SLIDER

5 CARA BIJAK PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM PENGASUHAN

Rumah Dandelion adalah rumah kegiatan dan pendidikan bagi orang tua dan anak, yang berperan sebagai rekan orangtua dalam mengoptimalkan perkembangan anak. Untuk informasi lebih lanjutnya bisa cek blog rumahdandelion.comDi artikel sebelumnya, telah diulas alasan mengapa perlu ada pembatasan akses teknologi untuk anak usia dini. Kali ini, Rumah Dandelion ingin membahas, apa saja yang dapat dilakukan orang tua untuk membentengi anak dari potensi pengaruh buruk teknologi.

 1. Buat Aturan dan Batasan

Tetapkan aturan penggunaan: kapan, berapa lama, dan untuk keperluan apa. Beberapa strategi yang bisa diterapkan di rumah seperti:

Token

Anak baru boleh menggunakan gadget bila sudah melakukan kewajibannya (makan, mandi, membereskan mainan, mengerjakan tugas sekolah, atau lainnya). Kewajiban ini perlu disepakati antara orangtua-anak. Setiap melakukan satu kewajiban, anak mendapat satu token. Token ini bisa berupa koin untuk ditabung atau stiker untuk ditempel. Kalau sudah mendapat token sesuai jumlah yang disepakati, anak memperoleh hak screen time, tentu tetap dengan limit waktu yang (lagi-lagi) disepakati.

Screen Time Tickets

Di awal minggu, setiap anak mendapat 10 tiket dan per tiket durasinya 30 menit (jumlah dan durasi ini dapat diubah sesuai kesepakatan). Bila anak mau menggunakannya, berikan tiket pada orangtua/pengasuh. Orangtua/pengasuh boleh menolak kalau dirasa film/permainan/situs berisikan konten yang negatif atau tidak sesuai usia. Jika tiket sudah habis digunakan, maka anak harus menunggu hingga hari pemberian tiket berikutnya. Simpan remote atau beri password sehingga anak tidak bisa mengakses tanpa sepengetahuan orangtua. Dengan strategi ini, anak juga bisa belajar keterampilan perencanaan dan kontrol diri.

Bersih-bersih

Duduk bersama anak dan pilah-pilah games atau apps. Kategorikan ‘bergizi’ dan ‘tidak bergizi’. Bergizi artinya membantu proses berpikir yang lebih kompleks, seperti aplikasi buku cerita dan mengenal huruf/angka. Tidak bergizi contohnya seperti angry birds. Orangtua perlu menjelaskan bahwa limit waktu untuk gamesatau aplikasi ‘tidak bergizi’ lebih sedikit.
Kapan tiga strategi ini bisa diterapkan? Ketika anak sudah punya kemampuan pemahaman bahasa yang baik, bisa terlihat dari kesehariannya apakah ia sudah bisa ikuti instruksi atau merespon pertanyaan. Sebelum itu, maka orangtua yang perlu menetapkan batasan dan menerapkannya dengan konsisten. Misalnya, anak boleh menonton bila makannya habis dan hanya 15 menit. Gunakan alarm untuk menandakan batas waktu tersebut.
Aturan lain yang perlu diperhatikan terkait penggunaan gadget adalah etika. Misalnya, kalau anak sedang menonton atau bermain video games lalu ada tamu datang, ajarkan anak untuk menghentikan sejenak kegiatannya dan menyapa/ memberi salam. Hal-hal ini tampak sederhana. Namun bila tidak diajarkan sejak kecil dapat menjadikan anak pribadi yang tidak acuh pada lingkungan sekitarnya.

2. Pendampingan Orangtua/Pengasuh

Secanggih—canggihnya smartphone tidak akan bisa menjadi pengganti orangtua. Seinteraktif apapun media teknologi, interaksi pertama dan utama yang dibutuhkan oleh anak adalah interaksi dengan orangtua. Anak lebih butuh diajak bermain, dipeluk, dicium, ditatap matanya, dan diajak mengobrol, daripada sekedar diberikan berbagai perangkat teknologi yang canggih. Sebisa mungkin, dampingi anak saat screen time. Studi menunjukkan bahwa anak lebih banyak mendapat kosa kata baru dengan membaca buku bersama orangtua, daripada dari menonton televisi. Dengan pendampingan, orangtua juga jadi dapat mengetahui persis apa yang dilihat/ diakses anak. Hal ini berguna untuk filter konten, dan juga untuk bahan obrolan. Kalau anak celetuk sesuatu yang ia pelajari dari video, orangtua dapat memahami dan menanggapinya.

3. Ratio 1:5

Ratio disini maksudnya antara on screen dan off screen time. Misalnya, untuk 20 menit screen time, harus diimbangi dengan 100 menit kegiatan aktif dan memungkinkan terjadinya interaksi dengan orang lain. Kegiatan ini bisa bermacam-macam: baca buku, main pura-pura, menggambar dengan krayon/cat, main lego, bergerak mengikuti irama lagu, jalan-jalan di taman, membuat adonan tepung, atau lainnya. Berikan stimulasi untuk berbagai aspek perkembangan dan asah semua inderanya melalui permainan sensori. Hal ini dapat menjadi upaya preventif terjadinya gangguan perkembangan maupun gangguan sensori.

4. Jangan Jadikan Teknologi sebagai Solusi

Seringkali, orang tua menjadikan teknologi sebagai solusi. Anak tidak mau makan, dikasih gadget. Anak tidak bisa tidur, dikasih gadget. Anak nangis atau berisik, dikasih gadget. Kalau seperti ini terus menerus, orangtua –dan anak– akan jadi semakin bergantung pada perangkat digital. Orangtua perlu melihat lebih dalam letak masalahnya kenapa anak sampai tidak mau makan, tidak bisa tidur, menangis, atau rewel. Tidak mengapa pula anak sedikit berisik di tempat umum, namanya juga anak-anak. Kita saja yang perlu ajari mereka untuk mengecilkan suara saat berada di dalam ruangan, ini bagian dari keterampilan sosial juga. Jadi tidak perlu sebentar-sebentar dibungkam denngan gadget. Yang terpenting bukan seberapa cepat anak berhenti nangis atau menjadi diam, tetapi bagaimana cara mereka menjadi tenang. Itu yang nantinya berpengaruh pada perkembangan emosi anak.

5. Orang tua pun Perlu Batasi Akses Diri terhadap Teknologi

Anak adalah peniru ulung, dengan model utama adalah orangtua. Kalau orangtua selalu bersinggungan dengan perangkat digital dari bangun pagi hingga tidur malam (entah untuk mencari informasi, mengirim email, membuat laporan, mengunduh lagu, menonton film, bertukar cerita, mengunggah foto, atau bermaingames), sulit rasanya untuk melarang anak. Anak pun bisa merasa terabaikan oleh orang tua, merasa ‘kalah’ oleh tablet/hp yang senantiasa dipegang dan dibawa kemana-mana. Jadi, kalau tidak ingin anak kecanduan teknologi, maka orangtuanya pun perlu membatasi diri.

Link & Resource

Shin, Yee-Jin. 2014. Mendidik Anak di Era Digital: Kiat Menangkal Efek Buruk Teknologi terhadap Anak. Noura Books.
A Practical Guide to Balancing Screen Time and Play Time. 2014.http://www.huffingtonpost.com/2014/01/24/balancing-tech-and-playtime-infographic_n_4653793.html

Artikel diatas ditulis oleh www.rumahdandelion.com, go to their Instagram for more info @rumah.dandelion

No comments

Post a Comment

© Productive Mamas Blog