SLIDER

TIPS UNTUK MENCEGAH ANAK TANTRUM BELI MAINAN

  • 19 November 2017


Point dibawah ini sebenarnya tadinya tergabung dalam artikel Tips Memilih Mainan, namun kayanya perlu perhatian khusus dan akan lebih fokus apabila dipisah. Seringkali kita (termasuk suami dan kakek nenek) membelikan anak mainan secara berlebihan. Mainan dijadikan kompensasi untuk perhatian atau waktu yang hilang, padahal anak hanya perlu kita untuk HADIR sepenuhnya, barang itu hanya kesenangan sesaat. Setuju? Sebelum aku masuk ke cara memilih mainan yang baik. Disini aku sering dapat pertanyaan dari teman-teman. "Kok anak lo di toko mainan gak pernah minta apa-apa sih? Sedangkan anak gw sering tantrum kalau gak dibeliin apa-apa". Nah disini aku ingin share tips untuk mencegah itu terjadi berdasarkan pengalaman pribadi aku, yang sebenarnya bukanlah merupakan sesuatu yang baru, namun lebih sebagai reminder saja.

Ngomong-ngomong mengenai mainan, sebelum masuk ke penjelasan, perlu diketahui bahwa persentase mainan dirumahku terdiri dari:
10% beli sendiri
20% endorsement (tapi sangat selective) 
20% lungsuran kakak ipar
30% dibeliin eyang 
20% kado-kado ultah

Jadi yang benar-benar kami beli sendiri itu selective dan jaraaaaaang sekali. Kalau ada yang dikasih itupun juga banyak yg masih tersegel didalam lemari, either mau disumbangkan, disewakan, atau dikasih kado ke orang. 

Nah karena jarang beli ini aku rasa menjadi alasan kenapa Dio tidak pernah tantrum minta mainan. Dari kecil, ia mengasosiasikan toko mainan dengan tempat untuk melihat-lihat saja (museum? haha). Kalaupun kami beli ya sesekali banget kalau kami menemukan yang bermanfaat, dan frekuensinya bisa jadi sekali dalam 6 bulan. Lalu kami ajak dia berdiskusi. Kalau memang ada yang kami sama-sama suka banget aja baru kami beli gt. Jadi ya kembali lagi ke HABIT ya alias kebiasaan. Kalau yang setiap pergi ke Mall beli mainan, biasanya anak mengasosiasikan pergi = beli, makanya begitu sekalinya gak beli ia akan tantrum. Ini sama casen-ya dengan naik chochoo train, atau zoomoov. Mungkin dari 100x kami ke mall, kita main itu hanya 3x. Sehingga walaupun dia senang naiknya, tapi dengan melihat choochoo train lewat saja juga sudah happy. Bukan berarti naik choochoo, zoomov ataupun beli mainan itu buruk ya, namun saya pribadi mikirnya perbandingan antaran benefit dan perilaku anak long term kurang sebanding.

Selain kebiasaan, kalau memang sudah terlanjur, briefing itu penting banget! Afirmasi positif ya ke anak dari malam sebelum, pagi hari saat mau pergi, dan dijalan juga. Saya selalu bilang "Kak, kakak boleh keliling lihat-lihat mainan, tapi lihat saja yaa kita gak beli.". Dia sudah cukup paham biasanya. Namun kalau sudah terlanjur, briefing-nya ini harus lebih sabar, konsisten, dan diulang terus-terusan setiap pergi sampai akhirnya anak membentuk habit yang baru. 

Selain tips ini, saya dapat pertanyaan juga sih dari teman. "Kalau mainan itu bagus untuk stimulasi, trus kenapa gak boleh beli mainan?". Bukan gak boleh sih, tapi mengurangi dan lebih selective aja. Intinya semua yang berlebihan itu tidak baik bukan? Menurut pengalaman pribadi mainan yang berlebihan memiliki dampak:
  • Anak jadi kurang kreatifitas, tidak punya keinginan untuk menciptakan sesuatu dari nol,
  • Anak jadi tidak bisa menghibur diri sendiri dengan benda disekitar (gelas kosong, kardus bekas, dsb).
  • Anak tidak menyepelekan dan tidak menghargai mainan. Seenaknya merusak , menghilangkan, dan malas membereskan. "Ah banyak ini ngapain dirawat, kalau rusak tinggal beli lagi". 
  • Anak cepat bosan dan cepat terdistract alias gak fokus. Kalau didalam satu kamar ada lebih dari 50 mainan, baru buka yang A 5 menit bosen ah, buka yang B, buka yang C, kalau semua sudah kebuka trus bosen. Karena gak pernah ada kesempatan untuk lama sama mainan yang ada. Selalu ada yang baru.
  • Tentunya kita tau bahwa stimulasi dengan alam dan bermain diluar itu baik sekali untuk anak. Kalau kebanyakan mainan di kamar AC, anak jadi malas panas-panasan keluar. 
  • Anak malas membuat prakarya, orang sudah banyak mainan jadi ngapain buat sendiri (anak yang sering membuat prakarya atau DIY memiliki kreatifitas, sifat ingin tahu, sensori, making something out of nothing yang tinggi).
  • Anak jadi konsumtif dan ketergantungan mendapatkan instant happiness. Mendidik anak itu goalnya adalah long term result, instead of quick solution. Jadi bosen itu gak apa-apa lho. Dengan bosan itu anak jadi cari solusi sendiri, dan menemukan cara kreatif untuk main dari apa yang sudah ada. 
Aku ngomong gini karena sempat dimasa anak pertama adalah cucu pertama, mendapatkan banjir hadiah dari sana sini terutama eyangnya. Selain itu aku baru memulai Productive Mamas dan banyak dapat endorsement mainan. Mainan yang ada dirumahku sangatlah banyak, belum lagi dapat kalau ulang tahun. Aku dulu gak menyadari itu berlebihan. Suami sih udah ngomel-ngomel tapi ya aku sempat bilang " Apaan sih gak apa-apa mainan kan bagus untuk stimulasi blablabala". Suami selalu bilang " Ya emang bagus, tapi apa perlu sebanyak ini? Banyak yang nganggur dan akan jauh lebih bermanfaat apabila dikasih ke orang lain. Itu rejeki orang kamu tumpuk-tumpuk di lemari. Anaknya juga jadi gak menghargai barang.....". Langsung terdiam dan menyadari bener juga ya. Itu semua point diatas aku ngerasaain sendiri. Bahwa anak aku sempat seenaknya sama mainan, gak fokus mainnya, males kalau aku ajak membuat prakarya, males main keluar rumah, dan cepat sekali bosan.

Akhirnya aku bongkar semua itu lemari, kalau yang sudah tidak layak ya dibuang. Namun untuk yang masih bagus aku bagi dua, ada yang ditiitp sewa atau jual ke Babyloania (bukan pesan sponsor ya, tapi emang beneran menurut aku bermanfaat banget ini solusi untuk kurangi barang dirumah). Lalu ada yang dikasihkan ke mbak aku dan mbak mama untuk dikirim ke kampung. Kebetulan banyak tetangganya sama cucunya si mbak yang laki-laki juga jadi sepertinya mainannya bis alebih bermanfaat untuk mereka. Bukan berarti gak boleh beli mainan sama sekali, tapi alangkah baiknya apabila kita punya batasan. Misalkan hanya boleh 20 mainan, kalau beli baru harus ada yang keluar. Kalau aku pribadi sulit sih angka, jadi akhirnya menetapkan cuman boleh 1 lemari (dari tadinya hampir 5 lemari!) ini isi mainan, kalau sudah gak muat ya harus langsung dikasihkan ke orang. Jadi lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas. Untuk yang tinggal di Jakarta dan anaknya usia 0-3 tahun, aku bisa sarankan untuk sewa mainan di Playship by Hoopla, mainannya sudah curated yang memang high quality dan award winning. Tipe mainannyapun banyak yang gak masuk di Indonesia. Untuk yang ingin sewa mainan satuan dengan merek yang lebih common seperti ELC, Fishcerprice, sepeda, bounce, bisa coba Babyloania, Gigel.id, atau Toiss.id. 


In conclusion, mari menjadi pembeli yang smart dan gak konsumtif bukan hanya dalam memilih mainan, tapi dalam membeli semua barang. Apakah kita benar-benar perlu? apakah ini untuk menyenangkan diri kita sendiri atau benar untuk anak kita? Setiap melangkah yang simple-simple aja, ke anak itu harus dipirkan long term effectnya ya. Sesuatu yang keliatannya 'harmless' seperti selalu membeli mobil-mobilan harga 15.000 di supermarket, apakah akan mem-build habit yang 'harmful' kedepannya? Tentu kita sebagai orang tua yang bisa memutuskan. Semoga bermanfaat dan nantikan artikel berikutnya, akan ada Tips Memilih Mainan! Stay tuned!

No comments

Post a Comment

© Productive Mamas Blog