SLIDER

#SMARTASI WITH THE SMART MAMA


Kemarin saya (Irna) berkesempatan untuk hadir ke acara Sharing Moment yang diadakan oleh www.smartmama.comTopik yang diangkat adalah tentang #SmartAsi, dalam rangka menyambut World's Breastfeeding Week pada tanggal 1-7 Agustus 2016. Acara ini dihadiri oleh berbagai mama-mama dari background yang berbeda-beda, ada yang bekerja penuh waktu diluar rumah, ada yang bekerja dengan waktu yang flexible, ada juga ibu rumah tangga dan bahkan ada perwakilan dari Ayah Asi. Selain itu, tidak lupa ada juga psikolog Liza Djaprie dan dr. Myrell Nunes sebagai nara sumber. 

The Smart Mama mengusung campaign #SmartAsi dengan tujuan menciptakan ruang bebas judgement khususnya kepada para mama yang menemui hambatan dalam menyusui. Memberikan ASI adalah yang terbaik tetapi tidak dapat dipungkiri kalau ini bukanlah sesuatu hal yang mudah, terutama buat para mama yang baru pertama kali menyusui anaknya. Hambatan yang ditemui pun pastinya berbeda-beda. Seru juga mendengarkan para mama dan bahkan beberapa ayah, ikut sharing tentang suka duka memberikan ASI untuk anaknya. Kami juga membahas beberapa mitos tentang menyusui, dan pastinya berbagai judgement yang sering dialami oleh para mama. 

Personally, saya pun pernah mengalami cukup banyak hambatan pada saat memberikan ASI untuk Keona (anak pertama saya). Diawali dengan latch on yang kurang baik sehingga menyebabkan puting saya luka parah dan sakit luar biasa. Lalu Keona juga sempat bingung puting dan akhirnya harus relaktasi di usia 2 bulan. Ditambah lagi saat itu saya masih bekerja full-time sehingga saya cukup stress membagi waktu untuk menyusui langsung dan memerah ASI untuk stock. Seringkali saya mengalami defisit ASI sehingga mencoba berbagai macam booster ASI dari multivitamin, susu, sampai ramuan traditional seperti jamu, jus pare dan lain-lain. Akhirnya saya kembali mengambil donor ASI ketika Keona berusia 5-7 bulan, dan sempat juga mencampur dengan susu formula saat Keona berusia 9 bulan (saat itu saya sudah hamil anak kedua sehingga produksi ASI makin menurun drastis). Kalau tentang judgement jangan ditanya, berbagai macam kritik dan omongan negatif pernah saya dapatkan. Jadi bisa dibilang, saya pernah mengalami semua suka duka menyusui. Tetapi karena sudah komitmen dari awal untuk memberikan ASI, saya tetap berusaha menyusui walaupun saat itu sedang hamil, ternyata semakin kita pasrah dan santai, produksi ASI malah justru semakin banyak lho. Alhamdulillah saya bisa menyusui Keona sampai 2 tahun 3 bulan (tandem nursing dengan adiknya selama hampir 8 bulan). Lalu dilanjutkan dengan Kelana yang menyusu sampai usia 2 tahun 4 bulan, break 2 minggu sebelum Kai lahir, lalu dilanjutkan menyusui lagi sampai Kai berusia 1 tahun 4 bulan, dan akhirnya harus berhenti menyusui 2 bulan yang lalu karena kehamilan ke-4 saya yang sekarang di diagnosa dengan placenta previa. It's been a long, hard, yet a wonderful journey!

Intinya mari kita bersama-sama lebih ramah dan supportive kepada para mama yang sedang atau akan menyusui anaknya. Karena support yang baik khususnya dari lingkungan terdekat, akan menjadi sumber kekuatan terbesar bagi para ibu menyusui. Tentunya, jangan lupa juga untuk selalu rajin mencari informasi tentang ASI dan harus selalu yakin bahwa kita akan bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. 


Kalau pada mama disini bagaimana? Apakah ada yang ingin sharing tentang suka duka dalam menyusui anaknya? Atau mungkin ada yang ingin bertanya seputar memberikan ASI? We are here to hear! 

1 comment

  1. duuh iyaaa.. Bismillah anak kedua nanti (kalo dikasih lagi) bisa full asi 2 tahun :) Amiinn

    ReplyDelete

© Productive Mamas Blog