SLIDER

TENTANG KEPINTARAN ANAK


Bulan lalu, Productive Mamas mengadakan nonton bersama film Wonderful Life oleh Gramedia KPG dan Sari Ayu. Di artikel ini saya gak akan terlalu banyak membahas filmnya, melainkan film ini membawa flashback ke masa kecil saya sedikit. Selain itu juga ingin membahas mengenai kepintaran anak yang berbeda-beda serta membahas point of view saya dari seorang ibu.

Sebelum masuk ke yang lebih personal, tentu saya mau membahas sedikit mengenai filmnya. Topiknya secara garis besar bagus sekali menurut saya. Penting sekali topik seperti ini dibawa ke permukaan. Mengenai Amalia yang datang dari keluarga high achiever yang ambisius mendapatkan anak seperti Aqil yang dyslexia sehingga mempengaruhi nilai akademisnya yang dibawah rata-rata, namun memiliki kelebihan di menggambar. Pendapat saya mengenai topik ini akan lebih saya elaborate di paragraph berikutnya, namun jujur menurut saya alur ceritanya agak datar, kurang greget dan tidak ada problem solving-nya. Positive-nya film ini ringan, ada adegan yang lucu juga, pemainnya juga acting-nya bagus. Namun di closing-nya dan kurang anti climax, tapi gatau apa ekspektasi saya yang ketinggian karena melihat trailernya atau memang begitu ya? Ada yang sudah nonton? What do you think?

Menonton film ini mengingatkan saya akan pepatah luar yang saya suka sekali "Everybody is a Genius. But If You Judge a Fish by Its Ability to Climb a Tree, It Will Live Its Whole Life Believing that It is Stupid". Message ini yang saya suka dari film tersebut. Karena orang yang kenal saya dari dulu, dan yang kenal saat saya sudah punya anak akan mengatakan saya 2 orang yang berbeda sekali. Kenapa? Sepanjang masa kecil saya jujur selalu merasa 'bodoh', karena ya saya gak mudah menghafal, gak text book smart. However, saya selalu street smart, mudah bergaul, mudah mendapat teman baru, selalu dapat nilai yang cukup bagus di olahraga, art (pelajaran yang gak dianggap tentunya semasa sekolah), dan bahasa. Intinya pelajaran yang menurut orang gak perlu pakai "mikir". Tapi tentu ini bukan hal-hal yang "penting".  Saya selalu benci sekolah, gak suka belajar, suka dipanggil guru, suka telat mengumpulkan tugas and so on. Sekarang saya baru tau kalau saya bukanlah bodoh, dan gak ada anak yang bodoh, tapi cara belajar setiap anak berbeda-beda.

Adik saya book smart, sekali mendengar guru menjelaskan langsung ingat, tanpa harus belajar terlalu keras, selalu ranking. Suami sayapun begitu, dulu akselerasi, ketua angkatan, OSIS, dan aktif di segala macam organisasi. Kalau saya baru menyadari saat sudah SMA kalau saya bisa belajar dengan membuat mind map yang colorful, dan menulisnya berulang-ulang, membuat project dan semua yang lebih hands-on. Jadi bukannya bodoh, tapi saya butuh effort lebih besar dan cara belajar yang berbeda.

Namun kalaupun saya bisa mengulang waktu, saya tidak mau merubah struggle saya selama jaman sekolah dulu. Karena pengalaman tersebut yang membuat saya menjadi ibu yang baik sekarang ini. Saya jadi melihat anak dari point of view yang berbeda, memahami betul kalau pintar itu tidak hanya diukur dengan nilai saja. Saya juga jadi ingin memberikan masa kecil terbaik di golden age anak saya. Saya dedikasikan pada bermain dan pengetahuan yang gak konvesional. Banyak belajar dari bermain, banyak buku pengetahuan yang menarik, banyak membaca buku berkualitas dan semua tanpa paksaan.  

Dengan dulu saya kurang baik di sekolah juga, ibu saya banyak sekali memasukan saya ke berbagai macam les. Apa saja sebut, mulai dari semua jenis musik (ini gak ada yang nempel), semua program computer, photography, sampai semua macam olahraga saya pernah. Walaupun gak semua nempel, tapi skill computer, dan photography yang mendukung sekali saya menjadi blogger sekarang. Setahun pertama saya mengerjakan semua sendiri, mulai dari buat website, nulis artikel, foto produk dan aktivitas, merekam video, edit foto dan video, meeting, datang ke event, membuat macam-macam yang saya dapat dari skill les-les tersebut.

Saya menemukan passion saya ketika saya menjadi seorang ibu. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya sekaligus sharing pada ibu-ibu yang lain mengenai aktivitas yang positif untuk ibu dan anak. Saya sekarang senang belajar, senang membaca, senang mempelajari hal baru terutama untuk anak saya. Drive ini juga saya dapatkan karena support dari suami. Suami yang organize dan high achiever, mengimbangi saya yang santai ini. 

Inti dari cerita ini sih, saya ingin mengingatkan bahwa anak seperti saya itu ada harapan kok untuk berprestasi di sekolah dengan cara yang berbeda dan belajar yang tepat. Kalaupun tidak di sekolah ya ditempat lain. Disaat mama sedang menghadapi challenge pada anak terutama di bidang akademis, jangan menyerah. Saya benar-benar percaya bahwa semua anak terlahir pintar, dan pasti memiliki kelebihannya masing-masing dengan support system dan environment yang tepat. Tugas kita untuk mencari, mengarahkan, men-support, dan mencintai anak kita unconditionally

No comments

Post a Comment

© Productive Mamas Blog