SLIDER

LUCY WIRYONO: START WITH PASSION, GROW WITH CONSISTENCY


Lucy Wiryono merupakan co-founder dari Holycow!, Loobie, The Holy Ribs, & FLIP Burger bersama suaminya, Chef Afit. Selain entrepreneur ia juga merupakan seorang ibu yang sangat hands-on dengan 2 anak perempuannya. Kesibukannya sebagai entrepreneur, tidak membuat ia menelantarkan kewajibannya sebagai seorang ibu. Bahkan ia tidak memiliki supir maupun suster, yang membuatnya mengantar jemput anaknya sendiri dan mengutamakan anak diatas segalanya. Yuk kita berbincang lebih lanjut dengan Lucy Wiryono untuk mendapat insight dalam berbisnis dan kesehariannya sebagai seorang ibu..

1. Hi! Boleh ceritakan perjalanan karir sebelum masuk ke Food & Beverage (F&B) Industry? Apakah memang punya background di business atau F&B?

Dari SMP dulu aku sudah tau bahwa aku tidak mau kerja kantoran. Sebenarnya dari awal aku sudah sangat tertarik dengan dunia broadcasting, tapi dulu tidak ada sekolahnya. Akhirnya aku settle untuk kuliah jurusan Ekonomi, daripada tidak kuliah. Sambil mengerjakan skripsi, aku mulai siaran di Hard Rock FM karena kebetulan mereka memang ada opening untuk penyiar. Ibuku awal-awal juga ragu dengan pilihan karir tersebut, merasa sayang degree Ekonomi yang sudah didapatkan 4 tahun ditukar dengan karir di dunia broadcasting yang gajinya kecil. Tapi karena passion aku disitu, aku tetap lanjutkan tanpa memikirkan materi. Sampai sekarangpun aku masih membawakan acara di Motor GP-Trans 7.

Kalau di dunia F&B dan bisnis aku tidak ada background. Aku masuk ke dunia tersebut ya karena suamiku, Afit.

Afit juga tidak memiliki background di keduanya, dan memiliki perjalanan karir yang lebih aneh dari aku. Ia kuliah jurusan hukum, tapi tidak pernah kerja yang ada hubungannya dengan hukum. Dulu sempat buat trading company dan rugi sekian ratus juta, sehingga bangkrut. Nah pas pacaran dengan aku itu sedang bangkrut. Aku dilamar, dan kami menikah. Saat kita menikah, kita tidak punya apa-apa.

Setelah menikah di 2006, Afit mendapatkan pekerjaan di TV, pindah ke majalah, lalu pindah lagi ke TV. Dari pekerjaannya itu ia merasakan bahwa tidak suka kerja sama orang lain, dan ingin membuat bisnis sendiri.

2. Apa sih inspirasi awal dari membuat Restaurant?

Kebetulan kami berdua sangat amat suka makan. Pada saat masih bekerja, Afit mencoba wagyu untuk pertama kali dalam hidupnya. Saat itu ditraktir kantor dan satu steak harganya bisa sampai diatas Rp 500.000. Nah pulangnya ia menceritakan ke aku. Kami ingin makan wagyu, namun gak ingin mengeluarkan uang sebanyak itu. Akhirnya kami cobalah untuk membuat sendiri di rumah. Awalnya hanya seasoning pakai garam and merica, sampai akhirnya berkembang eksperimen mencoba berbagai macam bumbu.

Saking seringnya kami makan steak ini di rumah, kami kepikiran harusnya bisa nih kita jualan wagyu steak tapi harga terjangkau. Akhirnya dengan tidak punya background F&B kami mencoba menduga-duga kenapa di resto itu 1 potong wagyu bisa diberi harga sampai lebih dari Rp 500.000 padahal saat membuat sendiri di rumah jauh sekali harganya. Tentunya ada gaji karyawan, sewa tempat, biaya produksi dan sebagainya. Satu-satunya cara untuk menekan harga adalah dengan jualan di emperan seperti warung pecel lele..hehe. Kami juga punya modal yang sangat amat terbatas, hanya mengumpulkan dari bonus-bonus kerjaan full time kami saat itu.

Nah kalau yang tadi merupakan inspirasi dari Holycow, berbeda dengan Flip Burger. Kami mau membuat high quality burger dengan harga yang affordable. Believe it or not, memikirkan resepnya sampai 2 tahun hingga kami benar-benar  puas dengan rasanya. Bun-nya kami buat sendiri supaya ada rasa manis seperti brioche tapi gak mudah lembek kalau terkena daging. Kami mau dagingnya tebal juicy dan gak kering. Sampai detail kecil bahwa akan banyak yang gojek saja kami pikirin. Si burger kami diamkan selama 40 menit, apakah masih enak. We take our food, very seriously.

3. Wah pantas ya memang enak dan ramai terus. Apakah ada strategi marketing khusus yang digunakan oleh Holycow & Flipburger di awal-awal launching sampai booming sekali?

To be honest gak ada marketing techniques yang out of the ordinary. Seringkali menjadi orang tanpa background business malah menguntungkan. Kami selalu menempatkan diri sebagai customer dan membuat semua sepenuh hati. Jadi motivasinya bikin orang seneng dulu deh, the money will follow.. Kami generous in size, portion and quality. Kalau hanya memikirkan uang, mungkin kami akan sering cut down porsi. Tapi karena kami selalu melihat dari customer point of view, product dan service yang diberikan maximal.

Sehingga marketing kami ya dari word of mouth, share di social media, dan rekomendasi teman yang puas dengan kualitas dan rasa makanan kami.

4. Ohiya apakah punya panutan atau inspirasi dalam berbisnis?

Gak ada one particular person ya. Kami belajar dari mana-mana. Misalkan Richard Branson yang passionate banget sama dunia penerbangan. Cara dia mengurus karyawan-karyawannya juga jadi inspirasi yang bagus banget untuk kami. Banyak sekali sih, kami ambil a lil bit of everything from everyone. Kami lebih banyak belajar dari pengalaman “what NOT to do” dan worst case scenario.

5.Bagaimana rasanya kerja dengan suami? Apa plusnya dan apa challengenya?

Plusnya kami bisa diskusi kapan saja dimana saja. Minusnya ya harus pintar-pintar memisahkan mana yang bisnis mana keluarga. Untung saja aku tipenya tidak sensitive dan berusaha profesional setiap menghadapi pekerjaan.

Jadi misalkan tiba2 ditagih due date sesuatu yang aku belum kerjakan ya aku segera kerjakan, walaupun hari itu memang aku sibuk urus anak. Berusaha tidak menjadikan anak sebagai alasan, tapi bekerja se-efesien mungkin.

6.Apa sih bagian favorit dari menjadi entrepreneur?

Flexibilitas waktu untuk anak dan banyak mempelajari hal baru.

Aku mau mengingatkan saja sih kalau being an entrepreneur has nothing to do with being ‘cool’. Banyak yang harus dihitung dan harus kerja keras. Capek pakai BANGET.. Aku sering mendengar orang bilang “Kan enak kalau makin besar bisnisnya, kita bisa angkat kaki dan suruh-suruh bawahan plus nikmati hasilnya”. That is NOT true. Makin besar bisnisnya tentu makin banyak tantangannya, berurusan sama pajak, finances, human resources, dan sebagainya. Penting sekali untuk memiliki team yang di training dengan baik dan system yang efesien. Tapi karena kami memulai bisnis memang dari passion. I enjoy every bit of it.

7. Apakah ada pesan untuk siapa saja yang ingin memulai bisnis di food industry?

KONSISTENSI. Sebelum mulai bisnis apapun, pikirkan baik-baik. Bayangkan kalau kamu akan menjalankan ini seumur hidup, apakah akan bosen atau tidak? Karena bisnis itu akan melibatkan hidup orang lain. Karyawan menaruh mata pencahariannya di kalian, sehingga gak boleh main-main. Mentalnya memang harus kuat dan tidak boleh mudah bosan. Karena tidak ada ceritanya bahwa bisnis itu akan mudah jalannya…



8.Nah sekarang kita beralih ke topik motherhood nih. Setau aku katanya tidak memakai suster, apakah benar dan kenapa begitu? Apa tidak kerepotan dengan cabang-cabang restaurant yang terus bertambah di seluruh Indonesia?

Amazingly gak segitu repotnya sih. Dulu aku pernah pakai suster saat Danya usia 6 bulan, tapi lama-lama kok lebih repot ngurusin suster dari pada anaknya. Akhirnya aku memutuskan gak pakai sama sekali. Dulu sempat punya supir juga 3 tahun tapi drama juga jadi aku capek. Kalau dibiasakan menjadi rutinitas saja kok.

Aku ada mbak dirumah yang sudah ikut aku 9 tahun tapi pulang pergi. Kalau urgent sekali ada meeting yang memang tidak bisa membawa anak-anak, mbak aku bisa bantu jaga. Tapi itu dalam sebulan bisa dihitung pakai jari.

9.Jadi kalau meeting anak-anak sering dibawa ya?

Prioritas utama aku ya anak-anak. Yang penting sudah antar sekolah, les dan kegiatan mereka. Nanti kegiatan aku yang lain ya aku dekatkan ke aktivitas tersebut. Ini seperti ketemu sama kamu, aku sekalian sambil jemput anak sekolah, dan si kakak lagi les renang di sekolah aku memang harus menunggu disini, bisa sekalian monitor resto. Jadi memang sengaja di atur di satu area. Kalau ada meeting yang penting dan agak jauh, aku jujur saja kalau hanya bisa di jam anak sekolah tapi gak bisa lama-lama karena harus kembali jemput lagi.

Untuk siaran TV hanya hari Minggu dan 2 minggu sekali, jadi anak-anak bisa sama Afit. Kalau ada interview juga biasanya bisa via email dan datang ke rumah hanya untuk foto.

Sisanya tidak serepot itu kok. Ada hari yang memang repot, namun dinikmati saja. Alhamdulillah sekarang juga setelah 6 tahun berjalan, bisnis kami sudah mempunyai system yang sudah lebih bagus, sehingga kerjapun bisa lebih efesien.

Sebagian besar pekerjaan aku juga bisa kukerjakan di rumah sebenarnya karena aku bagian marketing.

10.Bisa ceritakan bagaimana sih keseharian Lucy Wiryono, dari bangun sampai tidur lagi?

04.00 pagi aku sudah pasang alarm. Subuh lalu siapin bekal anak-anak sarapan dan snack. Ngopi 15 menit itu me-time yang lumayan..

06.00 Membangunkan anak-anak dan siap-siap ke sekolah. Saat menunggu anak sekolah aku pilates, olahraga, kerja di laptop atau meeting.

Setelah anak-anak pulang aku jemput, sampai di rumah menemani kakak ngerjain PR, dan adiknya main. Sampai jam mereka tidur ya waktuku buat anak-anak.

Kalau ada yang emergency banget aku kerjain di laptop tapi dengan batas waktu. Aku minta izin untuk kerja sebentar ya, misalkan 30 menit.

20.00 Mereka sudah masuk kamar dan dikondisikan untuk tidur

Lalu aku mulai produktif lagi setelah anak-anak tidur. Ya mengejar memang pas anak sekolah dan malam hari saat anak sudah tidur.

10.Apa saja aktivitas favorit yang dilakukan sama keluarga saat weekend?

Berenang. Kami keluarga pencinta air banget, terutama anak-anak. Disaat ada rezeki dan waktu kami selalu sempatkan liburan ke Bali, malas-malasan di hotel bermain air dari pagi sampai sore.

11.Apa sih pelajaran berharga selama menjadi seorang ibu?

Menjadi ibu mengajarkan aku untuk sabar, menginjak tanah dan value the simplest things in life. My girls keep me humble.

No comments

Post a Comment

© Productive Mamas Blog