SLIDER

MENGATASI STRONG WILLED CHILD


Pernah merasa kesal dengan anak yang berkemauan keras (strong willed child)?

Strong willed child = berkemauan keras = keras kepala

Banyak sekali konflik yang mungkin terjadi jika kita memiliki anak dengan karakter ini. Setidaknya ini yang terjadi pada saya (@dyahayuamallia) dan anak saya, Andra.

Saya seringkali emosi menghadapi Andra yang sering keras kepala. Di usia 1,5 tahun, Andra sudah punya pilihan akan pakaian yang akan dikenakannya setiap harinya. Pergi ke mal pakai baju renang misalnya salah satu kejadian yang pernah terjadi. Mau makan dengan piring warna pink, sendoknya harus warna kuning dan lain-lain dan sebagainya.

Bukan hanya soal pakaian, dalam banyak hal, Andra selalu punya kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu dan selalu marah apabila kemauannya tidak tercapai. Atau jika melihat sesuatu yang tidak sesuai ekspektasinya, Andra juga selalu merasa terganggu. Ini mengakibatkan orang-orang di sekitar keluarga sering memberikan label bahwa Andra anak yang sulit, pemarah, tantrum melulu, karena memang ini yang sering terjadi.

Dikarenakan saya juga emosional, keadaan ini menjadi pemicu stress karena saya seringkali mengeluarkan emosi tidak baik dan berujung ditiru anaknya hingga akhirnya merasa harus melakukan sesuatu untuk menanggulangi ini.
Singkat cerita, saya banyak membaca, belajar, ikut kelas parenting bahwa anak itu punya karakter bawaan dan setelah saya amati dan mengingat sejak Iahir dulu, Andra merupakan salah satu bayi yang nangisnya paling keras di antara bayi lain dan setiap kali punya mau, selalu ekspresif meminta dan bereaksi jika keinginannya itu tidak tercapai.

"Strong willed children can be a challenge when they’re young, but if sensitively parented, they become terrific teens and young adults. Self-motivated and inner-directed, they go after what they want and are almost impervious to peer pressure. As long as parents resist the impulse to "break their will," strong-willed kids often become leaders." – ahaparenting.com

Ya. Ternyata saya menemukan kategori bahwa Andra adalah tipe yang strong willed child. Positifnya adalah Ia selalu tau apa yang dia mau, Ia selalu gigih mengusahakan kemauannya menjadi kenyataan dan terkait soal kemandirian, ketika Ia sudah punya kemauan keras akan sesuatu, Ia melakukannya sendiri dan Ia marah sekali jika diinterupsi. 
So, whats next?Berbekal banyak sumber bacaan dan mengikuti kelas parenting kemudian saya sadar saya harus berubah untuk mengubah keadaan. Gimana caranya? 

Cara pertama adalah NEGOSIASI & BERI PILIHAN
Negosiasi dalam setiap hal. Tanyakan dulu pendapatnya akan sesuatu dan beri pilihan. Ini membuat anak merasa dihargai dan ternyata ini berpengaruh sekali. O ya jangan lupa beritahukan konsekuensi dalam apapun yang ia pilih atau lakukan ya, jadi Ia memahami apa yang akan terjadi jika ia melakukan A atau B dan Ia juga bisa siap-siap menerima segala konsekuensi itu dan ini membuat si anak bisa memilih melakukan suatu hal dengan pertimbangan yang lebih matang.

Cara kedua adalah BRIEFING.Ini juga penting sekali. Anak dengan kemauan keras cenderung keras kepala, oleh karena itu sebelum ia bereaksi negative akan sesuatu jika terjadi hal yang diluar kemauannya, maka briefing harus dilakukan. Setiap mau pergi atau melakukan sesuatu, bertemu orang baru, dan melakukan aktivitas apapun, biasanya saya selalu membriefing Andra dengan detail. 
Hari ini kita akan kemana, bertemu siapa, ada siapa aja di sana, akan ngapain aja di sana, tempatnya seperti apa, apa yang mungkin terjadi di sana dll. Kadang juga role playing supaya Andra bisa memahami situasi yang “akan”terjadi di sana. Semua usaha ini saya lakukan untuk meminimalisir tantrum dari Andra. Ketika Andra sudah siap akan terjadinya suatu hal maka ia juga sudah siap akan konsekuensi dan reaksi akan suatu hal yang “akan” terjadi dibanding ketika ia tidak dibriefing soal ini.

Cara ketiga adalah BELAJAR DARI KONFLIK. Konflik yang terjadi adalah pelajaran, pakailah pelajaran ini untuk bisa menjadi lebih baik lagi besok-besok. Contohnya begini, Andra pernah marah sekali ketika mainan yang Ia bawa dari rumah direbut temannya ketika bermain bersama di sebuah tempat. Ketika tantrumnya usai, saya mengajaknya bicara tadi kenapa marah? Apa yang dirasain? Gimana biar ga ngerasa gitu?Enaknya harus gimana ya biar ga rebutan lagi? Diskusi ini saya yang mengarahkan, supaya ada gambaran kejadian di kepalanya dan Ia tau harus ngapain jika kejadian ini terulang di kemudian hari. Dan ketika terjadi lagi saya bisa kembali mengangkat memori konfliknya “Inget ngga waktu Andra bawa mainan dari rumah trus direbut teman?”
Dari kejadian itu satu hal yang kami sepakati adalah, jika membawa mainan dari rumah dan bermain bersama teman, harus mau berbagi, kalau tidak mau dipinjam temannya, maka tidak perlu bawa mainan dari rumah. 

Nah pembelajaran konflik ini menghasilkan cara keempat yang juga penting yaitu perlunya KESEPAKATANApakah kesepakatan ini mulus?Tentu tidak, beberapa kali terjadi lagi ketika dia keukeuh membawa mainannya ketika playdate, tapi ketika akhirnya rebutan terjadi, reaksinya tidak sedahsyat yang pertama dan konflik ini jadi sarana belajarnya untuk akhirnya memahami dan menyetujui kesepakatan yang dibuat bersama saya.

Cara kelima adalah CHOOSE YOUR OWN BATTLE. Jangan segala sesuatunya dijadikan perdebatan, Dua hal yang saya jadikan batasan adalah keamanan dan norma. Mau pakai sepatu kanan kiri beda, mau pakai baju nggak match atau apapun yang tidak melanggar prinsip keamanan dan norma maka biarkan kemauan anak. Apa yang dia pilih adalah proses belajarnya, tentunya dengan menginformasikan konsekuensi juga ya. Informasikan dengan baik, bukan dengan nada tinggi dan marah-marah hihihi. 

"Let them learn through experience, instead of trying to control them. Remember that strong-willed kids are experiential learners."

No comments

Post a Comment

© Productive Mamas Blog