku ini tapi aku point out yang mengena dan emang ingin aku praktekan aja. Aku suka sih sama ide: 

  • The Mood Box
Jadi kita sebagai manusia emang gak selalu bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan, apalagi orang lain untuk memahami perasaan kita tentunya sulit banget yah. Yang dewasa aja begini apalagi anak-anak. Disini penulisnya memberi contoh bawah anak-anaknya selalu berantem karena disaat yang satu lagi bt, yang satu lagi ceria, yang satu lagi pingin sendiri, yang satu lagi pingin main bersama dan seterusnya. Jadi penulisnya membuat semacam kotak dadu tapi besar,bersama anak-anak dengan warna-warna berbeda di setiap sisinya yang menunjukan perubahan emosi. Tentunya setiap keluarga bisa membuat box yang sesuai diskusi masing-masing. Kalau untuk disini diberi contoh:
Abu-abu=Capek
Biru=Kecewa
Merah=Marah
Hitam=Busuk
Kuning=Senang
Hijau=Oke

Jadi setiap anak punya kotak, setiap mereka merasakan perubahan mood bisa diganti-ganti. Suatu saat kaknya boxnya berubah jadi hitam, ia kaget sehingga berusaha bertanya ke ibunya adiknya kenapa? Ada juga saat adiknya boxnya sedang merah, kakaknya tadinya mau pinjam mainan jadi gak jadi. Menarik juga untuk diterapkan. Walaupun jangan sampai jadi tidak ngobrol ya. Setelah perasaannya berlalu tentu kita diskusikan perasaan anak tersebut. Adik kakak juga harus tetap saling bertanya satu sama lain. Jangan sampai box ini menggantikan ngobrol.

Paling penting juga part paling terakhir ni yang aku suka MORE WAYS TO ENCOURAGE GOOD FEELINGS... (akan dibahas di artikel berikutnya...)

Jadi setelah membaca semua yang paling penting dari seluruh hubungan kemanusiaan ya, mau kakak adik, suami istri, rekan kerja, adalah KOMUNIKASI yang jujur, terbuka, tidak menghakimi, saling memahami perasaan kedua belah pihak. Sering kali kita memperlakukan anak ya gak seperti manusia seutuhnya tapi seperti anak-anak. Seharusnya kita lebih memanusiakan anak-anak. Ofcourse, easier said than done, karena kalau lagi emosi yaaah lupa ya. Sayapun belajar terus karena gagal terus. Karena pas praktek sering khilaf. Namun menulis ini adalah salah satu ikhtiar saya supaya ingat, mudah-mudahan bisa lebih konsisten mempraktekan. Jangan lupa terus-terusan berdoa dan minta pada Allah SWT untuk dilembutkan hati dan tutur katanya. Semoga bermanfaat!

No comments

Post a Comment

© Productive Mamas Blog