SLIDER

MEMPERSIAPKAN ANAK UNTUK MASUK SEKOLAH

  • 22 June 2016


Gak kerasa sudah setahun Dio sekolah playgroup, dan sudah mau naik kelas! Saya masih ingat awal-awal dulu pertama kali masuk masih ditemani dan hampir separuh kelas menangis. Dio yang awalnya santai saja, di minggu kedua juga jadi menangis selama seminggu. Jarang-jarang ini terjadi, karena ia tipe anak yang cuek. Tapi seumur itu (2 tahun), memang masih mudah berubah-ubah sesuai sekitarnya. Sehingga seanteng-antengnya Dio, melihat masih banyak teman yang ditemani oleh ibunya, mungkin ia merasa sedih "Kok mama gak ada di kelas?". 

Salah satu ekspektasi seorang ibu saat menyekolahkan anak, tentu agar tambah mandiri, dan tambah pintar. Kenyataan yang baru saya ketahui saat anak saya sudah bersekolah setahun adalah, walaupun memang mungkin perkembangan bahasa dan motoriknya berkembang pesat, tapi secara emosional itu kadang berubah berdasarkan perilaku teman sekelasnya. Jadi jangan kaget untuk yang anaknya tadinya manis, tiba-tiba jadi mudah menangis lalu agak kasar. Namun anak yang tadinya penakut pun bisa jadi anak yang berani. Apabila yang terjadi adalah menjadi kurang baik, yang harus dilakukan adalah banyak-banyak ajak bicara di rumah, memberi contoh yang baik, dan wajib konsultasi pada gurunya. Tidak perlu panik, karena itu merupakan hal yang biasa. Jadi bukan berarti sekolah tersebut jelek, melainkan anak anda sedang berkembang emosinya dan belajar bersosialisasi.

Nah dulu saat masuk sekolah saya gak banyak baca apa-apa karena Dio anaknya relatif 'mudah'. Tapi sebaik-baiknya perilaku anak, perlu persiapan juga untuk menghadapi lingkungan baru, jadi semoga sharing dibawah bermanfaat ya:

SEBELUM MULAI SEKOLAH
Akan lebih baik apabila, 6 bulan sebelum sekolah mulai kita mempersiapkan kemandirian anak. 
Misalkan mulai potty train, belajar makan sendiri, coba pakai sepatu atau baju sendiri. Memang di sekolah gurunya akan menfasilitasi kalau anaknya belum bisa. Tapi alangkah lebih menyenangkan apabila anak sudah bisa, pasti anak menjadi lebih percaya diri dan sebagai seorang ibu kita juga lebih tenang. Namun kalau belum jangan khawatir, di skolah para bu guru sudah biasa kok mengurus berbagai macam kebutuhan anak.

Selalu ajak bicara anak malam sebelum sekolah, dan pagi hari saat mau berangkat.
Dio selalu menjadi cranky, kalau pergi ke tempat baru dan saya belum cerita dahulu sama dia kita mau kemana dan mau ngapain. Sehingga sekarang saya terbiasa untuk bercerita dari malam sebelumnya, mau kemana dan ngapain saja, akan ada siapa disana. Sedetail mungkin, sehingga anak tidak kaget. Hal simple, yang seringkali kita lupa lakukan.

SAAT DI SEKOLAH
Kalau bisa menemani jangan lebih dari seminggu.
Menurut saya kalau bisa dari hari pertama gak menemani lebih baik sih, tapi harus sering-sering diajak bicara tadi. Karena makin lama ibunya ada di dalam tentu ia menganggap "Oh di kelas ada mama / di kelas ternyata ada suster ya..". Gak membuat jadi lebih mudah untuk dia adjust juga nantinya. Karena sooner or later-pun harus ditinggal. Better sooner than later.

Jangan mudah panik.
Anak itu memiliki koneksi batin sama ibunya. Sehingga saat anda gelisah dan panik, seringkali anaknya pun ikutan jadi tidak tenang.

Jangan khawatir apabila anak belum bersosialisasi.
Terutama yang memasukan anaknya ke sekolah di usia 2 tahun, jangan panik kalau anak belum mau main dengan teman sebayanya. Seringkali kita berpikir "ini gimana sih dimasukin sekolah untuk sosialisasi, malah gak main dengan teman sebayanya?". Tapi diawal itu merupakan hal yang normal.

6 bulan pertama sekolah, Dio kalau ditanya nama teman, akan jawab nama-nama gurunya saja. Sampai akhirnya setelah setahun sekolah, di 3 bulan terakhir baru mulai punya beberapa teman yang ia suka sebut. Tapi kalau sampai setahun belum jangan khawatir, karena kata teman yang psikolog anak dan yang punya anak tipe pemalu, anaknya baru mulai bermain bersama teman-temannya usia 4 tahun. Jadi perkembangan anak beda-beda.

SESUDAH PULANG SEKOLAH
Setelah pulang, jangan lupa ajak bicara lagi. 
Namun dengan tone yang menyenangkan ya, jangan 'meneror' anak. "Tadi ngapain aja? sama siapa? kamu pinter gak?". Kalau dipaksa anaknya juga pasti gak senang haha.. Santai saja, "Wah senangnya tadi sekolah, sudah punya teman baru belum? atau bu guru namanya siapa?". Kalau gak mau dijawab gak apa-apa, besok-besok coba tanya lagi "Senang ya tadi main prosotan kesukaan Dio! Selain itu main apa lagi sayang?". conversation-nya dibuat semenyenangkan mungkin.

Nah yang diatas itu tips dari saya (Nesya), berikut ada sharing dari Irna juga nih...


Saat ini Keona, anak pertama saya, sudah berusia 5 tahun dan akan naik ke K2 (TKB) bulan Juli nanti. Agak sedikit berbeda dengan Dio, Keona memang lebih cuek, mungkin karena dia sudah punya adik dari umur 1.5 tahun. Jadi saya tidak mengalami banyak drama ketika memasukkan Keona ke kelompok bermain pada usia 2.5 tahun. Dari hari pertama masuk sekolah dia sudah bisa saya tinggal dan sama sekali tidak menangis atau mencari-cari saya. Dia langsung asik meng-explore isi sekolah dan kelasnya. Begitu juga dengan saat pertama kali masuk TK, sama sekali tidak ada drama dari hari pertama sekolah. 

Mirip seperti Nesya, beberapa saat sebelum masuk sekolah memang saya biasanya sudah memberikan preview tentang apa-apa saja yang akan dilakukan di sekolah. Terkadang saya juga menggunakan bantuan buku untuk menggambarkan bagaimana kegiatan di sekolah nantinya. Saya memperlihatkan bagaimana anak-anak bersekolah sendiri tanpa diantar atau ditemani orang tuanya. Hal ini sepertinya sangat membantu untuk membangun kepercayaan diri Keona dalam menghadapi hal yang baru di sekolah. 

Satu-satunya masalah yang saya hadapi adalah tentang sosialisasi. Seperti saya katakan sebelumnya, Keona cenderung cuek, jadi butuh waktu agak lama untuk dia bersosialisasi dengan teman-temannya. Sewaktu masih di kelompok bermain, butuh waktu lebih dari 6 bulan untuk akhirnya Keona bisa menyebutkan nama teman-temannya, itupun hanya beberapa. Dan menurut gurunya Keona memang lebih senang bermain sendiri dan tidak ikut-ikutan teman. Belajar dari pengalaman tersebut, saya sedikit membujuk dia untuk lebih ramah kepada teman-temannya ketika mulai masuk TK. Saya sering membacakan buku tentang pertemanan, dan juga sering membawanya playdate bersama anak-anak dari teman-teman saya. Kemampuan sosialisasinya pun berkembang dengan sangat baik.

Satu lagi tips yang bisa dilakukan agar anak lebih excited untuk sekolah adalah dengan melibatkan mereka untuk mempersiapkan kebutuhan sekolahnya, dari mulai baju/seragam sampai bekal yang akan dibawa. Biasanya pada malam hari saya sudah bertanya, besok kakak pakai baju/seragam yang mana dan  mau bekal apa? Sejak saya melibatkan keona untuk mempersiapkan kebutuhannya, dia makin excited untuk bangun lebih pagi dan semangat  berangkat ke sekolah.

Tetapi tiap anak memang berbeda. Jangankan dari keluarga yg pola asuhnya jelas berbeda, kakak beradik dari orang tua yang sama pun bisa jauh berbeda. Apa yang saya alami dengan Kelana, anak kedua saya, berbanding terbalik dengan kakaknya. Pertama kali saya mengajak dia trial masuk sekolah adalah saat umurnya 2.5 tahun. Dia langsung sangat tertarik untuk bermain dengan teman-teman barunya dan juga meng-explore semua permainan di sekolah, tetapi saya tidak boleh hilang sedikitpun dari pandangannya. Saya mencoba keluar dari kelas sebentar saja dia langsung menangis mencari saya, dan hal ini berlangsung berhari-hari. Kecuali pada saat bermain diluar ruangan, dia langsung berlarian tanpa mencari saya sama sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk menunda sekolahnya. Pada saat itu saya juga baru melahirkan jadi saya rasa Kelana butuh quality time untuk berkenalan dengan adik bayinya. 

Saat umurnya 3 tahun, saya kembali mendaftarkannya untuk sekolah, kali ini saya memilih kelompok bermain yang jaraknya dekat dari rumah, berbeda sekolah dengan kakaknya. Hal yang sama terulang lagi, walaupun saya sudah memberinya persiapan seperti yang saya berikan kepada kakaknya sebelum masuk sekolah. Selama seminggu saya selalu menemaninya didalam kelas, jika saya keluar kelas, dia tidak menangis tapi akan ikut keluar kelas dan memilih untuk bermain di playground saja. Setelah 2 minggu selalu menemani di sekolah, saya paksakan untuk saya tinggal. Tetapi setiap kali ditinggal dia selalu menangis dan saat dijemput begitu melihat saya dia langsung menangis lari keluar kelas. Sampai akhirnya setelah 2 bulan lebih dia mogok sekolah. Saya pun tidak mau memaksakan karena mungkin dia belum siap, atau bisa juga  sekolah yang saya pilih memang tidak sesuai dengan kepribadiannya.

Jadi menurut saya mempersiapkan anak untuk masuk sekolah memang terkadang penuh tantangan. Belum tentu metode yang sama bisa diterapkan ke semua anak. Kita harus benar-benar memperhatikan karakter dan kesiapan anak itu sendiri.  Yang paling penting adalah sebisa mungkin kita meningkatkan kepercayaan dirinya agar mereka bisa mudah beradaptasi di sekolah barunya nanti. Tetapi jangan memaksakan jika anak belum siap atau tidak mau bersekolah karena dikhawatirkan nanti mereka bisa trauma dan merasa "ditinggalkan".

Apakah mama disini ada yang senasib dengan saya? Atau mungkin mau sharing bagaimana agar anak mudah menyesuaikan diri di sekolah barunya nanti? Please write on the comment below!

No comments

Post a Comment

© Productive Mamas Blog