SLIDER

PM SHARING SESSION: BAGAIMANA MENGONTROL EMOSI DAN MENGHADAPI ANAK YANG TANTRUM?

  • 19 July 2017


Yeay akhirnya kami membuat kelas PM Sharing Session pertama di hari Minggu kemarin! Sebelumnya saya ceritakan latar belakangnya sedikit ya, kenapa saya membuat sharing session ini. Sebenarnya sih sudah pernah saya ulang-ulang, tapi agar lebih make sense harus saya ulang lagi. Jadi seperti yang kalian tau bahwa saya menikah di usia yang cukup muda. Saat itu kelas-kelas parenting gak sebanyak sekarang. Saya sering sekali mengikuti berbagai macam workshop untuk menambah pengetahuan dan teman, tapi saya jarang menemukan workshop dimana sebagai ibu kita bisa bertanya dan berbagi tentang struggle dan keseharian kita. Dulu ingin sekali ada acara seperti PM Sharing Session ini, agar kegalauan dan pertanyaan-pertanyaan mengenai all things parenting terjawab. Nah dalam PM Parenting Session kali ini saya menjadikan Irna sebagai pembicara. Kenapa Irna? Karena dengan pengalamannya beranak 4, dia sudah melewati banyak ups and down motherhood. Mulai dari jadi ibu bekerja yang menggunakan ART dan nanny sampai jadi ibu rumah tangga tanpa bantuan sama sekali, 2 anak pertama ia melahirkan via rumah sakit, 2 yang terakhir via home birth dan waterbirth, anaknya pertama sekolah, namun yang kedua sedang homeschooling, anaknya pernah mencoba makan puree maupun BLW, menghadapi tantrum di keempat anak yang berbeda karakter, sibling rivalry, and so much more! Most of all, yang selalu saya kagumi dari Irna adalah tingkat kesabaran dan keikhlasannya dalam menjalani kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Bisa dibilang ia satu-satunya teman saya yang benar-benar gak pernah ngeluh, dan semua dijalani dengan senang dan santai. 

Pertama kali saat saya mengidekan, menjadikan Irna pembicara, ia sempet gak PD. "Emang ada Nes yang mau dateng? Kan gak ada yang kenal.". Tapi saya yakin banget pasti banyak, terutama karena artikel tentang kesehariannya juga sering di share disini. Benar saja! Dalam 2 hari langsung fully booked dan waiting list. Acara ini bukan merupakan talk show yang satu arah, melainkan forum diskusi, semua boleh bicara dan bertanya. Saya rasa penting untuk ibu mengeluarkan unek-uneknya dalam sharing session seperti ini, agar tidak merasa sendirian. Agar merasa bahwa banyak yang mengalami hal serupa, dan mendapat support system yang baik juga.

Irna bercerita sedikit tentang background-nya. Bahwa ia merupakan anak tunggal yang sebenarnya gak terlalu suka sama anak-anak. Gak punya saudara yang tinggal berdekatan juga. Dulu ia memiliki nanny dan ART sampai SMA, jadi hidup mandiri jauh dari bayangan. Namun sempat kuliah diluar negri membuat ia pelan-pelan berubah. Ibunya juga meninggal disaat ia mengandung anak pertama, membuat ia sadar bahwa waktu siapapun di dunia itu tidak lama dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Suaminyapun bukan yang dari awal hands-on. Bisa sampai ke tahap sekarang itu perlu banyak pembicaraan, dan pengertian. Ia menceritakan ini semua diawal untuk memberi bayangan pada para mama bahwa siapa saja bisa menjalani perjalanan motherhood-nya dengan sabar dan menyenangkan, namun tetap perlu usaha dan kesabaran. 

Banyak pertanyaan yang terlontarkan oleh para ibu tentunya dari jam 1.30 sampai kami akhirnya selesai pukul 3.30. Namun disini saya akan menceritakan satu saja pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh mama saat sharing session berlangsung.

Bagaimana mengontrol emosi dan tetap sabar menghadapi tantrum?
Nah sesi ini mengena banget dihati saya karena jujur saya orangnya emosian, dan masih susah sekali menahan marah. Beberapa point yang Irna sampaikan adalah sebagai berikut:
  • Yang harus dimengerti adalah anak tantrum = ingin mendapat perhatian. Jadi dengan kita ikut teriak, ia mendapatkan perhatian yang ia inginkan. Sehingga next time ia akan ulangi lagi untuk mendapatkan perhatian kita.
  • Pastikan area sekitar anak aman. Yang bahaya dari tantrum adalah apabila ia menyakiti dirinya sendiri ataupun orang lain
  • Pastikan anda hanya berdua dengan anak anda. Apabila ada orang tua atau mertua, izin dulu pindah ke ruangan lain. Karena biasanya orang lain akan memperkeruh suasana. Tentunya diberikan pengertian kepada orang sekitar.
  • Jangan balas teriakan dengan teriakan karena anak tidak akan mendengar perkataan kita. Yang ia rekam hanyalah nada kita marah-marah saja. Dengan kita seing marah, tentunya lama-lama anak jadi pemarah juga karena meniru perilaku kita.
  • Bicara baik-baik dan beri penjelasan serta pengertian setelah anak lebih tenang.
  • Tarik napas panjang, dan lakukan hal yang membuat anda senang. Misalkan minum kopi atau makan coklat untuk mengontrol emosi.
  • Happy mom = happy family itu merupakan prinsip yang harus dijunjung tinggi. Jadi biasakan dahulukan diri anda dalam keseharian. Misalkan saat makan, anda harus kenyang dulu baru menyuapi anak. Atau kalau sudah lebih besar biasakan makan bersama-sama. Kalau anda lapar pastikan memburu-burukan anak, kalau anak gak mau makan akan membuat kita kesal karena deep down kita sebenarnya gak kesal-kesal amat sama si anak, kita lebih kesal karena kita lapar tapi gak sadar. Cukup tidur dan cukup makan itu wajib hukumnya!
  • Tambahan dari saya sih, jangan ragu minta bantuan kalau memang sudah sangat capek. Support system yang baik itu PENTING.
  • Love yourself and be mindful. Masih smirip dengan point diatas yang happy mom equal to happy family. Sering kali kita mudah marah akan hal kecil yang anak kita lakukan adalah karena kita ada "unfinished business" di tempat lain. Jadi misalkan ada deadline, ngantuk, capek mengurus bayi, ataupun yang lebih mendalam seperti hubungan suami istri sedang renggang, atau hubungan dengan orang tua kurang baik. Make peace with yourself and surroundings in order to be content.*

*Ini relatable banget dengan kehidupan saya. Masa kecil saya lumayan sering berantem sama mama. Sering kali saya menyalahkan ibu saya akan emosi saya yang berlebih. Saya gak mau mengulang ini ke Dio tapi malah saya lakukan karena deep down saya belum memaafkan ibu saya. In order for me to move on and be a better mom, saya harus memafkan masa lalu saya dan menerima kekurangan saya. Dengan menyadari bahwa emosi saya pada anak saya sebenernya bukan pada kelakuan anak saya, melainkan pada diri sendiri, saya mulai bisa mengurangi marah-marah ke anak. Masih dalam proses sih. Tapi saya baru sadar akhir-akhir ini. Jadi untuk yang sering emosi berlebih ke suami maupun anak, coba digali-gali lagi, sebenarnya apa sih yang masih kalian pendam dalam dada? Make peace with it.. Make peace with yourself. 


Nah karena sharing session ini baru pertama kali, kemarin topiknya gak dibatasi dari A-Z, gak selesai-selesai. Mulai bulan depan kami akan membuat regular sharing session tapi dengan tema-tema yang lebih specific sehingga terarah. Misalkan tantrum, sibling, birth, first food, and so on. Kira-kira topik apa sih yang ingin kalian bahas? Leave your comment below and stay tuned @productivemamas.event for our next event!

4 comments

  1. Wuah senang sekali kalo bisa ikutan join kelas parenting ini, aq working mom, anak usia 3 tahun butuh bgt sharing untuk pencerahan ini...

    ReplyDelete
  2. ikut doong session selanjutnya...

    ReplyDelete
  3. Kl bs ttg anak yg picky eater..tq..

    ReplyDelete
  4. Kalau mau ikutan session selanjutnya gimana nihhh. Pengen bgt ikut.

    ReplyDelete

© Productive Mamas Blog