SLIDER

HANNA SIAHAAN: BUSINESS AND LIFE PARTNERSHIP


‘Productive Mamas of the Week’ kali ini adalah Hanna Siahaan, co-founder dari LinoLuna. LinoLuna adalah online design store yang menjual home decor, paper goods and gifts. Pada kesempatan ini kita akan mengenal lebih jauh mengenai LinoLuna dan juga keseharian Hanna menjadi seorang ibu.


Apa yang mendorong Hanna ingin membangun bisnis sendiri (LinoLuna) ?
Awalnya kami mau isi rumah, sehingga aku dan suami sering hunting barang-barang lucu-lucu dari luar dan juga membuat fabric untuk bantal dan sofa. Akhirnya kami coba printing sendiri, dan ternyata bisa. Karena kebetulan suami juga suka dengan mendekor rumah jadi kami kepikiran untuk membuat bisnis sendiri. 

Anak kami, Abigail lahir pada bulan Maret 2013, lalu di bulan Mei 2013 mulai memikirkan berbagai macam konsep untuk membuat bisnis sendiri dan terpikir nama LinoLuna.LinoLuna sendiri tidak ada artinya, tapi kami memikirkan sesuatu yang netral dan 'ear catchy'. Setelah ada nama, akhirnya Agustus 2013 pertama kali launching produk dan website.

Memang selalu senang dengan home décor specifically?
Basically, I love all things pretty and home décor is one of them. Dan ini juga merupakan common interest aku dan suami.

Bagaimana rasanya kerja bersama suami? Kalau ada konflik bagaimana cara menanggulanginya? Lalu bagaimana cara pembagian pekerjaannya?
Rasanya menyenangkan! Karena suami istri, jadi sudah saling mengerti satu sama lain baik dari segi mood, sifat, dan selera. Disagreement atau konflik bisa dibilang hampir tidak pernah. Aku dan suami punya taste yang sama dari segi kreatif dan kami berdua memang tertarik dalam pengembangan bisnis ini. Kalaupun ada ya, biasanya dibicarakan saja baik-baik lalu diambil jalan tengah. Untuk pembagian kerja, aku bertanggung jawab dalam operasional dan arahan kreatif secara umum. Suami bertanggung jawab dalam urusan pengembangan bisnis dan analisa finansial. 

Selama dari 2013 sampai sekarang menjalankan LinoLuna, apakah pernah merasakan penglaman yang tidak menyenangkan?
Hmm kalau bad experience sih enggak ya. Menjalankan LinoLuna rasanya menantang saja. Menantang dalam arti, kita harus selalu tau dan update dengan demand customer. Misalkan pertama kali kita masukkan barang dengan pattern dan brand tertentu hypenya heboh banget. Tapi ketika ke-2 kali kita bawa ke Indo lagi,  tidak seheboh yang pertama. Benar-benar tricky sih customer demand. Kami tidak pernah bisa menebak selera orang seperti apa, jadi mesti selalu research dan cari barang yang menarik terus menerus. Menantang tapi menyenangkan.

Sebelum ini apakah sudah pernah kerja kantoran atau bisnis sendiri?
Kalau kerja kantoran belum pernah. Aku S1 ITB Teknik Kimia dan sempat S2 juga Teknik Kimia di luar negeri. Tapi ternyata bukan anak teknik banget. Jiwanya memang tidak ada di situ. Pas menikah dan apalagi sudah punya anak, merasa kurang cocok kerja kantoran. Aku coba mencari-cari aktivitas yang waktunya lebih flexible.

Sempat jualan baju juga sama teman, tapi hanya bertahan 6 bulan. Karena tiba-tiba hamil, dan teman juga kerjanya full time, sehingga gak kepegang.

Waktu itu apa berjualan di Instagram juga?
Waktu itu belum ada Instagram sehingga pakai website, hanya sampai 2 koleksi terus kami sama-sama memutuskan untuk berhenti. Menarik sih dengan berkembangnya social media seperti Instagram itu sangat memudahkan semua orang yang ingin membuat bisnis baru, tapi juga semakin banyak competitor karena semua orang bisa dengan mudah membuat bisnis sendiri.


Kalau sekarang-kan tidak ada nanny nih, bagaimana cara membagi waktu antara anak, blogging, dan menjalankan bisnis?
Karena bisnis ini berdua dengan suami, enaknya suami juga banyak bisa handle. Kebetulan pekerjaan suamiku 2 minggu di field dan 2 minggu di rumah itu off.  Kalau sudah selesai jam kerja di field bisa mengerjakan macam-macam juga dan kalau suami lagi off akupun jadi lebih banyak yang bisa dikerjakan. Kalau bazaar juga aku ambil kalau suami sedang off, jadi bisa bergantian jaga booth dan jaga Abigail.

Kalau 2 minggu saat suami sedang di field, aku banyak kerja saat Abigail sudah tidur. Kebetulan Abigail sudah tidur jam 7.30-8.00 kalau malam, jadi setelah itu aku banyak waktu luang. Kalau siang tidurnya sih tidak terlalu lama.

Biasanya ibu yang tidak memiliki bantuan nanny, lebih sering merasakan baby blues, setuju gak sih dengan pernyataan itu dan apa pernah merasa begitu?
Ada masa-masanya memang pusing, tapi namanya juga mengurus anak ya gak mungkin senang-senang terus. Biasanya kalau Abigail sudah tantrum dan suami lagi di field sih yang paling berat. Tapi pengalaman itu mengajarkan aku untuk lebih bersabar dan mengalah. Tidak sampai baby blues yang berkepanjangan, karena kalau sudah selesai tantrum dia kembali seperti biasanya lagi, aku juga kembali tenang.  Selain itu, aku juga banyak menyibukkan diri dengan hobi.


Apa saja hobinya, dan belajar dimana saja? Kalau lihat dari Instagram, kelihatanya seru-seru sekali..
Aku senang crafting, seperti merajut dan menjahit. Untuk menjahit aku pernah belajar pattern drafting di salah satu sekolah fashion di Jakarta selama sebulan, saat sebelum hamil. Tapi untuk photography dan merajut aku belajar dengan browsing dan baca buku saja. Aku rasa “me-time” itu sangat penting dalam menjadi seorang ibu. Me-time aku ya dengan melakukan berbagai macam hobi tersebut.


Instagram: @hannasiahaan

2 comments

  1. Website ini kereeen, bermanfaat banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih banyak ya mbak! Senang sekali dengarnya. Bikin semangat! Semoga bisa terus bermanfaat :)

      Delete

© Productive Mamas Blog