SLIDER

ANGKIE YUDISTIA: UNCONDITIONAL PERSEVERANCE


Saya bertemu Angkie Yudistia saat menjadi salah satu pembicara di acara Koran Sindo yang berjudul “Tribute to Mom’s”. Ia berbagi mengenai perjuangannya menjadi seorang entrepreneur dan ibu yang tuna rungu. Salut sekali bahwa Angkie menyelesaikan pendidikan S2 di komunikasi, tak peduli orang berkata apa. Ia dapat mengubah ‘kekurangannya’ menjadi kelebihannya. Berikut perbincangan saya dengan Angkie…

Hi Angkie! Bisa ceritakan perjalanan karir kamu sebelum mendirikan Thisable Enterprise?
Aku sempat bekerja di First Media, IBM, dan yang terakhir di service company bidang migas yang berakhir di-PHK. Ini sebuah kejadian yang di luar dugaan, dan sangat menyedihkan, karena selalu menjadi impianku menjadi wanita karir, bisa mandiri dan menghasilkan sendiri. Aku mencapai ini perlu usaha yang cukup besar. Aku kuliah komunikasi sampai lulus S2, dan sempat ditolak banyak sekali company saat pertama kali apply kerja, banyak perusahaan yang langsung pesimis begitu tau aku tuna rungu. Aku tau bahwa menjadi tuna rungu menjadikan aku terbatas, tapi aku tidak mau terbatas dalam pikiran.

Boleh ceritakan awal mula dan tujuan didirikannya Thisable Entreprise?
Nah di saat aku di PHK itu, sempat sedih tentunya.. Namun aku menyemangati diri dengan datang ke seminar-seminar yang bermanfaat, mulai networking, dan berkenalan dengan orang baru. Aku juga mencari dosen aku saat kuliah dulu untuk konsultasi. Dia menyarankan untuk dirikan saja lapangan kerja sendiri. Awalnya sempat takut karena tidak memiliki pengalaman, dan belum cukup pengetahuan untuk mendirikan perusahaan sendiri. Namun karena aku ada partner, dan dosenku yang membimbing, aku coba beranikan diri.
Dari situ aku kepikiran untuk membuat consultant komunikasi yang memiliki fokus di disabilitas. Aku menjadi social entrepreneur, karena Thisable Enterprise memang mengarah ke Corporate Social Responsibility (CSR).

Apa tantangan terberat saat mendirikan Thisable Enterprise?
Tentunya tantangannya banyak, namun yang paling signifikan adalah aku tidak ada benchmark. Tidak ada contoh yang bisa aku lihat, karena setau aku di Indonesia belum ada consultant komunikasi yang mengarah ke disabilitas seperti Thisable Enterprise.
Hal pertama yang aku lakukan adalah, reach out lagi ke koneksi-koneksi aku dulu saat networking. Benar-benar aku hubungi satu-satu lewat telfon dan lewat email, ditanya apa kabar, diajak diskusi, ditawarkan program-program yang aku ingin buat, dan terkadang hanya sekedar untuk konsultasi. Kalau ditanya orang, apa salah satu hal terpenting dalam berbisnis, menurut aku adalah koneksi.

Apa accomplishment terbesar yang paling dibanggakan sepanjang perjalanan karir Angkie?
Kalau untuk sepanjang hidup, banyak, tapi yang paling berkesan adalah beberapa kali di all expenses paid untuk menuntut ilmu di luar negri dan mewakili indonesia.
Modal nekat saja, kesana sendirian, tapi pengalamannya memang sangat berharga dan tidak terlupakan.

Siapakah inspirasi Angkie dalam bekerja ataupun berkarya?
Wah banyak sekali, karena aku senang belajar dari buku maupun pengalaman orang lain. Namun kalau harus memilih, aku belajar banyak mengenai leadership dari mentor aku Handry Satriago, CEO of General Electric Indonesia. Ia bisa menjadi mentor aku juga dengan modal nekat, aku hubungi lewat email.
Selain itu ada Nilam Sari dari Babarafi, Kebab Turki yang sudah memiliki ratusan cabang di Indonesia maupun luar negri. Serta partner aku di Thisable Enterprise, yaitu Wahyu Utomo. Dari dia, aku belajar untuk berani mengambil keputusan-keputusan dengan resiko yang tinggi.

Boleh ceritakan mengenai isi dan motivasi di balik buku 'Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas' dan 'Setinggi Langit'?
Menulis buku merupakan cara aku untuk mengubah persepsi masyarakat pada disabilitas secara halus dan tidak mendikte. Ini juga cara aku untuk mengajak orang yang memiliki disabilitas untuk berani mengejar mimpi-mimpinya, berani berkarya dan menekankan bahwa mereka juga memiliki suara.
Sekarang kita beralih ke dunia motherhood nih. Bagaimana cara Angkie membagi waktu menjadi seorang ibu dan entrepreneur? Sempatkah merasakan stress ataupun baby blues?
Tentunya pernah! Salah satu kejadian yang paling membuat aku sedih adalah tidak dapat mendengar tangisan anakku sendiri. Karena harus operasi caesar, aku tidak boleh memakai hearing aid. Sedih sekali rasanya tidak mendengar tangisan anakku pertama kali. Begitu juga saat di rumah, seringkali saat anakku terbangun di malam hari aku tidak bisa dengar jadi harus minta bantuan suami atau mamaku untuk membangunkan. Namun saat tidak ada bantuan, aku coba bicara baik-baik dan berulang kali dengan Kayla dan menjelaskan keadaanku yang tidak bisa mendengar, Kayla, coba tendang atau colek mama kalau haus, atau sudah tidak nyaman popoknya ya nak... Surprisingly, saat menangis ia benar bisa menendang atau mencolek aku lho.

Wah memang bayi itu semua diciptakan cerdas ya, asal diberikan pengertian.. Oiya boleh ceritakan bagaimana keseharian Angkie Yudisitia?
Pagi hari biasanya waktunya quality time dengan Kayla. Kami bermain, mandi, dan makan bersama. Lalu biasanya kami bermain-main sampai Kayla tidur lagi sekitar jam 10. Enaknya menjadi entrepreneur itu waktunya flexible, karena sudah ada partner dan team, aku bisa mengatur jadwal aku kerja. Kalau Kayla sudah tidur aku berangkat kerja, atau meeting, lalu Kayla dititip sama orang tuaku atau mertua. Sore hari aku pulang sekitar jam 4-5an kecuali ada acara atau meeting

Kalau untuk aktivitas, apa yang paling senang Angkie lakukan bersama anak di saat ada waktu luang?
Jalan-jalan. Menurutku dari melihat dunia luar anak bisa belajar banyak. Aku coba untuk sering menjelaskan apa yang ia lihat di sekitarnya. 
Aku juga berusaha untuk menanamkan sifat-sifat yang baik pada anak. Harapanku Kayla menjadi anak yang sosial dan santun. Itu mengapa kalau memungkinkan, aku membawa Kayla ke kantor atau acara-acara, agar ia mengerti juga pekerjaan mamanya dan memiliki value yang saya miliki.

Apa quotes favorit yang Angkie paling sukai?
Ada 2. “Kita tidak ada yang sempurna, tapi kita semua diberikan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dapat membuat kita sempurna” dan “Jangan menunggu kita dijadikan seperti apa, tetapi ciptakan jati diri kita sendiri”

Woow kedua quotes tersebut merupakan ciptaan Angkie Yudistia sendiri lho. Saya sangat kagum dengan wanita ini. Terima kasih banyak atas waktunya ya Angkie, hope to see you again real soon!

1 comment

© Productive Mamas Blog