SLIDER

MARCH-APRIL NEWBORN UPDATE


Alhamdulillah pada tanggal 7 Maret 2017 lalu telah lahir putra ke-2 kami yang bernama Danu. Blogpost ini merupakan kompilasi dari kejadian di satu bulan terakhir.  

Sedikit Kisah Lahiran...
Niatnya sih ingin bikin vlog dan blog didedikasikan untuk lahiran alias "Danu's Birth Story". Tapi karena gak terlalu menyenangkan pengalamannya rasanya gak perlu di share. Intinya dari pengalaman kemarin, gak berbeda sih melahirkan anak pertama dan kedua. Persis masuk RS jam 3 pagi dan bayi baru keluar jam 5 sore. Sama-sama lama dan sama-sama sakit. Bedanya dulu anak pertama dari bukaan 1 juga udah tiduran terus, panik dan heboh. Ini pembukaan 1-5 masih lumayan tenang, lalu sampai pembukaan 7 masih bisa jalan-jalan walaupun sudah mulai kesakitan luar biasa. Tapi gak lebih mudah juga. Mungkin karena saya tipenya emang mudah panik dan emosi jadi ya gak bisa se-smooth itu. Namun saya kenal beberapa teman yang memang bisa melahirkan dengan gentle dan minim sakit. Semoga untuk yang membaca ini, bisa merasakan lahiran yang menyenangkan dan menenangkan ya.  

Danu..
Kenapa namanya Danu? Jujur kalau saya cuman ingin nama dengan huruf depan D. Karena nama saya Danesya, suami Dipta, lalu si kakak Dio. Tiba-tiba di usia kehamilan 36 minggu, suami menyarankan nama Danu. Awalnya kurang sreg, tapi setelah dicari ternyata arti Danu adalah cahaya. Sebuah arti yang bagus ya. Saat bukaan 9, kami belum juga punya nama lengkap, tapi saya punya list nama yang saya tulis di notes hp. Buru-buru suami buka lalu pilih, dan jadilah baby Danu! Senangnya anak ini sama seperti kakaknya tidak merepotkan, nangis gak pernah terlalu kencang, kalau tidur juga cukup lama sehingga saya cukup istirahat. Terima kasih Danu, walaupun kamu tidak dilahirkan dengan proses yang gentle tapi kamu sampai saat ini merupakan anak yang manis. 

ASI..

Alhamdulillah pas IMD, Danu pintar sekali, baru 10 menit sudah matok-matok dan dapat menyedot dengan baik. Dulu Dio tidur-tiduran saja sampai sejam, musti diarahkan. Memang setiap anak beda-beda. Masih sulit untuk gak membanding-bandingkan. Bagusnya juga sepertinya produksi ASI kali ini lebih banyak dari dulu, sehingga anaknya kenyang dan bisa tidur lama. Gak lupa untuk massage payudara berkali-kali walaupun belum terasa keras. Belajar dari pengalaman terdahulu, kalau gak di massage bisa menggumpal dan sakit sekali jadinya. Benar saja, karena rajin di massage, gak kerasa membatu seperti yang dulu-dulu.

Di Rumah Sakit..
Masih aneh rasanya punya anak ke-2. 4 tahun terakhir hanya mencurahkan waktu dan kasih sayang untuk si kakak, lalu sekarang kasih sayangnya harus dibagi 2. Ada yang merasa begitu gak? Rasanya masih mengawang-ngawang, antara percaya dan tidak udah ada bayi lagi. Tapi senangnya luar biasa! Dulu anak pertama, semua hal mulai dari gantiin popok sampai mandiin mau dikerjakan sendiri walaupun di RS. Sekarang anak kedua sudah tau kalau di rumah akan capek, jadi biarkanlah di RS pencet-pencet bel dan minta tolong suster..hehe.

Walaupun suka browsing dan baca buku, karena bedanya 4 tahun, jujur banyak banget lupa. Se-simple ngebedong aja salah terus. Saya bukan tipe yang suka lama-lama membedong bayi juga sih, tapi karena baru keluar dari perut, rasanya dia perlu merasa hangat dan nyaman. Setiap bedongnya dibuka, Danu mudah sekali kaget dan tidurnya kurang nyenyak. Begitu suster yang ngebedong langsung lelap sekali tidurnya.


Suami..
2 hari setelah pulang ke rumah, suami ditugaskan keluar kota. Lebih tepatnya dipindahkan.. Dalam hati sedih banget sih, karena suami orangnya sangat amat hands-on. Kalau ada suami di rumah bisa dibilang saya benar-benar gak megang anak (kecuali nyusu). Dia yang gendong, ajak main, mandiin, sampai potong kuku juga. Suami ditempatkan diluar kota dengan jadwal on-off, 15 hari kerja dan 11 hari di Jakarta. Bagusnya kalau di Jakarta 11 hari, jadwalnya kosong seharian, gak perlu masuk kantor. Walaupun ia ada kerjaan lain sih yaitu Crossfit. Tapi paling tidak, quality time-nya bisa di maksimalkan di 11 hari tersebut.

Maternity Leave?...
Sejak usia kehamilan 38 minggu, saya memang sengaja gak ambil job event, ataupun review product dan semacamnya. Sayapun belum sempat update blog karena memang ceritanya mau "materrnity leave" walaupun sih tetap update Instagram. Kenapa pakai tanda kutip? Karena bingung juga, untuk blogger, freelance, ataupun entrepreneur, is there such thing as maternity leave? Kerjaan basically bisa dikerjakan dari rumah ataupun manapun juga. Lalu berapa lama sebenarnya waktu yang diperlukan para freelancer untuk maternity leave? Ada yang bilang 40 hari, ada yang bilang 3 bulan seperti kantoran, ada yang bilang langsug kerja aja toh semua dikerjakan di rumah dengan timing yang nyaman untuk masing-masing individu. Kalau saya sendiri lebih suka mendengarkan kondisi badan (alias tergantung mood..haha). 

40 Hari..
Lagi-lagi bukan tipe yang harus diam di rumah selama 40 hari. Karena pikir-pikir untuk ibu-ibu yang tinggal di luar negri tanpa bantuan ART ataupun orang tua, tak ada service seperti gojek juga, mau gak mau kalau belanja dan beraktivitas harus keluar rumahkan. Di rumah juga hanya ada 1 ART untuk bersihkan rumah, tapi kalau aktivitasnya seharian dan gak ada suami suka aku bawa untuk bantu-bantu plus foto-fotoin. Dulu waktu Dio usia 1 minggu sudah aku bawa ke supermarket, karena perlu belanja mingguan. Untungnya sekarang sudah banyak layanan online yang memudahkan belanja jadi gak perlu keluar-keluar kalau untuk belanja. Namun kemarin sempat jalan-jalan ke Jakarta Aquarium saat baby usia 3 minggu mumpung ada suami, plus ketemu dengan keluarga. Karena rasanya sudah cukup segar.

Sakit..
Cuman saya baru merasakan, bahwa ternyata disuruh di rumah 40 hari itu ada maksudnya ya. Kayanya badan memang belum fully recover. Jadilah akumulasi dari berpergian tersebut, membawa penyakit. Badan mau rontok rasanya, pusing kepala, serta batuk pilek. Memang aku punya penyakit yang dinamakan Autoimmune. Kemarin penyakitnya "tertidur" saat hamil, karena hormon hamilnya bagus malah membuat badan sehat dan segar. Saat sudah melahirkan, terbangun lagi deh dia. Sehingga harus jaga banget untuk makan dan minuman.

So far kalau sakit begini yang paling penting asupan yang super banyak. Saya minum air putih berbotol-botol gak terhitung. Lalu makan buah 3x sehari, sayur 2x sehari, minum air jahe lemon madu untuk batuk pilek, dan kurma 7 buah atau dibuat jus untuk tambahan tenaga. Gak lupa untuk tidur yang cukup. Sekarang hari ke-4 dan saya sudah merasa lebih baik, walaupun belum sembuh sepenuhnya. Kalau dulu, bisa 1-2 minggu kalau kena batuk pilek dan bisa sampai demam. Don't take your health for granted. 

No comments

Post a Comment

© Productive Mamas Blog