SLIDER

PUTI CENIZA SAPPHIRA (CHICA): LIFELONG LEARNER, PUSTAKALANA’S FOUNDER


Beberapa waktu lalu Irna sempat mewawancarai Puti Ceniza Sapphira atau biasa dipanggil Chica dan memintanya bercerita tentang bagaimana kesehariannya dan kisah dibalik hadirnya Pustaka Kelana, sebuah perpustakaan di Bandung yang dikhususkan untuk anak-anak.

Chicha lahir dan besar di Jakarta, namun kuliah dan tinggal di Bandung selama 4.5 tahun. Ketika lulus kuliah dengan gelar sarjana sains, Chica merasa tidak menemukan passionnya di bidang keilmuan yang Ia geluti, yakni Oseanografi. Ini yang menyebabkan Ia kembali ke Jakarta untuk bekerja sebagai marketing researcher sembari melanjutkan S2 di bidang Manajemen Komunikasi. Dari pengalaman bekerja juga, Chica menyadari bahwa Ia tidak cocok tinggal di Jakarta dengan segala hiruk pikuknya, dan tidak cocok jadi pekerja kantoran.

Beberapa bulan sebelum menikah, Chicha memutuskan untuk resign, menikah, pindah ke Bandung, dan menjadi Ibu rumah tangga. Keputusan ini adalah permintaan suaminya sebagai “syarat” menjadi istrinya. Namun, suami Chicha selalu menekankan, walaupun di rumah, Chicha tetap dapat (dan harus) mengaktualisasi diri sebagai seorang pribadi ~ meski peran sebagai Ibu dan istri adalah yang utama. Di tahun 2010-2015, Chicha sekeluarga sempat merantau ke New Bedford, AS, tapi sejak Juli 2015 hingga kini, Ia kembali tinggal di Bandung.

Bagaimana keseharian mengatur waktu antara menjadi ibu dan berkarya menjalankan Pustakalana?
Mengatur waktu agar dapat menyelaraskan peran sebagai diri dan Ibu menurut saya adalah hal yang paling tricky. Karena dalam tiap perkembangan anak, otomatis ada ritme yang berubah. Kalau tidak diselaraskan, akan ada satu hal yang terbengkalai dan akhirnya bikin emosi jiwa. Menemukan keseimbangan ini butuh proses, dan dalam kasus saya, saya akan menyesuaikan dengan ritme Azka dan Khalif. Karena sejak awal saya dan suami tidak menggunakan ART dan nanny, maka semua urusan rumah tangga dipegang sendiri oleh kami. Walau bisa dibilang 90% anak dan rumah adalah tugas utama saya -  namun kalau udah gak ke-handle banget, seminggu sekali bisa dipastikan panggil jasa bebersih online, demi kewarasan jiwa dan raga…! Haha.
Tiap harinya saya memiliki waktu “free time” selama tiga jam, yakni ketika Azka dan Khalif sekolah dari jam 08.00 - 10.45. Khalif masih TK B dan Azka kelas 3 SD. Jadi pagi hari setelah bangun tidur dengan waktu hening sekejap (stretching, sholat, bikin kopi), saya menyiapkan makan pagi, bekal, mengantar anak-anak, dan setelah itu saya bisa ada waktu luang. Biasanya sih either ke Pustakalana, meeting atau me time; ke pasar, belanja, bersepeda, ikutan workshop, olahraga, dll. Saya tidak “berkewajiban” ke Pustakalana setiap hari, karena sudah ada manager harian/librarian yang bertugas tiap harinya. Namun, 2x seminggu saya alokasikan untuk ke Pustakalana untuk kegiatan-kegiatannya dan meeting.
Sejak Juli 2018, suami saya pindah kantor menjadi home office, alias ruang kantornya yaa di rumah. Karena inilah saya jadi lebih leluasa untuk meninggalkan Azka dan Khalif di siang - sore hari kalau diperlukan karena ada beberapa kegiatan yang memang dilakukan hanya bisa dari siang ke sore.  Saya bersyukur karena suami saya sangat bisa diandalkan untuk main, masak, dan child-handling.   
Di waktu-waktu tertentu, setelah anak-anak tidur, jika diperlukan maka saya akan bekerja di depan komputer 1-2 jam.  

Apa yang memotivasi dan menginspirasi pertama kali untuk membuat Pustakalana dan apa yang mau dicapai?
Pengalaman merantau 5 tahun di Amerika membuka mata saya bahwasanya literasi anak usia dini ini sangat penting sekali, dan keberadaan perpustakaan yang nyaman dan ramah anak, berada di tengah kota, dengan buku-buku berkualitas, serta program yang aktif itu amatlah menunjang persepsi anak akan buku dan mengembangkan minat membaca sedari dini. Kecintaan terhadap buku dan kegiatan reading for pleasure ini lah yang turut menentukan dan membentuk pribadi seseorang sebagai a lifelong learner. Singkatnya, membaca adalah sebuah keterampilan yang perlu ditanamkan dari dini.
Kadang orang jadi salah kaprah, akan mengkaitkan dengan KEMAMPUAN MEMBACA sedari dini artinya anak belajar membaca, padahal bukan itu; KETERAMPILAN MEMBACA dan kemampuan membaca adalah dua hal yang berbeda. Semua orang dapat membaca pada akhirnya, namun perihal memahami konteks bahan bacaan is a whole different story.  
"There are many little ways to enlarge your child's world. Love of books is the best of all." - Jackie Kennedy.
Motivasi awal hanya agar anak-anak saya tidak kehilangan kebiasaan untuk mengunjungi perpustakaan secara rutin serta mendapat akses ke buku-buku anak berkualitas. Namun kemudian bigger picture-nya ingin agar keberadaan Pustakalana sebagai perpustakaan komunitas yang ramah anak dan keluarga dapat menjadi inspirasi bagi perpustakaan komunitas atau taman bacaan anak lainnya di pelosok negeri untuk dapat menjalankan hal serupa, sesuai dengan kebutuhan komunitas/ “segmen” yang dituju.
Ada banyak cara menjadikan seorang anak sebagai pembelajar sejati, kecintaan terhadap membaca dan buku adalah salah satunya.
Menurut Chicha, bagaimana sih tips menumbuhkan minat baca di rumah, untuk anak termasuk orang tuanya?
  1. Start from early
Sedari Ibu mengandung di usia kehamilan 4 bulan, janin sudah mulai bisa mendengar. Jadi Ibu selain membaca buku dalam hati, bisa melakukan read aloud atau membaca nyaring. Baca buku apa saja dan cerita apa saja.
  1. Jadikan buku dan pengalaman membaca menyenangkan dan dinantikan.
Ada sebuah quotes dari Emilie Buchwald — 'Children are made readers on the laps of their parents.' Bahwasanya 15 menit dalam sehari adalah waktu minimum yang dianjurkan bagi orangtua dan caregivers lain untuk dapat membaca nyaring ke anak. Special time for reading aloud for your children is a must! Kalau masih bayi/ toddlers, lakukan dengan cara bernyanyi lagu-lagu yang berima. Lagu tradisional Indonesia, nursery rhymes, dll.
  1. Ada buku di mana-mana
Dengan adanya rak buku di kamar, di ruang tengah, di ruang kerja, buku jadi dapat mudah ditemui dan dilihat oleh anak. Keberadaan pojok khusus untuk membaca (reading nook) juga akan membantu mereka merasa nyaman ketika membaca. Kalau memungkinkan di mobil pun ada keranjang buku.
  1. Keterampilan literasi anak usia dini itu melingkupi: bercerita, bermain, bernyanyi, membaca, dan menulis.
Jadi lakukan kelima hal tersebut saat ber-quality time dengan anak. Banyak sekali book-based activities yang bisa dilakukan. Saya sangat senang melakukan kegiatan bermain yang berdasarkan dari buku; art and crafts, play pretend, scavenger hunt, sensory play, science experiments, dll.
  1. Alokasikan waktu seminggu atau dua minggu sekali mengunjungi perpustakaan.
  2. Jadilah role model.
Orang tuanya juga harus rajin membaca yaa. Sisihkan 1 hari membaca, misal 1 chapter atau targetkan 1 bulan selesaikan berapa buku. Kalau orang tua membaca menggunakan gadget atau e-book, maka anak perlu diberi pemahaman bahwasanya orang tua sedang membaca dan bukan “main hape”.  
Adakah saran untuk memilih buku yang baik untuk anak dan  syarat tertentu yang membuat buku tersebut bisa dikategorikan sebagai buku yang baik untuk anak?
  1. Pilih buku dengan format yang sesuai usia anak.
Yang saya perhatikan dari mayoritas ortu di Indonesia khususnya, mereka lebih menaruh perhatian pada activity book seperti buku-buku berhitung dan calistung princess/Disney, buku-buku dengan muatan keagamaan yang terkadang belum pas untuk diberikan pada anak di usia-usia awal (Kisah Nabi gitu nggak papa, tapi pilihlah format yang pas. Misal format boardbooks untuk anak batita dan bukan buku yang tebal dan banyak kata-kata “rumit”).
Pada umumnya untuk usia dini 1- 8 tahun, pilihlah buku-buku cerita bergambar atau picture books yang berkualitas baik secara ilustrasi dan secara konten/ teks. Teks yang minim jangan merasa rugi! Karena di picture book sudah diatur banyaknya kata per halaman, dan ilustrasi pada picture book yang bagus mengasah visual literacy mereka untuk dapat “membaca gambar”.
  1. Memilih buku yang baik untuk anak harus dilandasi dengan dua hal: yakni kesesuaian buku tersebut dengan tahap perkembangan anak dan topik atau tema buku.
Buku-buku itu dibuat ada jenjangnya, misalnya kalau menurut Oxford Owl:
    • Introduction to reading (1-2 tahun): concept books - dengan 1 kata per buku, buku dengan warna kontras, bentuk geometri, banyak nyanyian (nursery rhymes).
    • Early reader (3-4 tahun) -  senang mendengarkan cerita, mulai mengenal huruf dan dapat membaca beberapa kata sederhana.
    • Growing reader (4-5 tahun) -  senang mendengarkan cerita lebih panjang dan mengasah kemampuan membaca mereka.  
    • Gaining confidence (5-6 tahun) - mulai dapat membaca sendiri buku dengan teks sederhana.  
    • Becoming independent (6-7 tahun) - dapat membaca sendiri dengan vocabulary yang lebih luas
    • Independent reader (7-8 tahun) -  dapat membaca sendiri buku berchapter.
Setiap jenjang ini ada kriteria bukunya; komposisi antara teks/ jumlah kata dan ilustrasi serta topiknya.
Ohya, usia di sini sebagai usia pada umumnya aja ya, jangan dijadikan beban semisal anaknya usia 7 tahun tapi masih tahap di “confidence”, ya tidak apa-apa. Karena kemampuan tiap anak akan berbeda. Topiknya menyesuaikan dengan topik yang diminati anak atau yang diperlukan anak.
Buku adalah jendela bagi anak dan sekaligus cermin bagi mereka. Mereka harus dapat relate dengan topik dari buku, dan sebagai jendela untuk dapat terpapar hal-hal/ konsep baru.
Kalau hunting buku biasanya di mana?
Untuk hunting buku dan bacaan berkualitas, ada aplikasi bernama LET’S READ yang dapat diakses secara gratis. Saya juga sering hunting buku di BBW, lalu rajin-rajin ke toko buku aja, semakin bacain banyak buku untuk anak jadi tau mana buku anak yang berkualitas dan yang kurang. Saya juga update pengetahuan mengenai buku anak di luar negeri melalui readbrightly.com.
Mau dong rekomendasi Chicha soal perpustakaan anak di Jakarta dan Bandung yang menyediakan buku-buku berkualitas?
Di Jakarta:
  • Perpustakaan DKI Cikini/ Taman Ismail Marzuki  - buat saya, picture book di sana cukup oke untuk “standar” perpustakaan kota.
  • Rimba Baca
  • Perpustakaan Nasional yang menyenangkan sekali suasananya.
Di Bandung:

  • Pustakalana (tentunya hehe) Jl. Taman Cibeunying Selatan
  • Dispusip (Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah) Jl.Seram
  • Perpustakaan Gasibu
  • Library in the Box Bagusrangin
  • Goethe Bandung - Jl. Riau
  • Elmuloka - Gagas Ceria Jl. Malabar Kineruku (bukan perpustakaan anak tapi ada buku-buku anak) - Jl. Hegarmanah
  • Dispusipda Provinsi Jabar - Jl. Soekarno Hatta.

3 comments

  1. Thank you I am glad about the encouragement! I love your site, you post outstanding. personal loan in lahore - car finance calculator pakistan

    ReplyDelete
  2. You share the article mental health problems in UK university students, that is a piece of great information for me, So I want to check your blog again if you add more article about that. Here I discuss the cosmetic item. free church directory template

    ReplyDelete
  3. Really its very useful information that you have shared and thanks for sharing the information with us. Simple Gap Analysis Template

    ReplyDelete

·
OLDER
© Productive Mamas Blog